Mereka yang mengabaikan hati nuraninya

large2Entahlah, dari dulu saya percaya bahwa semua orang pada dasarnya adalah orang yang baik. Jadi jika suatu saat ada orang yang berbuat buruk, mereka pasti punya alasan tersendiri melakukan perbuatan tersebut.

Tapi ada seseorang yang saya kenal yang percaya, kalau semua orang memiliki kemungkinan yang sama untuk melakukan hal baik maupun buruk. Jadi katakanlah seseorang yang Anda kenal merupakan orang baik, bisa saja dia melakukan suatu hal yang jahat atau bahkan sangat jahat. Begitu pula orang yang Anda pikir adalah seseorang yang jahat, ia juga memiliki kemungkinan melakukan hal baik, sama seperti orang lain yang kita anggap orang baik.

Mungkin sekilas konklusinya tidak jauh berbeda. Bahwa semua orang berkemungkinan untuk melakukan hal buruk yang disebut kejahatan. Tapi biarlah saya tetap pada keyakinan bahwa pada dasarnya semua orang adalah orang baik. Biarkan saya menjelaskan alasannya.

Jika ditanya, saya yakin semua orang di dunia ini akan mengakui jika ia pernah memiliki pemikiran buruk seperti mencelakai orang lain atau minimal membalas dendam pada orang yang menyakitinya. Tapi jika ditanya lebih lanjut apakah ia benar-benar melakukan pemikiran buruk tersebut, saya rasa kebanyakan orang akan menjawab tidak benar-benar melakukannya. Kenapa? Karena setiap orang punya hati nurani.

Terlepas dari hukum yang menjelaskan hal mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak atau anjuran kitab suci yang menjelaskan mana yang baik dan mana yang buruk, saya percaya pada dasarnya hati nuranilah yang menuntun semua orang untuk melakukan hal baik. Kompas kebaikan ada di hati nurani setiap orang. Dialah yang menunjukan perbuatan mana yang sekiranya manusiawi untuk dilakukan atau tidak. Bahkan jika tanpa hukum atau undang-undang pun, jika semua orang mengikuti kompas nuraninya, saya pikir dunia bisa terasa seperti surga.

Maka dari itu ketika seseorang memutuskan untuk melakukan hal buruk, ia pasti sudah memiliki perhitungan tersendiri dengan hati nuraninya hingga akhirnya ia benar-benar melakukan hal tersebut. They have debate within their own conscience. Hasilnya, dalam menghadapi keadaan terpojok, manusia sering melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hati nuraninya. Maka dari itu, siapalah kita bisa mengkategorikan orang menjadi orang jahat. Dari pada itu, mungkin kita bisa sebut mereka dengan manusia yang sedang mengabaikan hati nuraninya.

Foto : http://weheartit.com/shelynneR

I’m a jerk, aren’t I?

jerkSaya ahlinya melihat sesuatu dari sudut berbeda dari orang lain. Ketika seseorang mengatakan sesuatu itu baik, maka saya ahlinya mencari kecacatan untuk membantah pendapatnya. Pun sebaliknya. Ketika sekumpulan teman sedang sibuk bergosip hal buruk tentang seseorang, saya ahlinya mencari kebaikan si korban gosip untuk kemudian dengan sok bijak mengemukakannya di depan mereka.

Dan sering kali, pemikiran saya terlampau berbeda dengan teman-teman yang menyebabkan mereka bergumam “duh, pikiranku rak tekan (aduh, pemikiran saya nggak sampai situ-red).”

Dan parahnya, saya seringnya nggak ragu untuk mengemukakan pendapat saya yang seringnya terlampau aneh itu bahkan ke orang yang belum terbiasa dengan pola pikir saya. Yang kemudian setelah saya menyadarinya, saya jadi bergumam dalam hati “I’m a jerk, aren’t I?

Bahkan nggak cuma itu. Dalam hal mengkoreksi orang lain pun saya bukan orang yang “sungkan”. I can be very honest to tell them. Sampai mungkin banyak yang jadi sakit hati karena itu.

Saya jadi berpikir sudah berapa banyak orang yang saya bikin gondok & sakit hati karena sikap terang-terangan saya yang keterlaluan. Dan seberapa banyak karma telah dibayarkan ke kehidupan saya karena itu?

But I’m still a virgo after all. Susah buat saya menahan kepalsuan orang yang mengiyakan saja padahal kenyataan menyangkalnya. Walaupun entah kenapa, saya tetap dikatai penjilat setiap kali memuji dengan sepenuh hati.

Mungkin tampang saya memang menyebalkan. Hahaha.

Foto : http://ronnywithawhy.tumblr.com/post/95297733638

Mungkinkah kamu juga sakit jiwa?

disorderKita sering merasa iba ketika melihat seorang pasien yang terkena penyakit fisik parah seperti kanker, kelumpuhan, dan sebagainya. Bahkan banyak film bergenre drama yang membahas tentang kisah & kehidupan pasien tersebut yang akhirnya laris di pasaran. Namun when it comes to mental disorder, kebanyakan orang jadi acuh, merasa aneh dengan pasien tersebut yang berujung pada perilaku penghindaran, tak simpatik, dan cenderung mengucilkan.

Padahal, they face the same problem. Mereka yang punya penyakit fisik maupun mereka yang punya gangguan jiwa sama-sama tidak menginginkan penyakit tersebut. Rasanya jadi tidak adil jika kita hanya simpatik pada orang yang berpenyakit fisik, namun merasa acuh pada mereka yang memiliki gangguan jiwa.

Dr. Suryani, SKp., MHSc, seorang dosen Fakultas Ilmu Keperawatan Unpad mengatakan bahwa stigma gangguan jiwa di Indonesia masih sangat kuat. Dengan stigma tersebut, orang yang mengalami gangguan jiwa seakan terkucilkan. Padahal, sebetulnya justru dukunganlah yang paling mereka butuhkan untuk melalui proses penyembuhannya.

Orang-orang sering mengucilkan dan memandang rendah orang berpenyakit mental seakan mereka tidak akan pernah mengalami penyakit tersebut. Padahal, selain gangguan jiwa berat, banyak orang juga mengalami gangguan jiwa ringan.

Perilaku sesederhana sering mencuci tangan bahkan bisa saja menjadi salah satu tanda gangguan jiwa. Ablutomania adalah istilah bagi orang yang sangat ketakutan dengan kotor. Penderita Ablutomania bisa sangat sering mencuci tangan, atau mandi karena dia tak pernah tahan dengan kotor.

Sedangkan climomania, adalah istilah bagi orang yang memiliki keinginan untuk berada di kasur secara berlebihan. Climomania berasal dari bahasa Yunani yang artinya obsesi tidur.

Atau ambil saja contoh istilah yang yang lumayan umum, narsissistic. Narsissistic sebenarnya adalah istilah bagi seseorang yang mengalami kelainan dimana ia selalu membutuhkan perhatian dan pujian.

Di era teknologi seperti sekarang ini, ada pula istilah Nomophobia, yaitu istilah bagi orang yang sangat takut terpisah dari gadget kesayangannya.

Jadi sebenarnya bukan hanya pasien di Rumah Sakit Jiwa saja yang mengidap gangguan jiwa. Teman yang sering menghabiskan waktu bersama atau random people yang biasa kita temui di tempat-tempat umum juga bisa saja mengidap gangguan jiwa meskipun ringan. Jadi, memandang rendah orang yang memiliki gangguan jiwa bukanlah sikap bijaksana yang kita lakukan. Mereka mungkin memang gila. Tapi lebih dari apapun, sama halnya seperti pasien lainnya, mereka hanya sakit.

Karena luka emosional yang mendalam selalu memiliki cara untuk membuat orang jatuh sakit dan buruk. Dan itulah bagian yang paling menakutkan. – Noh Hee Kyung

 

NB!
Tulisan ini terinspirasi dari drama It’s okay it’s love.

Foto : http://poetics.muzy.com/

Referensi :
http://www.unpad.ac.id/profil/dr-suryani-skp-mhsc-setiap-tahun-penderita-gangguan-jiwa-di-indonesia-terus-meningkat/
http://doktersehat.com/macam-macam-gangguan-jiwa-psikologi-yang-aneh/#ixzz3CQXeVeTA
http://www.huffingtonpost.com/mark-rubinstein/internet-addiction_b_3725881.html

Graduation Drama

graduationSemalem salah satu temen saya bilang, “Kamu bakal ngerasa 3 tahunmu di kampus itu sia-sia kalo liat temen-temenmu lulus duluan”. Tapi saya tipe orang yang percaya kalo orang yang wisuda cepet itu either dia tipe ambisius atau memang bener-bener jenius. Karena saya bukan dua-duanya, saya percaya kalo mereka-mereka ini lulus duluan saya nggak akan ngerasa miris.

Tapi hari ini saya ketemu seorang temen seangkatan yang cerita kalo dia udah mau wisuda tahun ini. Dia cuma tinggal ngelarin salah satu mata kuliah yang nilai dia masih kurang. Nah lo!

Akhirnya apa yang semalem saya bilang pun terbantah cuma dalam waktu sehari. Saya nyengir, ternyata selama ini saya terlalu naif.

Yang saya tau, temen saya tadi itu orangnya sama sekali nggak ambisius di perkuliahan. Disebut pinter banget juga nggak sih, standar aja.  Jadi nggak ada sama sekali bayangan di benak saya kalo dia bakalan ngelarin kuliahnya cepet-cepet kayak sekarang ini. Saya jadi mikir “what the hell are you doing during this time sih Ki?”

Sure, saya sempet nyesel nggak bisa manfaatin waktu sebaik orang lain. Tapi setelah dipikir, I have my own pleasure kok. Disaat temen-temen saya lagi berjuang ngelarin kuliahnya cepet-cepet saya juga bukannya cuma diem. Sekarang mungkin udah terlambat buat bikin orang tua saya bangga karena anaknya lulus kurang dari 4 tahun. But we take our own way lah. Saya sadar lulus cepet bukan satu-satunya jalan buat bikin orang tua saya bangga.

Itu semua kembali ke diri kita masing-masing. Back to my life-time principle kalo hidup saya di dunia ini kan buat seek for happiness. Jadi kalo buat orang lain lulus cepet itu bikin mereka seneng, ya biarlah mereka ngejar kebahagiaan mereka sendiri. Free your mind from jealousy, and let them chase their own happiness. Universe will help you back to chase your own dreams.

Peliharaan impian

unnamedKalian punya binatang peliharaan impian nggak? Kalo saya udah ketauan dari gambar diatas pasti anjing lah ya. Haha

Pengen melihara anjing buat muslim kaya saya itu dilema banget. Pegang aja najis, apalagi dipelihara. Bahkan sampe sekarang, saya belum pernah megang anjing sekalipun lho . *hiks*

Padahal kalo dibayangin, melihara anjing bakalan asik banget nggak sih? Bisa disuruh ngejagain rumah, bisa diajakin olah-raga bareng biar kitanya nggak males, bisa diajakin ngobrol (haha, saya pengen banget bisa ngobrol sama anjing), bisa nemenin kita kapan aja kita mau. Dan lagi anjing tuh kan binatang yang pinter kan ya. Pasti tingkahnya nanti macem-macem deh yang bikin kita heran, terharu, gemes. Ah, seru banget pasti.

Saking kepengennya melihara anjing, sekarang tiap ketemu anjing saya pasti bakalan excited nyamperin kaya fans ketemu artis idolanya gitu. Eh tapi kalo ketemunya anjing kampung yang dekil saya excitednya cuma bentar doang sih. Haha.

Dan yang paling bikin saya gemes sama anjing itu ya karena lucunya. Kalian setuju kan, kalo tsih tzu itu lucu. Nggak kebayang kalo saya beneran pelihara anjing pasti dia bakalan bosen saya fotoin terus. Hahaha.

Saya sih ngebayanginnya nanti kalo udah independent, saya pengen melihara satu anjing trus saya bikinin kandang sendiri di luar rumah. Trus nyewa satu pekerja non-muslim buat ngurusin dia biar sayanya nggak usah megang-megang dia keseringan. Haha, licik ya. Buat sekarang sih saya harus puas sama Pudee dulu lah, haha. Duh, jadi kangen sama Pudee nih gara-gara nulis ini. (:

Kalo kalian, binatang peliharaan impiannya apa?

Don’t hurt present by saying “What if..”

I know, I know.. This sound so lame. But seriously, saya sering sakit hati kalo nginget-nginget kebodohan di masa lalu yang bikin saya mikir “Kalo saya gini mungkin nggak bakal gitu ya kejadiannya.”

Dari dulu saya tau sih, kalo menyesal itu ngga ada gunanya. Tapi baru sadar sekarang kalo ngeluhin masa lalu itu berpotensi buat melukai waktu kita saat ini. Kalo anugerah bisa ngomong, mungkin semua anugerah yang Tuhan kasih ke kita hari itu bakalan sakit hati kalo tau kitanya masih mikirin anugerah masa lalu yang gagal atau nggak lagi kita punya sekarang ini.

Aduh, apasih Ki? Anugerah kan nggak bisa ngomong..

Uhm gini deh. Intinya dengan ngeliatin perilaku penyesalan kita tentang sesuatu di masa lalu, itu bakal mengganggu kebahagiaan kita disaat itu. Kurang lebih gitu dah.

Itu kayak ngarepin mantan nggak sih? Atau sayanya aja yang terlalu drama? Ah, untung mostly saya menyesalnya di dalem hati (eh, tulisan ini nggak termasuk lagi nyesel kan?). Saya kan nggak enak kalo anugerah hari ini nyampe denger saya lagi ngeluhin beberapa kebodohan saya di masa lalu (aduuh, apa lagi coba?).

Aduh, saya random banget hari ini. Maafin ya. Di saat orang-orang pada upload selfie lebaran gitu saya malah publish foto beginian coba.

Saya punya sih, selfie lebaran. Tapi saya kan nggak mau mainstream. Haha. Tetep, #ngeles

Mungkin lagi kurang humor kali. Makanya saya pikir upload foto begituan gonna be fun. Tapi ternyata freaking out juga pas liat ada temen lama yang nge-like. Nyesel dikit sih, tapi yaa udah kepalang basah juga, haha. :D

Okay, buat memperbaiki citra gegara foto tadi, pamer foto mainstream dikit gapapa dah. :3

Pasukan ranger-pink mohon maaf lahir batin buat semua yang baca blog ini yaa (:

Pasukan ranger-pink mohon maaf lahir batin buat semua yang baca blog ini yaa (:

Lebaran kali ini anggota kita komplit nih. Dua tahun kemaren kan papah nggak lebaran di rumah terus, jadi kali ini happiness-nya bertambah dari lebaran tahun-tahun lalu. Walaupun saya lagi sakit dari kemaren-kemaren nih, hikss. Badan emang nggak bisa diboongin ya. Lagi banyak yang dipikirin, walaupun udah berusaha nggak mikirin tapi efeknya malah meriyang. ):

Anyway, one more thing that excite me more than anything di lebaran kali ini adalah ketemu banyak ponakan! Haha. Nggak tau juga sih, mungkin bawaan masih pengen ketemu sama Fiora kali ya. Saya biasanya emang nggak bisa nahan kangen lama-lama si,  jadi pelampiasannya kemaren tiap liat anak kecil saya uyel-uyel terus aja. Aduh kan, inget lagi. Rasanya tuh pengen culik salah satu trus saya bawa ke rumah gitu. Gemeeees. >,<

Okay, you start to being overrated here. I’m gonna stop then. Bye!

New happiness rule

Minggu lalu saya sadar tentang satu happiness-rule baru. Bahwa untuk menemukan kebahagiaan sederhana, saya perlu menyingkirkan kata ‘paling’.

Paling menderita, membuat saya berfikir bahwa tak ada orang yang mengerti penderitaan yang saya alami. Paling bahagia, membuat saya berpikir jika tidak dalam situasi paling bahagia tersebut maka kebahagiaan yang lain hanyalah mediocre happiness.

Anggapan ‘paling’ tersebut secara tidak sadar menjadi tolak ukur bahwa saya berada di urutan teratas dari sebuah keadaan. Sehingga melahirkan anggapan bahwa tak ada yang lebih dari keadaan ini. Padahal..

Di atas langit masih ada langit.

Kita tak pernah tau apakah ini ‘paling’ atau bukan. Seperti kata pepatah di atas bahwa di atas langit masih ada langit. Kita pun begitu. Tak tau nasib apa yang akan kita temui di masa depan, kita masihlah bisa merasakan kebahagiaan atau kesedihan yang lebih dari keadaan yang kita anggap ‘paling’ tadi. Lalui saja keadaan itu dengan baik lalu lanjutkanlah kehidupan. (:

 

Bonus!

Lagu terbaru dari salah satu penyanyi favorit saya. Minggu kemarin saya baru mendengarnya lewat sebuah kpop chart. Mendengar lagu ini rasanya tenang dan damai (walaupun artinya tidak begitu, hehe). Have a listen! (=

Fiora..

Aku tak tau seorang mahluk kecil kenapa bisa menggerakan sebuah hati.

Akupun tak begitu mengerti berlembar kata-kata kenapa malah kalah membuatku tersenyum dari pada seulas lengkungan dari bibir mungilmu.

Aku juga tak pernah tau kenapa suaramu yang terdengar lemah malah mampu menyejukan batin.

Bahkan aku pun baru sadar, menuliskanmu mengapa bisa membuatku sampai sedemikian romantis?

Maka dari itu kalau ada yang bilang mereka tak menyukaimu, jangan percaya omongan mereka. Mereka mungkin hanya menyangkal kemurnianmu.

Pun kelak di masa depan ketika ada orang bilang kehadiranmu bukanlah sesuatu, jangan pedulikan mereka. Mereka tak tau bagaimana kamu mengubah makna hidup seseorang hanya dengan kehadiran.

Kamu mungkin tak pernah mengatakannya. Tapi kehadiranmupun (paling tidak) mengajarkan aku satu hal:

Hasil dari sebuah ketulusan tak pernah salah.

Walaupun tentu, itu akan lebih baik jika dilakukan dengan cara yang baik pula. (:

FioraTerima kasih sudah jadi muse kali ini ya Fio. Sampai kita bertemu nanti, tetaplah lucu seperti itu yaa. Tante kangeeeen >,< *peluk virtual*

Tarawih bonus onta

Suatu hari ketika baru sampai musholla untuk menunaikan sholat tarawih adik saya berkata, “mbak, kita dapet sapi!”. Saya pun memasang raut muka bingung kemudian dia menjelaskan.

“Kata ibu, kalo kita sholat di shaf pertama kita bakal dapet onta. Kalo shaf kedua dapet sapi, shaf ketiga dapet kambing.” begitu katanya.

Tentu saya pun tau ibu hanya bercanda. Kalaupun benar ada dalilnya, saya pun tak begitu peduli. Toh saya bukannya mau membuat peternakan di akhirat nanti. Tapi sampai sekarang setiap kita pulang tarawih topik itu selalu jadi candaan kita yang seakan tak ada bosannya.

Lalu di suatu malam berbeda setibanya di musholla saya menemukan sebuah selebaran. Tentang kelebihan sholat tarawih dari malam pertama, sampai yang ketiga puluh. Selebarannya sederhana. Tapi pulang tarawih saya jadi berpikir tentang banyak hal.

Tuhan, selama ini saya ibadah pamrih nggak ya ?

Pamrih karena kelak dapat unta lalu berebut shaf pertama. Pamrih karena ingin mendapatkan balasan seperti di selebaran tadi, lalu pergi sholat tarawih. Saya takut jadi hamba yang pahalaistis (mengutip kata materialistis). Melakukan suatu amalan karena mendambakan balasan pahala dari Tuhan.

Kiki nggak gitu kan Tuhan? Aku takut.

Rapatkan shaf kan memang anjuran. Pun pergi tarawih kan memang karena disunnahkan. Lagipula harusnya pahala bukan sesuatu yang lalu bisa kita kalkulasi, bukan?

Lalu bagaimana dengan ustadz yang memberi tahu kalkulasi pahala di selebaran tadi?

Ustadz kan hanya memberi tahu. Toh mungkin bukan maksud mereka mengiming-imingi kita dengan selebaran pahala tadi (kamu saja yang terlalu sensitif, Ki). Dia mungkin hanya ingin mengajak lebih banyak orang ke jalan kebaikan. Biar musholla lebih ramai. Dia juga bukan yang tau persis perhitungan malaikan Raqib, bukan?

Lalu maksudnya kamu nggak mau pahala Ki? munafik!

Bukan seperti itu juga sih. Cuma rasanya kurang pas saja. Bukannya akan lebih indah jika kita beribadah karena rasa cinta & syukur? Beribadah bukan karena kewajiban, tapi karena kecintaan kita ke Tuhan. Memberi bukan karena menginginkan kembali, tapi karena rasa syukur Tuhan sudah memberikan yang lebih.

Lagipula siapa sih yang menghitung-hitung pahala?

Kamu saja yang over analyzed, Ki. Orang-orang juga mungkin bukan karena janji akan pahala berlipat ganda baru pergi ibadah. Kamu saja yang su’udzon. Okay, baiklah. Maaf sudah su’udzon.

Lalu sepulang tarawih melihat jama’ah yang sholat di teras musholla saya jadi penasaran.

“Terus yang paling belakang dapet apa yung?”

“Dapet kandang ayam mbak. Kosong, cuma ada e’eknya. Hahaha” My sister was so funny. She’s a lot like my mom. (:

Tentang kebencian

Lalu apa guna maaf, jika setelah maaf terucap, rasa bencinya masih tertinggal. Pun ketika maaf tak pernah terucap, rasanya benci bukan pilihan yang tepat.

Benci itu duri hati. Ketika kamu benci, kamu menyimpan dengan baik sepotong duri  berbahaya yang bisa saja berbalik melukaimu di masa depan. Maka dari itu buang saja durinya. Bukankah kamu tidak suka terluka?

Pun ketika ada banyak alasan menyakitkan yang membuatmu tak lagi menyukai seseorang, tidak bisakah kau mengubur saja duri itu? Bukankah kamu seorang pelupa ulung?

Lagipula mungkin kamu salah paham. Rasa itu mungkin saja bukanlah kebencian. Itu hanya kemarahan atas dirimu sendiri yang kamu lampiaskan pada orang lain. Bukankah ini tidak benar?

Dan lagi, rasa-rasanya membenci bukanlah gayamu. Oh, mungkin kecuali satu pengecualian. Manusia kadang tanpa sadar membenci dirinya sendiri lebih dari orang lain. Tapi tenang, most of the time itu bukan karena dirimu buruk kok. Kamu hanya tak sanggup membenci sasaranmu sehingga membelokkan peluru bencinya ke kepalamu sendiri. Tapi lebih dari apapun itu, bukankah tidak ada kebahagiaan sempurna yang didapat dari rasa benci? Maka dari itu maafkan saja..