New happiness rule

Minggu lalu saya sadar tentang satu happiness-rule baru. Bahwa untuk menemukan kebahagiaan sederhana, saya perlu menyingkirkan kata ‘paling’.

Paling menderita, membuat saya berfikir bahwa tak ada orang yang mengerti penderitaan yang saya alami. Paling bahagia, membuat saya berpikir jika tidak dalam situasi paling bahagia tersebut maka kebahagiaan yang lain hanyalah mediocre happiness.

Anggapan ‘paling’ tersebut secara tidak sadar menjadi tolak ukur bahwa saya berada di urutan teratas dari sebuah keadaan. Sehingga melahirkan anggapan bahwa tak ada yang lebih dari keadaan ini. Padahal..

Di atas langit masih ada langit.

Kita tak pernah tau apakah ini ‘paling’ atau bukan. Seperti kata pepatah di atas bahwa di atas langit masih ada langit. Kita pun begitu. Tak tau nasib apa yang akan kita temui di masa depan, kita masihlah bisa merasakan kebahagiaan atau kesedihan yang lebih dari keadaan yang kita anggap ‘paling’ tadi. Lalui saja keadaan itu dengan baik lalu lanjutkanlah kehidupan. (:

 

Bonus!

Lagu terbaru dari salah satu penyanyi favorit saya. Minggu kemarin saya baru mendengarnya lewat sebuah kpop chart. Mendengar lagu ini rasanya tenang dan damai (walaupun artinya tidak begitu, hehe). Have a listen! (=

Fiora..

Aku tak tau seorang mahluk kecil kenapa bisa menggerakan sebuah hati.

Akupun tak begitu mengerti berlembar kata-kata kenapa malah kalah membuatku tersenyum dari pada seulas lengkungan dari bibir mungilmu.

Aku juga tak pernah tau kenapa suaramu yang terdengar lemah malah mampu menyejukan batin.

Bahkan aku pun baru sadar, menuliskanmu mengapa bisa membuatku sampai sedemikian romantis?

Maka dari itu kalau ada yang bilang mereka tak menyukaimu, jangan percaya omongan mereka. Mereka mungkin hanya menyangkal kemurnianmu.

Pun kelak di masa depan ketika ada orang bilang kehadiranmu bukanlah sesuatu, jangan pedulikan mereka. Mereka tak tau bagaimana kamu mengubah makna hidup seseorang hanya dengan kehadiran.

Kamu mungkin tak pernah mengatakannya. Tapi kehadiranmupun (paling tidak) mengajarkan aku satu hal:

Hasil dari sebuah ketulusan tak pernah salah.

Walaupun tentu, itu akan lebih baik jika dilakukan dengan cara yang baik pula. (:

FioraTerima kasih sudah jadi muse kali ini ya Fio. Sampai kita bertemu nanti, tetaplah lucu seperti itu yaa. Tante kangeeeen >,< *peluk virtual*

Tarawih bonus onta

Suatu hari ketika baru sampai musholla untuk menunaikan sholat tarawih adik saya berkata, “mbak, kita dapet sapi!”. Saya pun memasang raut muka bingung kemudian dia menjelaskan.

“Kata ibu, kalo kita sholat di shaf pertama kita bakal dapet onta. Kalo shaf kedua dapet sapi, shaf ketiga dapet kambing.” begitu katanya.

Tentu saya pun tau ibu hanya bercanda. Kalaupun benar ada dalilnya, saya pun tak begitu peduli. Toh saya bukannya mau membuat peternakan di akhirat nanti. Tapi sampai sekarang setiap kita pulang tarawih topik itu selalu jadi candaan kita yang seakan tak ada bosannya.

Lalu di suatu malam berbeda setibanya di musholla saya menemukan sebuah selebaran. Tentang kelebihan sholat tarawih dari malam pertama, sampai yang ketiga puluh. Selebarannya sederhana. Tapi pulang tarawih saya jadi berpikir tentang banyak hal.

Tuhan, selama ini saya ibadah pamrih nggak ya ?

Pamrih karena kelak dapat unta lalu berebut shaf pertama. Pamrih karena ingin mendapatkan balasan seperti di selebaran tadi, lalu pergi sholat tarawih. Saya takut jadi hamba yang pahalaistis (mengutip kata materialistis). Melakukan suatu amalan karena mendambakan balasan pahala dari Tuhan.

Kiki nggak gitu kan Tuhan? Aku takut.

Rapatkan shaf kan memang anjuran. Pun pergi tarawih kan memang karena disunnahkan. Lagipula harusnya pahala bukan sesuatu yang lalu bisa kita kalkulasi, bukan?

Lalu bagaimana dengan ustadz yang memberi tahu kalkulasi pahala di selebaran tadi?

Ustadz kan hanya memberi tahu. Toh mungkin bukan maksud mereka mengiming-imingi kita dengan selebaran pahala tadi (kamu saja yang terlalu sensitif, Ki). Dia mungkin hanya ingin mengajak lebih banyak orang ke jalan kebaikan. Biar musholla lebih ramai. Dia juga bukan yang tau persis perhitungan malaikan Raqib, bukan?

Lalu maksudnya kamu nggak mau pahala Ki? munafik!

Bukan seperti itu juga sih. Cuma rasanya kurang pas saja. Bukannya akan lebih indah jika kita beribadah karena rasa cinta & syukur? Beribadah bukan karena kewajiban, tapi karena kecintaan kita ke Tuhan. Memberi bukan karena menginginkan kembali, tapi karena rasa syukur Tuhan sudah memberikan yang lebih.

Lagipula siapa sih yang menghitung-hitung pahala?

Kamu saja yang over analyzed, Ki. Orang-orang juga mungkin bukan karena janji akan pahala berlipat ganda baru pergi ibadah. Kamu saja yang su’udzon. Okay, baiklah. Maaf sudah su’udzon.

Lalu sepulang tarawih melihat jama’ah yang sholat di teras musholla saya jadi penasaran.

“Terus yang paling belakang dapet apa yung?”

“Dapet kandang ayam mbak. Kosong, cuma ada e’eknya. Hahaha” My sister was so funny. She’s a lot like my mom. (:

Tentang kebencian

Lalu apa guna maaf, jika setelah maaf terucap, rasa bencinya masih tertinggal. Pun ketika maaf tak pernah terucap, rasanya benci bukan pilihan yang tepat.

Benci itu duri hati. Ketika kamu benci, kamu menyimpan dengan baik sepotong duri  berbahaya yang bisa saja berbalik melukaimu di masa depan. Maka dari itu buang saja durinya. Bukankah kamu tidak suka terluka?

Pun ketika ada banyak alasan menyakitkan yang membuatmu tak lagi menyukai seseorang, tidak bisakah kau mengubur saja duri itu? Bukankah kamu seorang pelupa ulung?

Lagipula mungkin kamu salah paham. Rasa itu mungkin saja bukanlah kebencian. Itu hanya kemarahan atas dirimu sendiri yang kamu lampiaskan pada orang lain. Bukankah ini tidak benar?

Dan lagi, rasa-rasanya membenci bukanlah gayamu. Oh, mungkin kecuali satu pengecualian. Manusia kadang tanpa sadar membenci dirinya sendiri lebih dari orang lain. Tapi tenang, most of the time itu bukan karena dirimu buruk kok. Kamu hanya tak sanggup membenci sasaranmu sehingga membelokkan peluru bencinya ke kepalamu sendiri. Tapi lebih dari apapun itu, bukankah tidak ada kebahagiaan sempurna yang didapat dari rasa benci? Maka dari itu maafkan saja..

Once, after the afternoon talk

Sepertinya kamu terlampau kreatif menjalani hidup ini. Aku tahu kamu berbeda. Tapi tidak bisakah sekali-kali kamu mengikuti aturan mereka? Telinga ini rasanya terlalu normal untuk tidak mendengar celotehan mereka. Kamu tidak suka terluka tapi terus-terusan membuat alasan agar mereka melukaimu. Bisakah kamu sejenak mengalah? Coba buat mereka bahagia dan lihat apa kamu juga bahagia dengan itu semua.

Cobalah kali ini saja untuk tidak mempercayai nilaimu sendiri. Aku tahu kamu bukannya jahat, tapi terus-terusan terlihat seperti itu membuat aku takut asumsi itu jadi benar. Jadi sekarang coba kubur egomu sebentar dan mengalah sedikit yaa. (:

Hukum alam

I tell God what I really feel. I think God will let the world know and give me what I want if I be a good girl. But it doesn’t. Life is not that simple.

So I ask my self, can’t I just be an evil if the world is not giving what I want. But then I brood. I’m being a well-behaved girl not for the sake of God’s promise of giving me more. But it’s just the heart that telling me to. Because even when God is not giving what I want, my heart keep telling me to keep being a good girl. A good girl in my own-term, because I believe God knows me more than what I do. I was God’s artistical creation anyway.

Tanya Jawab kebahagiaan

Kebahagiaan memang nggak ada habisnya kalo dibahas. Kali ini ceritanya saya abis baca buku “Sejenak Hening” karya Adjie Silarus. Sesuai judulnya, buku ini ngajak kita diem sejenak buat ngademin pikiran dan merasakan kebahagiaan atas keadaan alam sekitar maupun keadaan diri kita sendiri saat itu. Secara saya memang suka topik beginian, jadi banyak yang nggak asing sih selama saya baca buku ini. Tapi teori sejenak heningnya top dah. Sederhana dan bisa dipraktekan dimana pun kita berada.

Sejenak Hening - Adjie Silarus

Di bab akhir buku tersebut, ceritanya ada bagian tanya jawab kebahagiaan sama beberapa tokoh gitu. Nah, kelar baca itu buku, otak males berkedok efisien saya akhirnya jadi kepikiran buat bikin tanya jawab kebahagiaan versi saya daripada buat review keseluruhan buku ini. Hahaha. Biar lebih efisien lagi, kita langsung ke tanya jawabnya aja kali ya.

Dengan skala 1-10, berapakah nilai kebahagiaan yang kamu rasakan sekarang? Mengapa?

Probably, 7. Saat ini saya ada di kondisi normal. Saya memiliki orang tua yang masih lengkap, tidak sedang kelaparan, tidak juga sedang memiliki permasalahan yang pelik. I’m pretty happy right now.

Di manakah kamu selalu bisa merasakan bahagia?

Anywhere. Saya tidak membatasi diri dimana saya bisa merasakan kebahagiaan. Tapi biasanya berada di tempat yang jauh berbeda dari rutinitas memberikan kebahagiaan lebih pada diri saya.

Kapankah kamu selalu merasa bahagia?

I let God surprises me with its blessings anytime.

Berasal dari manakah kebahagiaanmu?

Dari manapun.  Orang-orang terkasih, alam, Tuhan.

Peristiwa apakah yang membuatmu merasa paling bahagia selama hidup ini?

Saat saya menjadi alasan kebahagiaan orang lain.

Bagaimana caranya sehingga kamu bisa merasa bahagia? Apa yang kamu lakukan?

Always keep positive thought inside my mind.

Apakah kebahagiaan itu?

Tujuan hidup setiap orang.

Apakah arti kebahagiaan?

State of mind dimana seseorang merasa damai atas hidup yang dimilikinya.

Apakah satu kata yang muncul di pikiranmu saat mendengar kata “kebahagiaan”?

Damai

Seandainya kamu diminta menyebutkan 1 hal yang terkandung dalam kebahagiaan, apakah itu?

Rasa damai.

Peristiwa apakah yang berhasil membuatmu menyadari bahwa kebahagiaan itu penting dalam hidup ini?

Saat saya merasa bingung tentang apa yang harus saya lakukan di hidup ini. Saya berfikir lama, kemudian menyadari bahwa apapun yang kita lakukan di dunia ini, semuanya demi mencapai kebahagiaan.

Mengapa kebahagiaan itu penting dalam hidup ini?

Karena itu merupakan anugerah terindah yang Tuhan izinkan manusia untuk merasakannya.

Siapakah yang selama ini kamu anggap sebagai orang yang bahagia?

Orang yang tidak banyak mengeluh, orang yang bisa menemukan sisi positif dibalik hal-hal (yang dianggap kebanyakan orang) buruk.

Siapakah yang ingin kamu ajak menemanimu saat merasa bahagia?

Orang-orang terkasih, juga semua orang yang ingin merasakan kebahagiaan.

Jika kamu diberi kemampuan menciptakan sesuatu untuk kebahagiaan umat manusia, apakah yang akan kamu ciptakan?

Saya percaya Tuhan sudah menciptakan dunia ini sesempurna mungkin demi kebahagiaan umat manusia. Yang dibutuhkan manusia untuk bahagia hanyalah mengubah pola pikirnya. (:

• • •

Tertarik buat bikin tanya jawab kebahagiaan versi kalian sendiri? (:

Untold advice from Future Leader Summit 2014

“Saatnya pemuda berkontribusi untuk bangsa.” Kalimat ini tertulis di kaus kepanitiaan sebuah acara konferensi pemuda dimana saya ikut ambil bagian sebagai panitianya. Future Leader Summit 2014. Sebuah acara yang sudah (kurang lebih) setengah tahun saya dan teman-teman lain persiapkan. Persiapan yang pastinya tidaklah singkat.

Tahun lalu saya ada di posisi peserta. Bertemu dengan banyak pemuda inspiratif lain dari seluruh Indonesia, mendapatkan banyak inspirasi baru dari serangkaian acara yang ada, mendengar cerita dari para pembicara inspiratif yang menggugah naluri nasionalisme saya, semuanya membuat saya bergairah untuk ikut serta berkontribusi untuk bangsa. Gairah tersebut kemudian membuat saya tertarik untuk menjadi panitia penyelenggara acara tersebut di tahun selanjutnya. Satu yang terbersit di benak saya waktu itu adalah saya ingin lebih banyak pemuda lain di Indonesia merasakan pengalaman menakjubkan yang saya dapatkan di FLS tahun lalu.

Tahun ini setelah acara ini berhasil kami selenggarakan, suatu pertanyaan justru mengganggu naluri saya. Benarkah ini salah satu kontribusi untuk bangsa yang ingin saya wujudkan?

Saya justru agak khawatir jika semua bagian acara ini menganggap bahwa dengan ikut ambil bagian di acara ini, mereka sudah berkontribusi untuk bangsa. Padahal dengan berakhirnya acara tersebut, pekerjaan rumah kita justru bertambah banyak. Jika kita tetap tidak berbuat apa-apa, maka acara tersebut hanya jadi seremonial tahunan belaka. Tapi kemudian saya menemukan ini dan seketika saya pun terharu.

jjb “Allah, thank you so much for this experience. I knew it will worth like this”

Rasanya semua rasa lelah terbayar lunas. Mimpi yang selama ini saya pertahankan walaupun ada beberapa hal yang sedikit mengendurkannya seketika terasa nyata. Saya berhasil menyentuh mimpi yang tadinya terasa jauh itu. Alhamdulillah..

Mungkin itu belum seberapa untuk membuktikan bahwa kita semua telah melakukan upaya kontribusi untuk bangsa. Tapi setidaknya kita telah menyebarkan dan menularkan semangat itu. Kontribusi pun tak berhenti disini karena kita masih memiliki jalan panjang di depan kita untuk diisi dengan bentuk kontribusi yang lain. Semoga (:

Terlepas dari tujuan kami untuk berkontribusi bagi bangsa, pelajaran lain juga banyak saya petik dari acara ini. Beberapa diantaranya :

Strong reasons are needed to face the mess

Melalui event ini, saya banyak belajar untuk mengampu mimpi di pundak saya sendiri. Karena seberapapun kalian dibantu atau berkolaborasi dengan orang lain, what matter the most adalah tekad diri kita sendiri. Bakal gampang nyerah kalo kita nggak punya tekad personal.

Plan for the best, prepare for the worst

Lalu timing. Persiapan dan manajemen waktu memang sangat penting di setiap acara.

By failing to prepare, you prepare to fail – Benjamin Franklin

Persiapan kita mungkin sudah cukup, namun manajemen waktu (khususnya saya) terfokus pada minggu terakhir sebelum acara sehingga banyak improvisasi yang harus dilakukan. Tapi disinipun saya memetik satu pelajaran lagi. Plan B bukanlah yang terpenting, yang terpenting adalah berfikir kreatif untuk menutupi plan A yang gagal.

Be memorable is the key!

Di suatu kesempatan, saya sempat mendapat ceramah dari seorang brand activation expert yang sering mengadakan event-evet. Dia mengatakan, percuma jika kita menyelenggarakan sebuah event yang nantinya malah dilupakan oleh pesertanya. Beliau berpesan untuk memastikan semua orang menjadi mengerti tetang event yang kita buat setelah mereka menghadirinya.

Serangkaian acara yang kita ciptakan dalam sebuah event, akan mewujudkan pengalaman yang kemudian mewujukan brand activation terhadap para peserta. Setelah brand activation berhasil diwujudkan, hal tersebut kemudian akan menimbulkan brand experience yang akan menyebar ke lebih banyak orang lagi melalui orang-orang yang terlibat pada acara tersebut. Brand experience ini akan subjektif nilainya, tergantung kesan yang diterima oleh masing-masing orang.

Nah, untuk mewujudkan brand experience yang baik, disinilah keberhasilan acara berperan dan properti seperti suvenir menjadi pendukungnya. Divisi saya, sedikit banyak bertanggung jawab dalam hal tersebut. Konsep FLS kit (suvenir khas FLS) bahkan sudah kita rencanakan dari awal pembentukan panitia. Tanpa disadari, kita sudah mempraktekan konsep brand experience jauh sebelum saya mendengarnya dari brand activation expert tadi.

Tapi kemudian beliau menambahkan,

Imagine if the event is your own wedding!

Beliau mengibaratkan, kita harus menganggap event yang kita rencanakan tersebut sebagai pesta pernikahan kita sendiri. Kembali ke topik Be Memorable tadi, kalian tidak ingin pernikahan kalian berjalan tanpa suvenir kan? Suvenir adalah salah satu alat untuk mengenang event tersebut (ibarat hadiah, memandang sebuah benda yang kita dapat dari seseorang mengingatkan kita akan orang tersebut kan?). Disinilah saya belajar banyak untuk menciptakan pemicu kenangan yang baik untuk semua aspek di acara tersebut.

fls-kit

Looking at those photos, I’m just instantly feeling so happy. image credit (clockwise from left) : @fiyaemon’s ig, @trikurniam’s ig, @dianntyas’s ig, @sarahlitany ‘s ig

• Level kebahagiaan
Di acara ini, saya kebetulan sempat membantu divisi lain menjadi Liaison Officer seorang pembicara. Kali ini adalah Pak Akhyari Hananto founder dari Good News From Indonesia, atau sering disapa Pak Arry. Saya baru mengenal sosoknya di kesempatan ini, namun GNFInya saya sudah tau dari dulu. Menemani beliau selama sehari membuat saya memetik banyak pelajaran dari sosok beliau.

Ada cerita saat saya mengantarnya jalan-jalan mengelilingi kota Semarang. Saat itu kami sempat melewati sebuat kawasan rumah elit. Dengan santainya, dia berbicara “Saya sih nggak pernah mimpi punya rumah seperti itu. Punya keluarga, pekerjaan, kendaraan, dan bisa jalan-jalan ke luar negeri saja saya sudah cukup. Level kebahagiaan saya mungkin berbeda sama mereka.”

Saya jadi teringat pertanyaan teman beberapa waktu lalu. Dia bertanya kapan terakhir kali merasakan kebahagiaan yang sebenarnya? Saat saya masih berpikir, seorang teman lain menjawab “Waktu kumpul sekeluarga komplit.” Saya jadi kembali berpikir, kapan terakhir kali kumpul sekeluarga lengkap. Saat membayangkannya, saya pun jadi mengamini jawaban teman saya tersebut. Sebenarnya sekarang pun saya merasa bahagia. Terlepas dari semua kekhawatiran masa depan dan penyesalah masa lalu, saya mencoba bersyukur akan apa yang saya punya atau apa yang terjadi di hidup saya hari ini.

Level kebahagiaan akan menentukan saat dimana seseorang akan merasakan puncak kebahagiaan. Mungkin hampir sama seperti yang saya sampaikan di tulisan ini. Setiap orang memiliki cara yang berbeda-beda untuk memperoleh kebahagiaan. Ada yang bahagia saat memiliki banyak uang, ada yang bahagia saat berkumpul dengan orang-orang terkasihnya, dan lain-lain. Saat ini saya sedang mempelajari teori kebahagiaan sederhana. Kebahagiaan yang tak bersyarat. Kebahagiaan yang tak memerlukan pemicu yang rumit untuk merasakannya. Kebahagiaan dari rasa syukur atas apapun yang terjadi pada diri kita sehari-hari. Hal tersebut saya pelajari dari sebuah buku berjudul Indonesia Bersyukur (well, saya mendapatkan buku ini dari salah satu pengarangnya langsung. Pak Akhyari Hananto (: ). Bukan tipikal buku yang akan saya beli/baca ketika berada di toko buku, sebenarnya. Tapi karena ini pemberian (saya selalu berusaha mengapresiasi apapun yang orang lain berikan pada saya), saya pun mencoba membacanya. Ternyata banyak juga pengetahuan-pengetahuan baru yang saya dapat dari buku tersebut.

DSC05527

Btw, siapa nih yang stiker kolaborasinya lengkap kaya gini? :D

Masih ada banyak hal lagi yang saya pelajari dari penyelenggaraan acara tersebut sebenarnya. Kalau saya mau sedikit saja mengingat-ingatnya lagi, pasti tulisan ini akan jadi sangat panjang. Jadi saya akan berhenti disini. (:

Left out..

Keanehan saya kumat lagi. Kebanyakan orang lain, kalo ditanya barang yang paling nggak bisa ketinggalan adalah handphone, kan? Bingung kan kalian kalo handphone nggak ada? Tadinya saya pikir, saya juga ngerasa sama kayak gitu.

Tapi Sabtu kemaren itu, ceritanya handphone saya jatuh & ada rusak di touch screennya gitu dah. Otomatis sekarang saya jadi phone-less kan. Anehnya, entah kenapa saya nggak ngerasa sedih sama sekali tuh. Sempet sebel iya. Tapi bahkan waktu nulis self assessment di hari itu, saya sama sekali nggak inget kejadian HP saya jatuh tadi.

Akhirnya saya mutusin buat jadiin eksperimen aja sekalian. Seberapa lama sih, saya bisa hidup tanpa alat komunikasi satu itu. Well, let’s see..

In the other side, minggu lalu saya juga baru keilangan motor (well, doesn’t mean that it was stolen whatsoever yah). Tepatnya, karena motor yang biasa saya pake itu aslinya punya adek, jadi sekarang dibalikin ke yang punya. Awalnya sih saya rela-rela aja, tapi nggak lama setelah itu sedih juga.

Saya biasa kasih nama ke barang-barang yang paling saya sayang. Termasuk (walaupun itu bukan kepunyaan saya) itu motor juga, saya kasih nama Jenny. Saya tipe orang yang nggak suka ribet minta ditemenin kalo mau pergi, so Jenny was like my best friend who accompany me everywhere.

Sejak ada Jenny juga saya mulai berani ngikut beberapa kegiatan yang banyak ngasih pengalaman baru buat saya. Bareng Jenny pula saya ngalamin pengalaman “near of death” yang bikin saya sadar akan beberapa hal. It was also brought me to discover many new places. Rasanya saya lebih sedih kehilangan Jenny daripada kehilangan handphone.

Tapi nggak papa, mungkin sekarang waktunya Jenny ngasih pengalaman-pengalaman itu ke adek saya. But seriously Jenny, I’m gonna miss you soooo </3

Cheers, May!

Nggak berasa, Mei udah mau kelar aja. Hi May, we’ve made it finally. Saya teamed up pretty good sama bulan Mei tahun ini. Kita berhasil melewati some non-stop events that keep me busy from months before. I have also learned so much things on May, so let me list down some of them here.

Learn to be a braver person

ICH_9008

Credit : Committee documentation

Tanggal 4 Mei kemaren, temen-temen saya di Doscom baru aja ngadain kegiatan Release Party. We just launched the latest Tea Linux with a new code name, called Jasmine Tea. I don’t want to sound too geeky so let’s just skip the babble about the event.

What I learned of this event is that I have to be brave (Sara Bareilles’s song, Brave playing). I used to be a very shy person so talking in front of public is a BIG NO NO for me. Dan di event ini, ketua acaranya nyuruh saya jadi MC di acara itu. I was like, “What? me as an MC? Are you kidding?”. But the moment later, I was think that it was the perfect opportunity for me to overcome my fears. So I was like “Okay self, you have to accept this challenge. Just believe that you can do it!”.

When other people ask you to do something, it means that they trust you to do it.

They believe that you can do that job. So what to worry about? Although indeed, I was very nervous at the beginning. But I decide to make friend with that feeling, and yeah I’ve finally made it.

To be a Mozillian is to be a good people

Credit : Peppeishaam's flickr

Credit : Peppeishaam’s flickr

At the very beginning I knew about Mozilla community, I knew that this is one-hell-of-community of million good people. I mean, we’re community based, and doing things things up for the sake of keeping the web as an open resource. And we’re becoming one community because of the mission. We’re not a group of goal-driven people to spreading promises of our services, but we try to provide choices for our users.

Right after the Tea Linux Release Party, me with some Mozillian fellas were organized a Semarang Mozillian Meetup (usually called as MozKopDarSMG) on 5 May. We talked a lot about what kind of web that you want? Is it the web where you can learn much things, or web that provides opportunities for anybody, or the web where you are the owner of your own data (privacy), and many else. We were also organized a mini seminar called Mozilla Creative Class on the next day (6 Mei 2014) and shared about Mozilla Webmaker and Firefox Student Ambassador program.

What I love the most of being a Mozillian is the openness. I feel like I’ve already working on an international company where I could read the CEO’s letter, receive an open call meeting, and many thing else that make feel like belong to the team. Yeah, being a Mozillian is about being a good people, indeed.

• Salute to those super hero movie, being a ranger is not an easy job. Seriously.

Credit : Fadhlillahh’s ig

The one freshly finished event of mine is must be Future Leader Summit. The dream that we’ve prepared from more than a half year ago. I learn so much things from this event so I probably will write this on the separate post (I’m not promising, though. :3).

But one of much things I’ve learned from here is

to transmit mindset to anybody else in a team is not an easy job, really.

Mindset is about habit. So trying to transmit our mindset, is the same as asking other people to start a new habit. It takes time, really. Even years.

And something else that I just realized from this event is that we couldn’t make it alone. Even if we’re the expert of that job. Uhm, I mean… I was a very perfectionist crafter. And in this event my division is the one that responsible for any event gifts (we called it as FLS kit). I usually craft anything by myself because I hate other people mistakes (what I mean here is, I could blame myself freely if that was my mistake, but I don’t like myself blaming other people if they’re making any mistakes). But with hundreds (even thousands) piece of papers that I should handle, now I can’t prevent myself to not accepting other people help. So yeah, I should low down my ego to accept their mistakes. And it probably not as perfect as I want it to be. But that was our winning. Not just my winning.

 

So now that some of my recent focus was accomplished, it’s time for me to moving on to the next focus. The feeling of crossing something of my recent focus list this time is kinda usual. The euphoria is not as cheering as it should be. I’m not really sure why, but maybe it’s because I haven’t settle down on my next goal so I was a little bit anxious.