Jangan rusak kebahagiaan orang lain dengan kata maaf kalian

Ada beberapa tipe orang yang menjengkelkan bagi saya dan salah satunya adalah orang yang sangat sering meminta maaf untuk kesalahan yang tidak mereka perbuat. Saya tidak mengerti alasan pastinya, tapi jika kalian yang seperti itu menganggap jika tindakan itu membuat kalian jadi orang baik (ya Tuhan, tolong sadarkan mereka!), saya sarankan kalian untuk berhenti melakukannya mulai sekarang. It doesn’t make you a good person if you say sorry (even million times) for the mistake that you’re not doing, I’m telling you.

Orang-orang seperti itu bahkan menyebalkan menurut saya.

Jika kalian tidak merasa melakukan kesalahan, tolong simpan saja kata maaf kalian. Permintaan maaf yang saya kadang tidak tahu alasannya adalah hal menjengkelkan yang membuat saya malah merasa jadi orang jahat. Bagaimana kita bisa memaafkan jika kesalahannya saja kita tak tahu? Atau lebih menjengkelkan lagi adalah ketika seseorang merasa telah melakukan kesalahan terhadap orang lain padahal hal itu malah sama sekali bukan masalah bagi orang lain tersebut.

Tolong berhenti meminta maaf jika kalian tidak benar-benar tahu kesalahan kalian. Bukannya terlihat baik, kalian malah membuat si penerima maaf merasa dirinya buruk karena membuat kalian merasa buruk sampai-sampai meminta maaf. Got what I mean?

Hari ini (oh, tepatnya kemarin) saya merasa buruk karena merasa bersalah telah membuat seseorang yang saya sayangi sampai meminta maaf. Padahal bagi saya orang tersebut tidak melakukan kesalahan sama sekali. Lebih buruknya lagi, hal tersebut membuat saya bersedih karena merasa sudah melukai orang yang saya sayangi (si peminta maaf). Yang lalu membuat saya berpikir, mungkinkah perkataan saya yang salah sehingga membuat dia merasa bersalah seperti itu? Which then ended up with me blaming myself.

Sensitivitas, biasanya menjadi akar dari perasaan bersalah yang kemudian mendorong seseorang untuk meminta maaf. Put your sensitivity out of here, please. Tidak menyenangkan sama sekali mendengar perkataan maaf (setidaknya bagi saya) dari kesalahan yang bahkan benar-benar kalian lakukan. Karena bukankah terkadang kalian yang bilang sendiri,

“Kamu nggak minta maaf juga udah aku maafin kok.”

Dan kejadian itu menyadarkan saya bahwa meminta maaf untuk kesalahan yang tidak seorang perbuat adalah salah satu tindakan menularkan perasaan negatif which then ruin my happiness project.

Beberapa orang mungkin akan berfikir, bukannya mudah untuk langsung memaafkannya saja? Dan memang benar. Mudah saja jika kita langsung memaafkan mereka. Lagipula itu bukan hal sulit. Tapi memaafkan kesalahan yang bahkan kita rasa orang tersebut tidak melakukannya? Bukankah hal itu malah membuat kalian merasa bersalah terhadap si peminta maaf? Ibarat seseorang meminta maaf karena mencuri, padahal dia sama sekali tidak mencuri. Bukankah tidak adil?

Jangan mengobral maaf kalian

Setidaknya jika kalian tidak merasa benar-benar melakukan kesalahan, jangan umbar kata maaf yang kalian punya. Saya bukannya mengatakan jika meminta maaf itu buruk. Meminta maaf bagi saya juga merupakan keharusan jika saya benar-benar melakukan kesalahan. Tapi setidaknya tempatkanlah kata maaf pada kesalahan yang tepat yang benar-benar kalian lakukan. Jangan merusak kebahagiaan orang lain dengan membuatnya merasa bersalah karena maaf yang kalian tempatkan sembarangan. (:


NB!
Saya juga meminta maaf jika ada beberapa pihak yang merasa terluka dengan tulisan ini. Tulisan ini pure merupakan opini pribadi dan tidak harus kalian ikuti jika merasa tulisan ini bertolak belakang dengan opini kalian.

Bahagia dengan menjadi evangelist diri sendiri

who-am-iI’m a strong believer, jika setiap orang haruslah menjadi evangelist atas dirinya sendiri. Maksudnya, dialah yang seharusnya paling tau tentang dirinya sendiri. Tapi proses mengenali diri sendiri tidaklah semudah membaca wikipedia untuk mengenal pengertian tentang suatu hal. Karena manusia ternyata lebih kompleks dari sistem yang bahkan sulit untuk dimengerti teorinya.

Setelah beberapa waktu ini saya berusaha lebih mindful akan kehidupan saya, saya akhirnya baru menyadari beberapa hal tentang diri saya sendiri. Perlahan, saya pun sadar bahwa manusia bukanlah mahluk mutlak. We are the sea of possibilities. Untuk mengurangi possibilities yang sering membuat kita gamang itulah kita memerlukan self-discovery. Karena meskipun manusia tidaklah mutlak, namun masing-masing dari kita pasti memiliki preferensi atau kecenderungan tersendiri.

Pernahkah kalian tak tahu harus bagaimana bersikap dengan orang lain karena tidak begitu mengenalnya? Sama juga kasusnya dengan diri kita sendiri. Kita akan kebingungan untuk membuat keputusan jika kita sendiri belum mengenal diri kita secara utuh.

Sebagai langkah awal, mungkin ada baiknya jika kita mengenal tipe intelejensi diri kita sendiri. Teori seorang psikolog bernama Howard Gardner di sebuah buku keluaran tahun 1983, Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences mungkin bisa menjadi sedikit referensi dalam menganalisa potensi diri kalian masing-masing. Dalam bukunya tersebut, Gardner membedakan intelejensi manusia menjadi 9 tipe yaitu naturalistic, musical, logical-mathematical, existential, interpersonal, bodily-kinesthetic, linguistic, intra-personal, dan spatial intelligence. Lebih lengkapnya lagi, kalian bisa membacanya disini.

Kemungkinannya adalah, ada beberapa orang yang akan menemukan dirinya cocok dengan beberapa tipe intelejensi seperti yang saya alami. Hal tersebut membuktikan bahwa manusia bukanlah mahluk mutlak yang bisa ditemukan jawaban pastinya seperti soal matematika. Self-discovery adalah perjalanan panjang yang tidak pernah usai jika kita memang sunguh-sungguh ingin mengerti diri kita sendiri.

Self discovery is a journey to solve a never-ending puzzle.

Self-discovery ibarat proses untuk menyusun sebuah gigantic puzzle yang memiliki banyak gambar dan tak akan pernah usai jika kita susun. Ketika kita berhasil menyusun beberapa keping puzzle dan sebuah gambar mulai terlihat dari situ, tetap saja ada bagian lain yang perlu kita susun. Itu sebabnya, tak perlu cemas jika belum menemukan gambar apapun dari puzzle yang kalian susun karena the game has no ending. Take your time dan tetaplah berbahagia selagi menyusun kepingan puzzle tersebut karena the joy is in the process.

Seorang evangelist atas dirinya sendiri paling tidak sudah berhasil menemukan beberapa gambar dari puzzle yang ia susun. Itulah yang saya sebut sebagai self-discovery. Menemukan gambar demi gambar dari puzzle dirinya sendiri.

Jika kita membahas self-discovery lebih lanjut maka perbincangan akan menjadi sangat panjang karena ini akan meliputi belief, passion, values, dan hal lain yang subjektif dan memerlukan deep analyze terhadap diri sendiri. Intinya, jika kita tidak ingin terus gamang dengan berbagai possibilities, maka self discovery bukan lagi sebuah sunnah melainkan fardlu yang harus dilakukan setiap orang.


 

Sudah menemukan berapa gambar dari puzzle yang kalian susun? ((:

Foto : http://weheartit.com/HiMyNameIsSara

Menjaga keselamatan anak dan remaja di ranah maya

kids and smartphonePemberitaan di televisi tentang penculikan gara-gara facebook, pelecehan seksual gara-gara menonton video di internet, ataupun anak-anak yang sekolahnya jadi terganggu karena kecanduan main game online, membuat citra internet menjadi negatif di kalangan orang tua. Terlebih bagi orang tua yang tidak memiliki pemahaman terhadap internet.

Padahal jika digunakan dengan bijak internet merupakan salah satu resource besar yang bisa digunakan sebagai sumber pengetahuan serta bisa mempermudah kehidupan manusia. Kebutaan para orang tua akan dunia maya atau internet justru merupakan salah satu faktor utama mengapa internet dicap negatif.

Salah satu iklan komersial baru-baru ini bahkan mengangkat fenomena kebutaan orang tua terhadap internet dengan konyol dimana seorang ayah salah menangkap jika nama teman anaknya adalah “efbi”. Padahal maksudnya, teman tersebut adalah teman facebook anaknya. Hal ini menunjukan bahwa untuk bisa menjaga dan mengawasi perilaku anak di dunia maya, orang tua harus lebih dulu aware terhadap internet (atau istilahnya, melek internet).

Jika ingin benar-benar menjaga anak-anak dari sisi negatif internet, maka sudah sepatutnya orang tua yang menjelaskan sendiri bagaimana menggunakan internet dengan baik. Jangan sampai anak-anak hanya tau internet untuk bermain game dan media sosial saja. Booklet internet sehat dari internet sehat mungkin bisa menjadi salah satu pedoman bagi para orang tua untuk mengenalkan internet ke anak-anaknya.

Salah satu cara lain untuk mengawasi penggunaan internet anak-anak bagi para orang tua mungkin adalah dengan memanfaatkan berbagai tools yang sudah banyak tersedia sekarang ini. Berikut saya akan membagikan beberapa pengaya (add-ons) pada browser Firefox yang bisa digunakan orang tua untuk membatasi gerak-gerik anaknya agar tetap aman selama berselancar di internet :

  • Google.COM NO PORN. Pengaya ini dugunakan untuk menghilangkan situs yang berhubungan dengan pornografi pada hasil pencarian google.com.
  • Anti-Porn Pro. Pengaya yang bisa Anda gunakan untuk memblok situs sehingga situs tersebut tidak dapat diakses.
  • Screen Time. Screen time adalah pengaya yang bisa digunakan untuk membatasi waktu anak selama menggunakan komputer (khususnya internet).

Terlepas dari tools apapun yang saya jelaskan di atas, yang paling penting adalah menanamkan nilai-nilai dasar kehidupan dan agama pada anak-anak sedini mungkin. Sehingga kelak jika dia berhadapan dengan konten yang kurang baik di dunia maya, anak-anak akan tahu sendiri untuk menghindari konten tersebut.

Menjadi lebih bahagia dengan memisahkan pikiran

hiking-man-mountains-2967-977x550Akhir-akhir ini saya sedang mengintai pikiran saya sendiri. Dibalik pendiamnya saya, ternyata pikiran saya sangatlah ribut dan tak pernah mau diam. Untuk menulis tulisan ini pun saya harus melakukan pemanasan dulu untuk memfokuskan pikiran saya sendiri. Apakah kalian pernah merasakan hal yang sama? Memikirkan terlalu banyak hal yang berimbas kita jadi kehilangan fokus? What happen in our brain, really?

Baru-baru ini saya membaca sebuah e-book menarik yang ditulis Mark Manson. Lewat buku tersebut saya mengenal konsep “The two minds”. Lalu apakah The Two Minds itu?

Untuk memahami konsep The Two Minds, coba pejamkan mata kalian dan berusahalah untuk tidak memikirkan apapun selama 30 detik. Setelah itu, lakukan hal itu lagi untuk kedua kalinya namun kali ini cobalah untuk mengenali pikiran apa yang muncul saat kalian mencoba untuk mengosongkan pikiran kalian dan coba hilangkan pikiran tersebut.

Sudah mencobanya? Jika sudah kemungkinannya adalah saat kalian mencoba untuk mengosongkan pikiran, berbagai macam pikiran malah muncul di otak kalian. Entah itu memikirkan sosok seseorang, atau memikirkan penyesalan tentang suatu hal, dll. Namun sadarkah kalian, bahwa saat pikiran kalian sedang memikirkan sesuatu, pikiran yang lain bisa mengenali apa yang sedang kalian pikirkan di waktu yang sama? Di percobaan kedua saat suatu pemikiran muncul di otak kalian, bagian lain dari pikiran kalian sadar bahwa kalian sedang memikirkan hal tersebut dan mencoba untuk menghilangkan pemikiran tersebut. That’s what we called as The Two Minds. Dalam Zen, mereka menyebutnya sebagai “The Thinking Mind” dan “The Observing Mind”.

It was your mind watching your mind.

The Thinking Mind adalah bagian dari pikiran kita yang terus bekerja memikirkan hal satu demi lainnya. Sedangkan Observing Mind adalah bagian dari pikiran kita yang mengawasi Thinking Mind. Dan saat kita tidak menggunakan Observing Mind yang kita miliki, maka Thinking Mind akan mengambil alih dan menenggelamkan kita pada hal yang sedang dipikirkan oleh Thinking Mind.

Banyak orang yang mengaku sulit menguasai pikirannya sendiri yang lalu menyebabkan timbulnya stress. Most of the time, itu disebabkan karena kita tidak bisa memisahkan Thinking Mind dan Observing Mind yang kita miliki. Mereka bergabung tanpa kita menyadarinya.

Walaupun secara umum kita tidak bisa mengendalikan pikiran, namun paling tidak kita masih bisa mengendalikan Observing Mind yang kita miliki. Caranya? Kenali pikiranmu sendiri. Saat bertemu hal yang memicu emosi negatif, cobalah kenali apa yang terjadi di pikiran (Thinking Mind) kalian dan jangan biarkan pikiran itu mengontrol emosi kalian. Biarkan pikiran kalian mengetahui jika kalian sedang merasakannya, namun jangan biarkan perasaan itu mengontrol emosi kalian.

Contohnya, saat mengalami suatu kejadian yang membuat kita marah, rasakan penyebabnya (which is popping up in our mind) lalu analisa pikiran tersebut. Biarkan kita menyadari penyebab kemarahan kita yang muncul dalam pikiran (Thinking Mind) kita, namun jangan biarkan Thinking Mind mendominasi otak kita. Daripada menyebutkan jika “kita marah”, lebih baik menyebutkan bahwa “kita sedang merasakan kemarahan”. Teknik ini bukanlah untuk menyingkirkan kemarahan, namun untuk melatih diri kita menerima keadaan tersebut tanpa membuatnya mengganggu emosi kita.

Memisahkan Thinking Mind dan Observing Mind membantu kita mengurangi stress yang disebabkan pikiran yang tidak terkontrol. Walaupun untuk menjadikannya kebiasaan akan memerlukan waktu dan proses. Namun setelah kalian terbiasa memisahkan dua pikiran tersebut, akan lebih mudah untuk merasakan kebahagiaan karena kita akan terbebas dari emosi negatif.


Jika ingin berdiskusi lebih lanjut tentang topik The Two Minds ini, isi saja kolom comment di bawah atau mention saya lewat twitter!

Selamat memisahkan pikiran dan menjadi lebih bahagia! (:

Random Update

Some people tend to be happier when they surrounded by people. Tapi akhir-akhir ini saya lagi introvert-mode banget sedangkan jadwal maksain buat ketemu banyak orang. Jadi tambah pusing lah saya. Ditambah akhir-akhir ini badan lagi kurang bersahabat, jadi rasanya pengen lying down aja di rumah. That’s why ini blog jadi jarang diupdate juga dari kemaren.

To think about it, saya pikir jujur ke badan sendiri itu lebih baik daripada maksain buat produktif ya. Akhir-akhir ini saya juga lagi banyak kepikiran tentang produktivitas. Gimana dulu saya selalu ngerasa bersalah kalo nggak ngelakuin apa-apa because I enjoy being busy. Orang-orang nyampe selalu ngingetin saya buat istirahat karena saya keliatan aktif banget. Tapi buktinya saya selalu sehat sesibuk apapun.

Sekarang giliran saya lagi enjoy nggak ngelakuin banyak hal, lha kok malah jadi sering sakit. Haha. Lucu juga sih, salah satu temen kos saya malah bilang badan saya mungkin semacem jetlag. Biasa sibuk tapi sekarang selo. Haha.

But anyway, dibalik itu semua, kiki ya tetep kiki yang selalu punya sesuatu buat dilakuin. Dan akhir-akhir ini saya lagi riset kecil2an buat next project saya nih. Kalo kalian ada waktu boleh dong, ikutan ngisi kuisioner ini. Sebelumnya makasih banyak ya! ^^

Ngomong-ngomong, ada yang kangen Pudee nggak sih? Kemaren-kemaren ini kan saya baru baca artikel menarik tentang anjing+produktivitas (yang mau baca boleh disimak disini ya). Gara-gara itu jadilah saya keinget Pudee yang udah lama saya anggurin di atas lemari. Jadi pagi itu kita foto-fotoin Pudee dong. Dia masih tetep imut kan? :D

IMG_20141124_105844Anyway, ngomongin tentang kesukaan saya juga lagi suka banget nih sama kota Bandung. Baru 2 kali ke Bandung tapi rasanya pengen balik lagi terus kesono. The weather, the scenery, the places, the people. Jatuh cinta dah saya sama kota Bandung. ^^

trans-studio-bandungDan ini dia foto yang saya ambil kemaren pas di Bandung versi Semarang (alias Bandungan) :p. Nggak se-ngebetahin Kota Bandung tapi cukup dingin lah buat ngadem dari panasnya Semarang.

treeIMG_20141124_110858Last picture, sneak peek of my upcoming post. I’ll be sharing about happiness chain on my medium next Sunday. Look forward it yah! (;

#ForwardYourHappinessHappy Monday, folks! ((:

5 e-book inspiratif yang harus kalian baca akhir pekan nanti

kindleBaru-baru ini setelah memasuki semester 7 perkuliahan, saya melakukan beberapa perubahan kebiasaan karena memiliki waktu luang yang lebih panjang. Dan salah satunya adalah kebiasaan membaca.

Biasanya saya hanya rutin membaca beberapa artikel menarik yang saya simpan di aplikasi Pocket (my most favorite app ever!). Namun dengan lebih banyaknya waktu luang yang saya miliki di semester ini (how awesome is that!), saya jadi memiliki lebih banyak waktu untuk membaca berbagai e-book menarik yang banyak menginspirasi saya. 5 diantaranya adalah yang akan saya bagikan berikut ini:

It’s not technology we should be afraid of. It’s a life where we’re always connected, always interrupted, always distracted, always bombarded with information and request. It’s a life where we have no time to create, or connect with real people. — Leo Babauta

E-book yang sangat saya rekomendasikan jika keseharian kalian berkaitan erat dengan teknologi. Era digital sekarang ini membuat kita lantas bagaikan kebanjiran informasi yang menuntut untuk dikonsumsi. Fokus, menjadi tantangan tersendiri ditengah arus informasi digital seperti sekarang ini. Ohya, e-book ini mungkin akan sangat bermanfaat bagi para pengidap Nomophobia yang ingin menyembuhkan ketergantungannya pada gadget. Leo akan membantu kalian mengidentifikasi pemicu ketergantungan tersebut, serta memberikan beberapa solusi untuk mengatasi ketakutan akan ketinggalan informasi atau berbagai kesempatan saat kalian berpisah dari gadget kesayangan.

Atau jika sedang tertarik untuk meminimalisir berbagai hal di kehidupan kalian seperti yang saya tuliskan disini, Leo juga memberikan beberapa kiat meminimalisir hal-hal yang akan berpengaruh ke produktivitas kita. E-book ini akan sangat bermanfaat jika kalian adalah tipe maker yang bersusah payah mengatur waktunya untuk berkarya. One of my life-changing e-books. (:

Another highly recommended e-book. Yang ini sebenarnya sudah lama saya baca. Isinya tentang bagaimana membentuk kebiasaan baru untuk membentuk kehidupan yang lebih baik. Memulai kebiasaan baru bukanlah hal yang mudah. Namun James memberikan berbagai kiat yang bisa membantu kita memulai sendiri kebiasaan baru yang kita inginkan dengan lebih mudah.

Lewat buku inilah saya tahu bahwa goal dan deadline itu percuma jika kita tidak melakukan action melalui kebiasaan yang kita lakukan setiap hari. Juga konsep 3 R’s of Habit Change yang luar biasa menginspirasi. Buku inilah alasan saya mengidolakan James Clear sampai sekarang. Another life-changing ebook for me. (:

Ebook yang akan sangat bermanfaat jika kalian ingin menemukan apa yang benar-benar kalian inginkan di kehidupan ini. Danielle mengulasnya dengan gaya seorang filsuf. It was beautifully written sehingga kita harus benar-benar meresapinya untuk bisa menemukan arah setelah membaca “peta” ini.

Saya sendiri sebenarnya belum menyelesaikan e-book ini. Butuh lebih banyak konsentrasi untuk membaca karya seorang Danielle Laporte. Tapi jika kalian tertarik untuk mendapatkan beberapa inspirasi menarik lainnya dari Danielle, #Truthbombs nya saja sudah cukup menginspirasi. Kalian juga bisa membaca banyak artikel menarik di situsnya.

Lagi-lagi jika kalian adalah tipe maker, maka setelah menentukan fokus melalui e-book Leo Babauta kalian juga akan membutuhkan kreativitas. Dan e-book ini tepat sekali untuk kalian baca. Disini James Clear berbagi berbagai kisah inspiratif yang berhubungan dengan kreativitas dari beberapa tokoh inspiratif lainnya. Dia juga memberikan berbagai kiat untuk terus berkarya meskipun sibuk ataupun memiliki keterbatasan lain.

Sebuah kisah menarik tentang bagaimana seorang pemuda hidup dari kreatifitasnya. Jason Surfapp sempat dijuluki sebagai T-shirt guy karena bisnis uniknya I Wear Your Shirt. Nama belakangnya yang sekarang bahkan ia peroleh setelah melelang nama belakangnya lewat sebuah proyek, BuyMyLastName. One of the most creative guy I’ve ever known.


Dari 5 e-book tersebut beberapa diantaranya bisa kalian unduh secara cuma-cuma dan beberapa ada pula yang menyediakan versi berbayar. Tapi untuk versi yang versi berbayar, kebanyakan sudah menyediakan versi preview yang bisa kalian unduh secara gratis kok. Silakan membeli atau mengunduh dan jangan lupa luangkan waktu untuk membacanya juga ya!

Ohya, jika kalian punya rekomendasi e-book lain yang menarik, saya akan senang sekali mendengar rekomendasi dari kalian. Jika kalian mau berbagi, mention saya lewat twitter ya! (:

Selamat membaca dan jangan lupa sebarkan ilmunya ke teman-temanmu yang lain! (:

 

Bahagia selagi berproses

141H-resizeSaya yakin semua orang ingin bahagia. Masalahnya, standar kebahagiaan tiap orang berbeda satu sama lain. Ada yang kebahagiaannya mudah dipicu hanya dengan satu lemparan senyum atau pujian. Namun ada juga yang meskipun sudah memiliki kehidupan yang dianggap menyenangkan oleh yang lain, dirinya sendiri malah masih merasa kurang bahagia.

Masalah kembali muncul, ketika kebahagian di zaman sekarang bersinggungan dengan berbagai hal lain yang lebih luas. Contohnya saja, kebahagiaan ternyata berkaitan erat dengan bagaimana cara kita mengembangkan diri. Sadar atau tidak, cara diri kita berproses dalam mengembangkan diri sendiri juga mempengaruhi kebahagiaan. Mari saya jelaskan alasannya.

Jika kalian adalah orang yang ingin berkembang, pastilah kalian melakukan sesuatu untuk mengembangkan diri. Namun ketika di tengah perjalanan mengembangkan diri sendiri, kita melihat orang lain baru saja mencapai sesuatu yang spesial, maka biasanya sulit untuk memandang diri sendiri dengan pandangan yang sama lagi. Kebahagiaan kita pun sedikit tergoyahkan karena hal ini. Kita menjadi lebih cemas dari pada biasanya.

Hal itu disebabkan karena orientasi pengembangan diri kita selama ini adalah untuk mencapai tujuan menjadi “orang spesial”. Kita terburu-buru mempersiapkan diri kita untuk sejajar dengan “orang spesial” yang lain. Sehingga saat kita merasa orang lain sudah lebih dulu memenuhi standar untuk menjadi orang spesial, kita jadi merasa tertinggal.

Henry Kang, dalam artikelnya yang dimuat di Huffington Post mengatakan bahwa jaman sekarang banyak orang seakan berlomba ingin menjadi orang spesial. Karena menjadi orang spesial menjanjikan berbagai kebanggaan dan berbagai perasaan menyenangkan lainnya.

Menurut saya, permasalahannya bukan pada keinginan untuk menjadi spesial. Namun karena kita menginginkan kebahagiaan dari penghargaan, pujian, dan hal-hal lain yang kita dapatkan setelah menjadi orang spesial tadi. Tanpa kita sadari, kita mengembangkan diri selama ini dengan dihantui alasan karena menginginkan standar kebahagiaan orang lain untuk kita rasakan sendiri.

Karena begitu terlena membayangkan bagaimana bahagianya kita mencapai kebahagiaan orang lain, kita jadi lupa pada sesuatu yang sebenarnya membuat kita bahagia. Fokus kita tergoyahkan karena melihat orang lain merasa bahagia dengan suatu pencapaian yang spesial sehingga kita ingin mencapai hal itu juga. Kita ‘ikut-ikutan’ ingin menjadi spesial.

Seharusnya kita memiliki standar kebahagiaan masing-masing, sehingga kebahagiaan orang lain tidak lagi menjadi hal yang mempengaruhi kebahagiaan kita.

Tidak dipungkiri saya juga pernah ingin menjadi seseorang yang spesial seperti beberapa role-model saya. Namun setelah dipikir kembali, bukan menjadi “spesial” lah yang sebenarnya saya inginkan. Karena menjadi spesial hanya bonus setelah kita mencapai suatu tujuan. Ada alasan lain yang mendasari seseorang mendapatkan predikat “spesial”. Alasan itulah yang seharusnya masing-masing dari kita miliki.

Terlepas dari semua itu, tetaplah miliki keinginan untuk menjadi spesial karena hal itu baik untuk dijadikan motivasi. Namun milikilah keinginan itu bukan karena ingin mendengar pujian bahwa kalian “spesial”. Namun karena ingin tujuan dibalik menjadi “orang spesial” itu tercapai sehingga kalian bisa melakukan lebih banyak hal baik lagi setelah mendapatkan predikat spesial tadi.

Selamat berproses dan jangan lupa untuk tetap bahagia selagi menjalaninya! (:


Versi bahasa Inggrisnya bisa kalian baca disini. (:

Correction

Asumsi saya pada artikel ini yang menuliskan bahwa semua manusia adalah orang baik akhirnya terbukti salah.

An nisa : 118

Yang dilaknati Allah dan setan itu mengatakan, “Aku pasti akan mengambil bagian tertentu dari hamba-hamba-Mu[18],
• See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/01/tafsir-nisa-ayat-113-121.html#sthash.jNLTK19a.dpuf

[18] Pada setiap manusia ada potensi untuk baik dan ada potensi untuk jahat, setan akan mempergunakan potensi untuk jahat dalam mencelakakan manusia. Ada pula yang mengatakan bahwa maksudnya, setan yang terlaknat ini mengetahui bahwa dirinya tidak mampu menyesatkan semua hamba Allah, dan bahwa mereka tidak berkuasa apa-apa terhadap hamba-hamba Allah yang ikhlas, dia hanyalah berkuasa terhadap orang-orang yang menjadikannya sebagai kawannya, menaatinya dan meninggalkan ketaatan Ar Rahman. Setan mengambil bagian mereka, dia akan menyesatkan mereka dari jalan yang lurus; baik sesat dalam hal ilmu maupun amal. – See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/01/tafsir-nisa-ayat-113-121.html#sthash.jNLTK19a.dpuf

Sekarang saya tahu, disamping tidak menghiraukan hati nuraninya, setan lah yang menggunakan potensi jahat pada manusia untuk mencelakainya.

Happiness at the misfortune of others

schadenfreude“Eh, canda deng!” adalah kamuflase yang sering orang katakan untuk menutupi kritik yang sebenarnya ingin dia sampaikan. Kita umumnya belum benar-benar terbiasa dengan kritik secara langsung sehingga menyampaikannya lewat lelucon atau candaan biasanya dijadikan andalan untuk menyampaikan suatu hal.

There is a little truth behind every just kidding.

Dari jaman SMA, saya dan seorang teman baik sama-sama percaya quote diatas. Sejak mengenal quote tersebut, kami jadi sering mengamati lelucon yang biasa disampaikan di kelas. Dan semakin mengamati, semakin kami sadar bahwa memang selalu ada kebenaran tersembunyi setiap seseorang melemparkan candaan.

But for me personally, karena berhubungan dengan fakta, lelucon tentang seseorang somehow jadi sesuatu yang sensitif. Itu sebabnya saya kurang menyukai acara televisi yang isinya ejekan antar pemainnya. Because, what’s good about joking someone else’s life btw?

Let me tell you about this. Dengan terbiasa mendapat hiburan dari lelucon saling mengejek, sadar atau tidak sadar kita jadi terbiasa menikmati kemalangan orang lain. Which is indirectly, it lead us to schadenfreude.

Schadenfreude adalah rasa senang yang muncul karena kemalangan orang lain. Semacam perasaan sukacita atau kesenangan saat melihat orang lain mengalami kemalangan. Seorang filsuf bernama Arthur Schopenhauer bahkan mengatakan schadenfreude sebagai salah satu dosa terjahat dari perasaan manusia.

To feel envy is human, to savor schadenfreude is diabolic. – Arthur Schopenhauer

Menurut penelitian, schadenfreude banyak didasari oleh social comparison theory, yaitu gagasan bahwa saat kita melihat orang lain mendapatkan kemalangan, kita cenderung menilai diri sendiri lebih baik. Penelitian lain menunjukan bahwa orang dengan low self-esteem, lebih rentan untuk merasakan schadenfreude dibanding seseorang dengan high self-esteem (untuk mendapat penjelasan lebih lengkap tentang self-esteem, kamu mungkin perlu membaca artikel ini).

Meskipun schadenfreude bukanlah bentuk dari kebencian, namun tetap saja menertawakan kemalangan orang lain bukanlah hal yang begitu baik. Sebuah studi dengan teknik brain-scanning menunjukan bahwa schadenfreude berhubungan dengan perasaan iri.  Sebuah penelitian lain di tahun 2009 mengindikasi bahwa hormon oksitosin terlibat dalam merasakan schadenfreude. Menurut penelitian tersebut, dilaporkan bahwa saat peserta sebuah game (yang diadu melawan seorang peserta yang dianggap arogan) menghirup oksitosin melalui hidung, perasaan schadenfreude mereka cenderung meningkat saat lawan mereka kalah. Begitu pula perasaan iri juga meningkat saat lawan mereka menang.

Mungkin kalian juga merasa pernah mengalami schadenfreude. Namun jangan merasa bersalah dulu.Menurut seorang ahli psikologi bernama Richard Smith dalam bukunya The Joy of Pain, schadenfreude adalah perasaan yang dimiliki semua orang meskipun kita tidak suka untuk mengakuinya. Sebuah penelitian baru-baru ini bahkan menunjukan bahwa perilaku schadenfreude dimulai dari masa kanak-kanak. Anak-anak biasanya menunjukan tanda-tanda schadenfreude saat ia kehilangan perhatian dari ibunya. Rasa iri dan cemburu adalah hal-hal yang erat kaitannya dengan schadenfreude. Dan anak-anak sangat mungkin untuk merasakan perasaan itu. Contohnya, saat anak-anak merasa cemburu ketika ibunya memberikan perhatiannya kepada hal lain, mereka cenderung merasa senang saat melakukan kenakalan seperti menumpahkan minumannya ke buku.

Istilah schadenfreude sendiri mulai dikenal melalui tayangan The Simpsons. Pada tahun 2003 bahkan ada sebuah lagu dari Sesame Street yang menggambarkan schadenfreude sebagai istilah Jerman untuk ‘happiness at the misfortune of others’. Di lagu tersebut schadenfreude juga digambarkan sebagai “people taking pleasure in your pain” dan “making me feel glad that I’m not you”.

Menurut sebuah artikel, sebenarnya tidak ada cara untuk menghilangkan perasaan bahagia karena ketidakberuntungan orang lain. Sebab perasaan itu merupakan emosi dasar yang tidak dapat dihilangkan. Namun dengan mengasah rasa simpati, kita bisa mengurangi perasaan schadefreude secara perlahan. Try to stand on other people’s shoe. Terutama saat orang lain berada dalam situasi buruk. Tanyakan pada diri sendiri, apa yang akan kita lakukan jika hal tersebut terjadi pada diri kita sendiri? Dengan berlatih memposisikan diri sebagai orang lain, kita dapat memupuk perasaan belas kasih dan mengurangi perasaan schadenfreude.

Foto : https://www.sciencenews.org/

The art of giving and receive compliment

“Learn to compliment others when deserved. Not only it makes other people happy, it shows that we are happy for other people’s happiness.”
- Diana Rikasari -

Selama proses mempelajari kebahagiaan, saya perlahan menyadari jika pujian bisa sangat berkaitan dengan tingkat kebahagiaan seseorang. Pujian memberikan semacam stimulus positif bukan hanya ke si penerima, namun juga ke pemberi. Seperti quote dari salah satu blogger favorit saya di atas. (:

Memuji seseorang bisa menjadikan hari seseorang jadi lebih baik. Mendapatkan pujian juga bisa meningkatkan kepercayaan diri seseorang. Mereka yang dipuji jadi lebih merasa jika mereka dihargai, diakui dan diapresiasi. Seorang ahli psikologi bernama Kendra Cherry mengatakan di sebuah artikel, bahwa pujian merupakan salah satu bentuk positive reinforcement.

In each of these situations, the reinforcement is an additional stimulus occurring after the behavior that increases the likelihood that the behavior will occur again in the future.- Kendra Cherry

Itu tadi tentang mendapatkan pujian. Lalu bagaimana dengan memberikan pujian? Bagi sebagian orang, memberikan pujian bukanlah hal yang mudah. Namun bagi sebagian lain yang murah pujian, mereka bahkan dianggap “gombal” ketika memberikan pujian.

largelMaka dari itu, kita perlu mempelajari The art of Compliment. Baik dalam memberi, maupun dalam menerima pujian. Karena kedua-duanya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sosial kita sehari-hari.

How to give compliment

Sulit memberikan pujian berkaitan dengan gengsi dan rasa cemburu atas pencapaian orang lain. Mereka yang sulit memuji cenderung berpikiran bahwa pujian membuat level seseorang yang dipuji menjadi setingkat di atas yang memuji.

Only a full glass can spill water out of it.

Seseorang yang merasa cukup bahagia atas pencapaiannya sendiri cenderung lebih mudah untuk memuji orang lain. Mereka tidak masalah membagikan kebahagiaan kepada orang lain melalui pujian karena dirinya sendiri juga sudah bahagia.

Tapi membagi kebahagiaan melalui pujian juga ada seninya. Jika kita begitu saja memberikan pujian kepada siapapun, bisa-bisa pujian kita dianggap hanya iseng saja. Bahkan kita bisa saja jadi tidak dipercaya ketika memberikan pujian di kemudian hari.

compliUntuk itu, kita harus memiliki standar masing-masing untuk menentukan kapan seseorang menjadi ‘pantas untuk dipuji’. Saat bertemu situasi tersebut, berilah pujian dengan sejujur-jujurnya. Beritahu juga alasan kenapa orang tersebut pantas dipuji sehingga si penerima pujian jadi tahu ‘nilai plus’ mereka.

Berilah pujian dengan lebih spesifik. Pujian yang general cenderung lebih terkesan asal-asalan dibandingkan jika kita memuji dengan mengemukakan alasannya.

So, key point-nya adalah sadari situasi ‘pantas untuk dipuji’, jadilah jujur saat mengutarakan pujian, dan beritahu alasan pujian tersebut.

How to receive compliment

Saya mengenal seseorang yang merasa aneh jika dipuji. Dia merasa jika dirinya belum pantas untuk menerima pujian. Sekarang, setelah lebih banyak mempelajari tentang kepribadian saya jadi tahu jika perilaku tadi sudah banyak dikenal di dunia psikologi dengan istilah impostor syndrome.

Impostor syndrome adalah situasi dimana seseorang merasa menjadi seorang penipu karena orang lain memandang pencapaiannya adalah sesuatu yang hebat, namun dirinya percaya pencapaiannya bukanlah apa-apa dibanding pencapaian orang lain di lingkungannya. Meskipun bukan tergolong penyakit mental, tapi topik mengenai impostor syndrome mulai banyak diteliti oleh para ahli psikologi.

Pengidap impostor syndrome merasa dirinya adalah penipu setelah mencapai suatu pencapaian. Merasa jika dirinya tidaklah sehebat itu. Mereka cenderung berfikir pencapaiannya hanyalah keberuntungan. Mereka membutuhkan waktu yang lama sebelum akhirnya mempercayai pujian orang-orang terhadapnya. (Kamu mungkin tertarik untuk membaca cerita ini).

Namun dibanding fenomena impostor syndrom, lebih umumnya seseorang akan jadi besar kepala ketika menerima pujian. Sah-sah saja untuk merasa baik akan diri sendiri. Tapi alangkah lebih baik untuk tidak berlarut-larut dalam kebahagiaan dan menjadikan pujian tadi sebagai bahan refleksi diri.

Pun bagi yang tidak terlalu suka dipuji, saya percaya mereka juga tetap merasakan sedikit kebahagiaan ketika mendapat pujian. Dan apapun reaksi kita terhadap pujian (suka / tidak terlalu suka dipuji), kita tetap bisa mengambil hikmah positif dari pujian yang kita terima. Karena setelah mendapat pujian, kita jadi tahu apa yang orang lain suka dari kepribadian atau diri kita. Kita jadi lebih tau, “value” mana dari diri kita yang dianggap baik. Sehingga di masa depan, kita bisa meningkatkannya untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Tapi lebih dari apapun itu..

Bagi saya pribadi yang paling penting adalah puji diri kalian sendiri lebih dulu. Bukan bermaksud untuk mengajari narsis. Namun dengan memberikan pujian kepada diri sendiri, itu berarti kita memberikan waktu untuk diri kita menjadi bahagia. Karena apapun itu, kebahagian kalian sendiri merupakan hal terpenting dari apapun. Seberapapun kalian ingin membahagiakan orang lain, hal tersebut akan sulit terwujud jika diri kalian sendiri bahkan belum bahagia.(:

Other people’ happiness maybe is not your responsibility, but you can always choose to share.

Have a nice Monday, everyone!