The art of giving and receive compliment

“Learn to compliment others when deserved. Not only it makes other people happy, it shows that we are happy for other people’s happiness.”
- Diana Rikasari -

Selama proses mempelajari kebahagiaan, saya perlahan menyadari jika pujian bisa sangat berkaitan dengan tingkat kebahagiaan seseorang. Pujian memberikan semacam stimulus positif bukan hanya ke si penerima, namun juga ke pemberi. Seperti quote dari salah satu blogger favorit saya di atas. (:

Memuji seseorang bisa menjadikan hari seseorang jadi lebih baik. Mendapatkan pujian juga bisa meningkatkan kepercayaan diri seseorang. Mereka yang dipuji jadi lebih merasa jika mereka dihargai, diakui dan diapresiasi. Seorang ahli psikologi bernama Kendra Cherry mengatakan di sebuah artikel, bahwa pujian merupakan salah satu bentuk positive reinforcement.

In each of these situations, the reinforcement is an additional stimulus occurring after the behavior that increases the likelihood that the behavior will occur again in the future.- Kendra Cherry

Itu tadi tentang mendapatkan pujian. Lalu bagaimana dengan memberikan pujian? Bagi sebagian orang, memberikan pujian bukanlah hal yang mudah. Namun bagi sebagian lain yang murah pujian, mereka bahkan dianggap “gombal” ketika memberikan pujian.

largelMaka dari itu, kita perlu mempelajari The art of Compliment. Baik dalam memberi, maupun dalam menerima pujian. Karena kedua-duanya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sosial kita sehari-hari.

How to give compliment

Sulit memberikan pujian berkaitan dengan gengsi dan rasa cemburu atas pencapaian orang lain. Mereka yang sulit memuji cenderung berpikiran bahwa pujian membuat level seseorang yang dipuji menjadi setingkat di atas yang memuji.

Only a full glass can spill water out of it.

Seseorang yang merasa cukup bahagia atas pencapaiannya sendiri cenderung lebih mudah untuk memuji orang lain. Mereka tidak masalah membagikan kebahagiaan kepada orang lain melalui pujian karena dirinya sendiri juga sudah bahagia.

Tapi membagi kebahagiaan melalui pujian juga ada seninya. Jika kita begitu saja memberikan pujian kepada siapapun, bisa-bisa pujian kita dianggap hanya iseng saja. Bahkan kita bisa saja jadi tidak dipercaya ketika memberikan pujian di kemudian hari.

compliUntuk itu, kita harus memiliki standar masing-masing untuk menentukan kapan seseorang menjadi ‘pantas untuk dipuji’. Saat bertemu situasi tersebut, berilah pujian dengan sejujur-jujurnya. Beritahu juga alasan kenapa orang tersebut pantas dipuji sehingga si penerima pujian jadi tahu ‘nilai plus’ mereka.

Berilah pujian dengan lebih spesifik. Pujian yang general cenderung lebih terkesan asal-asalan dibandingkan jika kita memuji dengan mengemukakan alasannya.

So, key point-nya adalah sadari situasi ‘pantas untuk dipuji’, jadilah jujur saat mengutarakan pujian, dan beritahu alasan pujian tersebut.

How to receive compliment

Saya mengenal seseorang yang merasa aneh jika dipuji. Dia merasa jika dirinya belum pantas untuk menerima pujian. Sekarang, setelah lebih banyak mempelajari tentang kepribadian saya jadi tahu jika perilaku tadi sudah banyak dikenal di dunia psikologi dengan istilah impostor syndrome.

Impostor syndrome adalah situasi dimana seseorang merasa menjadi seorang penipu karena orang lain memandang pencapaiannya adalah sesuatu yang hebat, namun dirinya percaya pencapaiannya bukanlah apa-apa dibanding pencapaian orang lain di lingkungannya. Meskipun bukan tergolong penyakit mental, tapi topik mengenai impostor syndrome mulai banyak diteliti oleh para ahli psikologi.

Pengidap impostor syndrome merasa dirinya adalah penipu setelah mencapai suatu pencapaian. Merasa jika dirinya tidaklah sehebat itu. Mereka cenderung berfikir pencapaiannya hanyalah keberuntungan. Mereka membutuhkan waktu yang lama sebelum akhirnya mempercayai pujian orang-orang terhadapnya. (Kamu mungkin tertarik untuk membaca cerita ini).

Namun dibanding fenomena impostor syndrom, lebih umumnya seseorang akan jadi besar kepala ketika menerima pujian. Sah-sah saja untuk merasa baik akan diri sendiri. Tapi alangkah lebih baik untuk tidak berlarut-larut dalam kebahagiaan dan menjadikan pujian tadi sebagai bahan refleksi diri.

Pun bagi yang tidak terlalu suka dipuji, saya percaya mereka juga tetap merasakan sedikit kebahagiaan ketika mendapat pujian. Dan apapun reaksi kita terhadap pujian (suka / tidak terlalu suka dipuji), kita tetap bisa mengambil hikmah positif dari pujian yang kita terima. Karena setelah mendapat pujian, kita jadi tahu apa yang orang lain suka dari kepribadian atau diri kita. Kita jadi lebih tau, “value” mana dari diri kita yang dianggap baik. Sehingga di masa depan, kita bisa meningkatkannya untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Tapi lebih dari apapun itu..

Bagi saya pribadi yang paling penting adalah puji diri kalian sendiri lebih dulu. Bukan bermaksud untuk mengajari narsis. Namun dengan memberikan pujian kepada diri sendiri, itu berarti kita memberikan waktu untuk diri kita menjadi bahagia. Karena apapun itu, kebahagian kalian sendiri merupakan hal terpenting dari apapun. Seberapapun kalian ingin membahagiakan orang lain, hal tersebut akan sulit terwujud jika diri kalian sendiri bahkan belum bahagia.(:

Other people’ happiness maybe is not your responsibility, but you can always choose to share.

Have a nice Monday, everyone!

Meminimalisir kehidupan

Happiness come from anywhere. It could also be earned from emptiness. 

Lately I was thinking about to minimize my life. Salah satu ide yang dari dulu ingin saya wujudkan. Ditambah lagi, akhir-akhir ini saya banyak menemukan referensi pendukung tentang hal ini. Dan kebanyakan orang yang sudah menerapkannya mengatakan bahwa meminimalisir kehidupan bisa mengurangi tingkat stress seseorang. Which is, it highly support my happiness project. ^^

So, beberapa waktu lalu saya mulai bereksperimen. Mencoba mengurangi hal-hal yang dari dulu ingin saya praktikan. Beberapa ternyata memang menyenangkan untuk dilakukan. Namun ada juga yang tidak terlalu cocok. Mungkin diantaranya bisa kalian coba jika ingin menerapkan hal ini juga.

• Meminimalisir keputusan

Disadari atau tidak, kita ternyata telah menghabiskan banyak energi untuk memutuskan suatu hal yang tidak terlalu penting. Contoh paling mudah adalah memutuskan tempat makan. Walaupun sudah menjadi anak kos sejak SMA, sekarang saya baru sadar kalau memutuskan tempat makan adalah hal tak terlalu penting yang banyak menghabiskan energi kita.

Jadilah sejak bulan lalu, saya coba untuk mengurangi keputusan menentukan tempat sarapan. Dan sejak itu saya selalu sarapan di tempat yang sama setiap hari kecuali di akhir pekan. It work well for a month. Tapi bulan berikutnya saya menyerah karena terlalu bosan memakan menu yang sama setiap hari. Now I still figure out the best solution for this. Tapi untuk saat ini saya lebih sering memutuskan untuk makan di tempat yang saya pikirkan pertama kali.

Opsi lain yang menarik buat saya adalah membuat makanan sendiri. But since I’m not good at cooking dan dapur kosan saya adalah tempat yang menyeramkan bagi seorang OCD, jadi saya berpikir ulang untuk mencoba opsi ini. But, I will definitely try this option next time.

Keputusan lain yang sedang saya kurangi adalah menentukan baju yang saya pakai di luar. Beberapa orang ada yang cocok dengan keputusan memakai baju yang ada di tumpukan paling atas. But I definitely not one of them. Jadi yang sedang saya kurangi sekarang adalah memakai baju beraneka warna. Saya membatasi pilihan warna yang akan saya pakai hanya hitam, putih, dan beberapa warna pastel. I still work on this habit, tapi tidak terlalu strict juga menerapkannya. Karena terlalu strict terhadap suatu hal kadang malah membuat lebih banyak stress.

• Meminimalisir barang-barang

Kalau ini sebenarnya bukan kebiasaan baru bagi saya. Because I regularly get rid of some of my unused stuffs. Tapi masalah yang biasanya muncul ketika ingin membuang barang-barang adalah kenangan di balik barang tersebut.

Do I really need to remember the memories from these stuff?

Saya biasanya berkali-kali menanyakan pertanyaan di atas pada diri saya sendiri sebelum menyingkirkan suatu barang. And thanks God for technology. Jika masih tidak tega untuk membuangnya, kalian bisa dengan mudah mengabadikannya lewat foto sehingga barang tersebut masih bisa kalian kenang di masa depan.

Something else that hard to let go for me is … paper! Hahaha. Shame on me, but seriously. Saya banyak bermain dengan kertas sejak kecil, sehingga setiap kertas rasanya punya nilai tersendiri bagi saya. And I love knowledge! Rasanya jadi tidak tega untuk begitu saja membuang kertas yang berisi pengetahuan. Tapi setelah menyadari kertas-kertas itu toh tidak saya pelajari lagi, saya jadi lebih tega untuk membuangnya. And once more, thanks God for technology. Kita tak perlu lagi mencari-cari catatan lama karena internet cover it all! :D

• Meminimalisir kegiatan

This! Saya selalu easily tempted untuk mengikuti sebuah project atau kegiatan baru yang saya pikir seru. Terlebih lagi, I enjoy being busy. Tapi akhir-akhir ini saya menyadari ada ketidakseimbangan di diri saya selama ini (read this to learn more). Jadi saya memutuskan untuk mengurangi beberapa kegiatan yang banyak menghasilkan stress (kamu mungkin tertarik untuk membaca ini).


Masih ada beberapa hal lain yang sedang saya coba minimalisir seperti mengurangi clutter on my gadget, clutter on my to-do list, dan beberapa hal lainnya. Mungkin lain kali bisa saya ceritakan lagi.

Buat saya pribadi setelah menerapkannya beberapa saat, meminimalisir kehidupan rasanya seperti perumpamaan menghapus tulisan yang sudah tak terpakai di sebuah papan tulis. Sehingga ruangnya bisa kita pakai untuk menuliskan hal baru yang lain. Perumpamaan lain yang saya suka tentang hal ini salah satunya adalah dari Paul Graham berikut ini:

“Imagine walking around for years with 5 pound ankle weights, then suddenly having them removed.” Paul graham – Stuff

Emptiness give us more space for another happiness. (:

To be happy, together

children-462072_1280Sejak sadar bahwa yang terpenting dalam kehidupan adalah kebahagiaan, saya justru jadi belajar banyak tentang kehidupan. Bagaimana untuk menjalani hidup lebih baik agar kita tetap bahagia, bagaimana mengurangi hal-hal negatif di sekitar sehingga kita bisa tetap bahagia, bagaimana caranya memproses diri sehingga kita tak hanya sukses nantinya, but also feel “content”.

Di tengah perjalanan saya mempelajari hal-hal tentang kebahagiaan, sedikit banyak saya juga memperhatikan bagaimana orang-orang di sekitar saya bersinggungan dengan kehidupan mereka. Bagaimana si ceria menjalani kehidupannya dengan sukacita, atau bagaimana si tukang ngeluh terus berkeluh-kesah tentang kehidupannya. Lalu muncul satu pertanyaan di otak saya “Can we all be happy together?“.

Sebanyak saya ingin diri saya tau tentang kebahagiaan lebih dini, saya juga ingin orang lain tau bagaimana menemukan kebahagiaannya masing-masing agar hidupnya bisa lebih baik. Untuk itu, saya ingin menceritakan kisah mengagumkan yang baru-baru ini saya baca.

Alkisah, ada seorang antropolog yang baru saja selesai mempelajari kebiasaan dan budaya dari suku terpencil di Afrika. Sehari sebelum dia kembali ke rumahnya, dia mengumpulkan keranjang hadiah berisi buah-buahan lezat yang dia kumpulkan dari berbagai wilayah yang kemudian dia bungkus dengan pita. Dia menaruh keranjang tersebut di bawah pohon lalu mengumpulkan anak-anak di desa tersebut.

Si antropolog itu kemudian berkata kepada anak-anak pedesaan yang sudah berkumpul, “Saat saya bilang mulai, larilah ke arah pohon dan siapapun yang sampai disana duluan, dia akan memenangkan keranjang buah itu.”

Saat si antropolog menyuruh anak-anak itu berlari, mereka malah menggandeng tangan satu sama lain dan berlari bersama-sama ke arah pohon. Mereka lalu duduk bersama mengelilingi keranjang dan menikmati hadiahnya bersama-sama.

Tuan antropolog pun terkejut. Dia bertanya mengapa mereka berlari bersama-sama padahal bisa saja salah satu dari mereka mendapatkan semua hadiah untuk dirinya sendiri?

Seorang gadis kecil memandang si antropolog dan berkata, “Bagaimana kita bisa bahagia jika yang lain bersedih?”

One touching story, I know.


Beberapa tahun kemudian, seorang aktivis ternama dari Afrika Selatan bernama Desmond Tutu menjelaskan pemikiran gadis kecil di cerita di atas dengan menggunakan kata “ubuntu”, yang bermakna “I am because we are.

Beginilah Desmond Tutu menjelaskan konsep tersebut:

Afrika mengenal sesuatu yang disebut “ubuntu”. Kami percaya bahwa seseorang adalah orang melalui orang lain. Bahwa kemanusiaan saya terikat, terkait dengan Anda. Saat saya merendahkan Anda, itu berarti saya merendahkan diri saya sendiri. Seorang manusia soliter adalah sebuah kontradiksi. Maka dari itu, Anda berusaha untuk bekerja untuk kebaikan bersama karena kemanusiaan Anda datang ke sumber aslinya, yaitu dalam masyarakat.

Di kehidupan sehari-hari, kita memiliki tujuan hidup dan goal masing-masing. Mungkin ada yang ingin menurunkan berat badannya atau mungkin ingin memulai kebiasaan baik yang baru. Namun benang merah dari itu semua sama, yaitu kita semua ingin menjadi lebih baik. Kita mencoba membuat dunia menjadi lebih baik lagi melalui perbaikan diri kita sendiri.

Begitu pula melalui blog ini, saya menceritakan pelajaran-pelajaran hidup yang saya harap orang lain tau agar dia bisa menjalani hidupnya lebih baik lagi. Seperti anak-anak pedesaan yang meraih tangan teman-temannya di kisah tadi, saya juga ingin meraih tangan siapapun yang ingin memperoleh kebahagiaan seperti saya. I don’t want to be happy alone. I also want all of us, to be happy together. (:

Foto : Pixabay.com

Nasihat tentang membenci

z7R1rjT6RhmZdqWbM5hg_R0001139

“… For if you dislike them – perhaps you dislike a thing and Allah makes therein much good.” QS An-Nisa’ [4]:19

Selain pesan dalam tafsirnya yang mengajarkan berlaku adil terhadap wanita, saya juga suka kalimat terakhirnya.

“… karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” QS An-Nisa’ [4]:19

Mengingatkan saya untuk tidak lagi mengacuhkan beberapa hal yang biasanya tidak saya sukai. TGIF! (:

NB!

Sahih Internasional & Bahasa Indonesianya saya ambil dari sini.

Kredit foto : https://unsplash.com/

How self-compassion save my life

compassionBelakangan ini ada beberapa hal yang baru saya sadari tentang diri saya sendiri. Dan diantaranya adalah hal-hal yang bertolak belakang dari yang saya tahu sebelumnya. It was hard to believe and to finally accept that facts.

Usually as a self-righteous person, I tend to feed my mind with positive thinking about myself. Sehingga saat berada di keadaan sulit, hal-hal negatif yang dulu saya acuhkan jadi terakumulasi dan menyebabkan saya menyalahkan diri sendiri.

Jika kalian belum pernah mendengar tentang self-righteous, mungkin definisi dari merriam webster berikut bisa dijadikan referensi.

Self–righ·teous

adjective \-ˈrī-chəs\

: having or showing a strong belief that your own actions, opinions, etc., are right and other people’s are wrong

Ketika seseorang dengan self-righteous sedang berada di keadaan yang buruk, atau saat mulai menyadari bahwa mereka juga melakukan kesalahan, mereka yang biasanya merasa benar jadi cenderung berbalik menyalahkan diri sendiri. Mereka jadi merasa cemas dan juga insecure. Mereka terlalu merasa bersalah sehingga level stress mereka memuncak. And here comes the devastating moment. Beruntung, baru-baru ini saya menemukan artikel tentang self-compassion.

Sebelum membahas self-compassion, saya akan lebih dulu membahas tentang self-esteem. Self-esteem, jika dilokalkan ke bahasa Indonesia mungkin biasa disebut dengan harga diri. Self-esteem adalah cara kita menilai diri sendiri. Seberapa baikkah diri kita? Apa kekurangan kita? Hal-hal semacam penilaian diri kita secara pribadi.

Seseorang yang memiliki low self-esteem, akan cenderung membenci dirinya sendiri, kurang percaya dengan kemampuannya dan lebih rentan terhadap depresi. Sedangkan seseorang dengan high self-esteem, akan cenderung lebih percaya diri, merasa spesial, dan cenderung narsis (which is highly similar with self-righteous). Mereka cenderung lebih sering membandingkan dirinya sendiri dengan orang lain untuk mendapatkan perasaan bahwa mereka lebih baik. Ini adalah salah satu penyebab bullying yang banyak terjadi di jaman sekarang. Pelaku bullying melakukan hal tersebut untuk mendapatkan perasaan bahwa dirinya jauh lebih kuat, lebih berkuasa sehingga mereka merasa harga dirinya meningkat karena hal tersebut.

High self-esteem, sebenarnya bermanfaat dalam beberapa hal. Mereka yang memiliki high self-esteem cenderung lebih mudah untuk memotivasi dirinya untuk berproses menjadi lebih baik lagi. They would feel good about their selves if they meet their goals, sehingga mereka menggunakan goal tersebut untuk memotivasi dirinya. Tapi saat melakukan kesalahan atau mengalami kegagalan, mereka akan merasa dirinya adalah seseorang yang buruk. High self-esteem baik diterapkan di keadaan normal, namun akan menjadi bumerang saat dirinya gagal untuk mencapai sesuatu. Disinilah self-compassion berperan untuk menetralisir keadaan.

Menurut Belle Beth Cooper dalam artikelnya The truth about self-esteem, sementara self-esteem adalah cara kita menilai diri sendiri, self-compassion adalah cara kita memperlakukan diri sendiri. Self-compassion tidak mengajarkan kita untuk menilai diri kita secara positif, tapi mengajarkan kita untuk memaafkan diri sendiri saat melakukan kesalahan, untuk menerima diri kita seutuhnya.

Dalam artikel tentang self-compassion yang lain, Kristin Neff, menuturkan bahwa berbeda dari self-esteem, seseorang dengan self-compassion tidak harus mencapai goal tertentu untuk merasa bahagia atas dirinya sendiri. Justru kebahagiaan itu tetap hadir saat kita sadar bahwa diri kita tidaklah sempurna.

Lebih jauh lagi, Kristin Neff berkata ada 3 komponen utama dalam mencapai self-compassion.

Pertama, self-kindness. Di saat-saat sulit, kita biasanya bertindak lebih keras terhadap diri kita sendiri. Self-kindness adalah memperlakukan diri sendiri dengan lebih  pengertian dan sabar, seperti saat kita memperlakukan orang lain (terutama yang kita sayangi). Bayangkan saat kita memberi nasehat kepada seorang teman baik ketika mereka sedang mengalami kesusahan. Begitu pula kita harus memperlakukan diri sendiri saat berada di masa-masa sulit. Belajar untuk mengakui kelemahan daripada bertindak terlalu kritis terhadap diri sendiri. Stop beating yourself up. Saat melakukan kesalahan atau menemui kegagalan, cobalah fokus ke apa yang bisa dipelajari dari peristiwa itu.

Kedua, common humanity. Ketika self-esteem movement membuat kita selalu berusaha untuk menjadi berbeda dari yang orang lain, terpisah dari manusia kebanyakan, self-compassion menempatkan diri kita menjadi sejajar seperti manusia lainnya. Menjadi manusiawi, yang berarti bahwa seperti halnya manusia lain, kita pun bisa melakukan kesalahan. Dengan menyadari bahwa kita sama seperti manusia lainnya, maka kita akan lebih mudah memaafkan diri kita sendiri.

Dan yang ketiga, mindfulness. Mindfulness mengajarkan kita untuk benar-benar memahami keadaan diri kita sendiri. Bahwa kita harus benar-benar mengerti dan menerima keadaan bahwa kita sedang berada di keadaan sulit sehingga akan lebih mudah untuk menerapkan kasih sayang terhadap diri kita sendiri di masa itu. Seringkali, keadaan sulit yang disebabkan oleh kritik dari diri kita sendiri membuat kita tidak sadar bahwa kita sedang melukai diri sendiri. Sehingga sulit untuk menerapkan self-compassion jika kita sendiri belum menyadari penyebab luka kita.

Tidak mudah memang, menerapkan kebiasaan apalagi pola pikir baru. Tapi untuk melatih pikiran kita, mungkin self-compassion writing exercises ini bisa dicoba. Video TEDx dari Kristin Neff di bawah ini juga worth to watch untuk menambah pemahaman tentang self-compassion. And btw, this is my most favorite TED talk by far so I highly recommend this one.

Sekarang setelah mengetahui tentang self-compassion, pikiran saya jadi lebih tenang. Saya jadi lebih menerima hal-hal yang tadinya saya sangkal terus-menerus. My perfectionist self being aware that imperfection is just human. And now I already stop the drama and on my way back to my track. (:

Foto : http://weheartit.com

Do not (only) focus on the finish line

keep going

“Bukan bangun lebih awal, tapi tidur lebih cepat” – Ong Mariani

Seorang teman baik berpesan seperti itu pada saya. Dia tau obsesi saya untuk memulai kebiasaan baru bangun lebih pagi yang dulu sulit saya lakukan.

Dulu, seperti kerbau yang dicocok hidungnya saya percaya begitu saja dengan quotes yang menyatakan jika ingin berhasil, we need to go for the extra mile. Saya pun menyalah artikannya dengan belajar sampai dini hari. Bahkan kadang sampai tidak tidur sama sekali jika ditambah mengerjakan hal lain. Sampai akhirnya tidur malam jadi kebiasaan yang begitu saja terjadi. Rasanya jadi sulit untuk memulai tidur lebih cepat. Bahkan saat tidak memiliki suatu hal untuk dikerjakan, tidur cepat tetap saja terasa sulit.

Tapi itu dulu. Sekarang sedikit banyak saya sudah tersadar bahwa extra mile yang ngoyo seperti itu tidaklah sehat jika dijadikan kebiasaan. Saya masih begadang sampai tengah malam, tapi hanya jika ada pekerjaan yang benar-benar urgent. Di luar itu, saya berusaha untuk tidur lebih cepat dibanding dulu.

Lewat pesan teman saya di awal tadi, saya jadi sadar akan beberapa hal. Bahwa dibanding tujuan akhir untuk bangun pagi, ada proses yang akan membuat kita lebih mudah untuk mencapai tujuan kita yaitu persiapan tidur lebih cepat di malam harinya. Sering kali saat kita mulai mengejar suatu goal, kita hanya fokus pada hasil akhirnya. Padahal ada proses yang akan membuat kita lebih mudah mencapai goal tersebut yaitu persiapan.

Hal berikutnya yang saya pelajari adalah bahwa tidak ada finish line dalam mengejar goal untuk memulai kebiasaan baru. Kebiasaan merupakan suatu yang continual. Ketika kita berhasil memulai kebiasaan baru dalam beberapa minggu bukan berarti kita berhasil mencapai garis akhirnya. Kita masih harus terus melakukannya sampai kapan pun.

Setelah menyadari hal-hal tersebut, having a quality morning bukanlah hal sulit lagi bagi saya. Bukan berarti dengan mengurangi begadang lalu saya juga jadi berhenti going for the extra mile. Justru extra mile saya hanya berubah waktunya. Dulu saya melakukannya di malam hari, sekarang saya melakukannya di pagi hari setelah mendapat istirahat yang cukup.

Ngomong-ngomong tentang istirahat, beberapa artikel berikut mungkin berguna untuk menambah pengetahuan kalian tentang tidur yang berkualitas :

How to get better sleep: The beginner’s guide to overcoming sleep deprivation

How to sleep better: The 3 ways to improve your sleep

Wish you get a better sleep tonight and be happy for Monday! (:

Foto :  http://vk.com/

Keri Smith – Wreck this journal

keri coverSekilas nggak ada yang aneh dengan sampul bukunya. Tapi setelah dibaca isinya, saya pun bergumam “Owalaa, gendheng!.”

Isi buku ini sama sekali bukan sesuatu yang ingin saya baca atau lakukan. Bahkan saya berfikir teman saya sudah keliru karena memberikan buku seperti ini untuk seorang OCD seperti saya. Isinya hanya perintah-perintah random dan bahkan cenderung menjijikan yang akan sangat aneh dilakukan jika kita sedang dalam keadaan “normal”. Perintahnya seperti disuruh menuangkan kopi ke sebuah halaman, menggambar garis aneh, menyobek halaman, merusak, menempelkan halamannya atau bahkan menempelkan permen karet atau benda-benda yang lengket di sebuah halaman.

1053

Saya pun awalnya sama sekali tidak berniat untuk mengisinya. But one night in last week I was stressed out and pretty random, so saat melihat buku ini di lemari saya pun terketuk untuk mengisinya. And it actually works to release some stress. Hahaha.

17911Walaupun belum mengisi bagian-bagian yang menjijikan (and I’m not really sure that I can do that),tapi buku ini ternyata cukup fun untuk diisi. Mungkin kalian bisa mencoba juga untuk mengisi waktu luang.

Untuk mereka yang pernah kulukai hatinya

speaktruthIni untuk mereka yang pernah saya lukai hatinya sengaja atau tidak disengaja. Seperti yang diceritakan di tulisan ini bahwa saya percaya semua orang adalah orang baik, begitupun saya merasa tak pernah benar-benar ingin melukai seseorang. Karena bagaimanapun hati nurani saya (Insya Allah) masih berfungsi dengan baik.

Meskipun begitu, siapalah saya mengaku tak pernah berniat menyakiti. Hidup saya pun tidak selalu membuat saya menyunggingkan senyum. Ada kalanya saya juga ingin menampar seseorang atau mengaku benci di hadapannya langsung. Walaupun sampai sekarang saya belum pernah tega untuk melakukannya.

Saya pun tahu persis pasti banyak orang yang pernah terluka karena celetukan spontan saya. Maaf karena saya masih percaya kalau lebih baik mendengar kejujuran yang pahit daripada hanya mendengar kalimat motivasi yang manis. Tapi setelah meminta maaf, saya juga ingin memberitahu kalau karma memang berlaku. Karena saya pun mendapat banyak kesakitan karena perkataan orang lain. Jadi sedikit banyak saya tahu rasa pedih sekaligus manfaat dari perkataan-perkataan itu. Karena tanpa kesakitan tersebut, saya pun tak pernah tau apa yang benar-benar menyebalkan dari diri saya. Tanpa kesakitan itu pun saya tidak akan benar-benar tau bagaimana memperbaiki kekurangan-kekurangan saya. Walaupun sampai sekarang pun saya masih merenovasi diri. Bukankah esensi manusia itu untuk selalu berproses?

Tapi jika kalian pernah merasa saya mengambil sesuatu dari kalian, percayalah jika saya tidak pernah bermaksud demikian. Saya penganut “gubuk sendiri lebih baik dari pada istana orang lain”. Dan bukankah hidup itu berputar? Yang sama-sama kita miliki sekarang bisa saja hilang dari kehidupan saya sedangkan kalian tetap memilikinya. Pun mungkin sama probabilitasnya jika nantinya saya yang memiliki namun kalian malah kehilangan. Kepemilikan bukanlah sesuatu yang mutlak. Apapun itu. Tidak terkecuali harta, status, maupun jabatan.

Pun atas semua kesalahpahaman yang menimbulkan kekesalan atas sikap saya selama ini. Juga sikap kasar yang kadang keluar begitu saja apalagi saat didera rasa penat yang memuncak, maafkanlah. Mungkin hati nurani saya tidak sedang mendominasi kala itu.

Saat ini pun entah mengapa terpikir kalau menulis ini bisa sedikit berguna di masa depan jika kelak suatu saat saya tiada. Mungkin terdengar sedikit licik dan serakah karena menginginkan kalian memaafkan saja setelah membaca tulisan ini. Tapi biarlah saya tetap menuliskan ini demi kebahagiaan saya.

Entahlah. Mungkin karena terlalu percaya kalau saya adalah orang baik membuat saya melupakan beberapa kesalahan yang tidak disadari. Rasanya saya juga terlalu mencintai diri sendiri sehingga terlalu mudah menyepelekan kesalahan yang saya perbuat. Tulisan ini mungkin sedikit banyak bisa mengingatkan bahwa diri ini tidaklah begitu baik.

Sumber foto : http://weheartit.com/andygrammer

It’s okay to quit sometimes

outSering kali, quotes atau petikan kata-kata kita jadikan motivasi atau inspirasi dalam menjalankan kehidupan. Tapi sadarkah kalian bahwa tidak semua quotes bisa kita terapkan di semua situasi dalam kehidupan sehari-hari?

Some quotes only work on certain situation. Jika ditelan mentah-mentah, suatu quote bahkan bisa saja menyesatkan. Karena sebelum menerapkannya dalam kehidupan, kita perlu menyesuaikan keadaan kita dengan nasihat yang terkandung dalam quote tersebut. But, to know whether it’s the right situation or not, tanyakan pada diri kalian sendiri. Karena kalianlah yang paling tahu keadaan kalian sendiri. Kalianlah yang bisa memproyeksikan mana yang kira-kira benar untuk diterapkan, dan mana yang tidak.

A quitter never wins and a winner never quits

Ambil saja contoh quote di atas. Sebuah inspirasi yang mengajarkan kita untuk menjadi seseorang yang tidak mudah menyerah meskipun sesuatu tidak berjalan lancar dan terasa berat. Tapi apakah benar seperti itu? Padahal dalam kehidupan, kadang memang ada beberapa hal yang tidak pernah berhasil kita kerjakan walaupun kita mengerjakannya dengan sepenuh hati.

It’s okay to quit sometimes

Kadang kita mudah menyepelekan orang yang memutuskan untuk menyerah. Menyerah bukanlah sikap pemenang, katanya. Tapi dibalik itu semua, seseorang yang memutuskan untuk menyerah pasti sudah punya perhitungan di balik keputusannya untuk menyerah.

Menyerah bukanlah sesuatu yang mudah

Setidaknya bagi saya, menyerah bukanlah sesuatu yang bisa diputuskan dengan mudah. Karena pada dasarnya, manusia mempunyai kecenderungan untuk tidak rela meninggalkan hal-hal yang sudah dimulainya dengan sepenuh hati. Sebelum memutuskan untuk menyerah, seseorang pasti akan memikirkan niat awal dia melakukan hal tersebut dan berapa banyak tenaga dan pikiran yang telah ia curahkan untuk pekerjaan itu. Karena tenaga dan sumber daya kita adalah sesuatu yang terbatas, mengeliminasi beberapa hal bisa membuat kita lebih leluasa untuk mengerjakan sesuatu yang lebih kita inginkan.

Ideas are like rose buds

Mengutip dari artikel James Clear, dia mengibaratkan ide seperti kuntum bunga mawar. Saat bunga mawar tumbuh, dia akan menghasilkan kuntum baru untuk menggantikan yang lama. Agar terlihat cantik, kuntum mawar yang lama perlu dipangkas untuk memberikan ruang bagi mawar lain yang baru mulai tumbuh. Seperti kuntum mawar yang dipangkas tadi, kita juga perlu mengeliminasi beberapa pekerjaan yang sudah terlalu lama menyita perhatian tanpa banyak membuahkan hasil. Meskipun untuk melakukannya bukanlah hal yang mudah. Jadi pastikan untuk memikirkan matang-matang sebelum benar-benar menyerah terhadap sesuatu.

It helps to be clear on exactly what you’re leaving behind. – Danielle Laporte’s #TruthBomb 623

Kita harus memiliki hitung-hitungan yang jelas sebelum memutuskan untuk menyerah. List down both the pros and cons. Dan mintalah saran ke orang kepercayaan kalian. Saya jarang menerapkan trik yang kedua sehingga baru menyadarinya setelah membuat keputusan. Kadang keputusan yang diputuskan sendiri jadi terkesan egois sehingga masukan dari orang lain bisa kita jadikan referensi dan membuat kita lebih objektif dalam membuat keputusan. But always keep in mind, sama seperti quotes yang perlu pertimbangan sebelum diterapkan, tulisan ini juga tidak sepenuhnya bisa diterapkan di semua situasi. Jadi, bijaksanalah sebelum menyerah.

Kembali ke pembahasan quotes tadi. Walau tidak semuanya bisa diterapkan, bukan berarti quotes hanya omong kosong belaka. Tetap, di dalamnya mengandung nasihat yang sampai sekarang pun saya masih banyak terinspirasi darinya. Namun agar hasil penerapannya maksimal, kalianlah yang paling tau apa yang benar-benar kalian ingin lakukan.(:

Foto : http://weheartit.com/

Referensi :

• James Clear: What to do when you have too many ideas (and not enough time) – http://jamesclear.com/pruning

• Paul Jarvis: Call me a quitter, just ask Vince Lombardi – https://pjrvs.com/a/quit

Double Happiness versi Allah

Jauh sebelum menuliskan artikel double happiness di tulisan ini, ternyata Tuhan saya lebih dulu telah mengekalkannya di kitab suci.

Al-Baqarah [2:265]

Dan perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya untuk mencari rida Allah dan untuk memperteguh jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buah-buahan dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiramnya, maka embun (pun memadai). Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Tuhan memang Maha dari semua kebaikan. (: