The happy part of sharing

Sudah beberapa bulan berlalu sejak saya memutuskan untuk rutin menulis artikel setiap minggu di blog ini. Bahkan jika jeli, beberapa dari kalian mungkin sadar saya selalu menyelipkan kata “bahagia” di setiap judul artikel yang saya buat. Mengapa demikian?

Share what you love, and the people who love the same things will find you – Austin Kleon

Sejak memiliki ketertarikan ke hal-hal tentang kebahagiaan, saya jadi lebih sering membaca artikel tentang hal tersebut, termasuk tentang pengembangan diri, dan psikologi. Bahkan saya memiliki beberapa penulis favorit yang sedikit banyak telah membentuk mindset saya selama ini. Hal tersebut membuat saya lalu berfikir, jika mereka tidak pernah mempublikasikan tulisannya, bagaimana saya bisa mengembangkan pemikiran seperti sekarang ini?

Begitu juga melalui blog ini saya tidak bermaksud untuk sok tau tentang semua teori kebahagiaan yang selama ini saya pelajari. Karena bahkan bagaimanapun juga, setiap orang memanifestasikan kebahagiaan dengan pola pikirnya masing-masing. Begitupun saya tidak bermaksud agar kalian bisa mengikuti pola pikir seperti yang selama ini saya bagikan lewat tulisan saya.

I’m here to share what I’ve learned and provide you a choice to learn from me.

Saya disini untuk membagikan apa yang saya telah pelajari dan memberikan pilihan bagi kalian untuk belajar dari tulisan saya. Seperti yang sudah pernah saya tulis disini, saya hanya ingin meraih tangan siapapun yang ingin memperoleh kebahagiaan seperti saya dengan mempelajarinya bersama-sama.

Begitu pula saat baru-baru ini saya memutuskan untuk menerima tawaran menjadi mentor di kelas mobile programming yang diadakan salah satu komunitas di kampus saya. Saya sama sekali tidak pernah berifkir untuk menjadi mentor di kelas pemrograman, apalagi mobile programming. Karena bahkan sampai saat ini, saya hanya pernah membuat 2 aplikasi yang itupun tidak bisa diperhitungkan menurut saya. Tapi ketika mempertimbangkan tawaran tersebut, pemikiran lain malah muncul di otak saya.

Siapa yang meminta saya untuk menunjukan seberapa ahli saya dalam membuat aplikasi? Nobody want me to do that. Mereka hanya ingin saya membantu para peserta untuk belajar dengan membagikan apa yang saya tau tentang mobile programming.

Tidak perlu tau semuanya untuk bisa mengajarkan suatu hal

Saya sama sekali bukan seorang expert. Bahkan kerap kali saya khawatir jika secara tidak sadar mengajarkan sesuatu yang keliru. Tapi saya sadar di luar sana selalu ada orang yang tau lebih sedikit dari yang saya tau. Begitupun sebaliknya, ada pula orang yang tau lebih banyak hal dari yang saya tau. Itulah mengapa, tidak perlu tau semuanya untuk bisa mengajarkan suatu hal. Meskipun pastinya akan lebih baik jika saya tau lebih banyak hal.

Itulah mengapa pada pertemuan pertama pelatihan kemarin, saya menerangkan pada para peserta bahwa saya disini tidak untuk mengajarkan mereka untuk membuat aplikasi seperti yang saya buat. But I’m here to help. Karena jika mereka hanya berharap dari apa yang saya ajarkan, maka mereka hanya akan tau sejauh yang saya tau. Padahal, saya ingin mereka tau lebih dari saya.

Karena seperti banyak orang bilang, “tidak perlu menunggu berlebih untuk berbagi”. Begitu juga dalam hal membagi ilmu. Ingatlah bahwa selalu ada seseorang di luar sana yang tau lebih sedikit dari yang kalian tau. (:

Menjadi mahasiswa bahagia meski ditinggal teman wisuda

image credit : http://www.voxmagazine.com/ I feel you guys. Jadi mahasiswa memang bukan pekerjaan mudah. It indeed quite depressing sometimes. Beberapa waktu yang lalu saya bahkan sempat membaca sebuah majalah yang menyatakan bahwa 41% mahasiswa mengalami gangguan mental selama menjadi mahasiswa. Meskipun begitu, gangguan mental disini bukan semata-mata berarti menjadi gila ya (dude, please!).

Ada banyak tekanan di lingkungan kampus yang sedikit banyak berpengaruh terhadap kesehatan mental kita. Tidak hanya permasalahan pada dunia perkuliahan, society di lingkungan kampus juga sedikit banyak mempengaruhi kondisi mental kita sehari-hari. Itulah mengapa, menjaga kondisi mental agar tetap stabil selama menjadi mahasiswa menjadi satu topik penting yang seharusnya tidak kita anggap remeh.

Apalagi saat memasuki masa-masa tugas akhir. Masa dimana mahasiswa rentan sekali dengan perasaan cemas, gelisah, rasa iri, bahkan depresi. Ditambah lagi, saat teman-teman seangkatan (atau bahkan sahabat karib kita) mulai mempersiapkan hari wisudanya sedangkan kita masih berkutat dengan tugas akhir. Lalu bagaimana kita, sebagai yang ditinggalkan tetap merasa bahagia meskipun ada tawaran dari perasaan cemburu untuk merasuki emosi kita? Well, saya merangkum 5 kiat menjaga kesehatan mental agar tidak tergoyahkan oleh tendensi emosi negatif di masa seperti ini :

  • Jangan membayangkan kebahagiaan orang lain

Saat melihat teman mengenakan toga di hari wisudanya, kita terkadang membayangkan betapa bahagianya jika kita yang berada di posisi itu. Hapuslah bayangan itu dari pikiran kalian! Ada sebuah penelitian yang menyatakan bahwa pikiran yang berkeliaran menandakan pikiran yang tidak bahagia. Pikiran yang berkeliaran tersebut adalah sebab dari rasa cemburu. Saat pikiran kita membayangkan betapa bahagianya orang lain berada dalam suatu situasi, hal tersebut akan menyebabkan suatu keinginan dari dalam diri kita untuk berada dalam situasi yang sama agar ikut merasakan kebahagiaan seperti yang dibayangkan. Yang mana, ketika kita kembali ke kenyataan dan tidak menemukan keadaan yang sama, hal tersebut akan menimbulkan benih-benih emosi negatif yang timbul akibat dari pikiran kita sendiri. Tariklah napas yang panjang. You’ll soon experience that moment too. Ini waktunya kita berbahagia atas kebahagiaan teman kita. (:

  • Mencari kambing hitam atas keadaan kalian

Mungkin memang ada beberapa faktor yang membuat kalian belum juga selesai menamatkan tugas akhir. Tapi menyibukkan diri untuk mencari siapa yang salah tidaklah membuat keadaan menjadi lebih baik. Saat suatu keadaan tidak diinginkan terjadi, berhentilah mencari siapa yang bersalah, tapi mulailah berpikir untuk menyelesaikan permasalahannya.

Take responsibility but do not blame yourself!

  • Buatlah rencana sendiri

Saat kalian sudah memiliki rencana sendiri, maka tak ada lagi perasaan iri yang merasuk ketika melihat teman-teman lain sudah mulai menjalani tahapan kehidupan yang selanjutnya.

Get something on your plate so other people’ plate won’t make you envy anymore.

Saya tau topik ini merupakan salah satu topik sensitif yang tidak banyak diperbincangkan secara umum apalagi di lingkungan kampus. Teman-teman kalian akan membagikan status tentang persiapan sidang akhir atau wisudanya tapi saya yakin tak satupun dari mereka yang memasang status betapa putus asanya ia mengerjakan tugas akhir. Because no one want to talk about their mental slump in public. Maka dari itu saya membagikannya lewat tulisan, agar kalian bisa membacanya sendiri-sendiri serta merenungkannya.

Btw, happy graduation for all my fellow friends out there! Wish you all have a bright future along your way. (:

Inilah mengapa saya tidak terlalu bahagia belakangan ini

Belakangan ini ada banyak monster yang mengajak saya bertarung. Namun karena terlalu banyak monster, saya malah merasa ragu dan takut untuk mengalahkannya sehingga akhirnya memilih menghindar tanpa melawan satupun diantaranya.

Tapi bukan monster tadi yang membuat saya tidak bahagia belakangan ini. Tadi hanya perumpamaan ketika terlalu banyak yang ingin kita lakukan, tapi pada akhirnya kita tak melakukan apapun karena terlalu cemas. Saya tidak menyebutkan bahwa kesibukanlah yang membuat saya tidak bahagia. Tapi fakta bahwa saya tidak melakukan apapun karena terlalu sibuk overthinking-about-everything lah yang membuat saya tidak merasa bahagia belakangan ini.

Saya paling tidak bahagia ketika saya merasa tidak produktif.

Bukan berarti saya tidak menyukai waktu libur (I love holiday! Even just think about it make me excited). Namun sering kali, saya merasa bersalah jika melewatkan waktu yang seharusnya bisa digunakan dengan baik, namun malah terlewat begitu saja tanpa mengerjakan apapun. Bahkan beberapa hari tidak menulis pun saya merasa cemas.

Belle beth cooper, menyebut keadaan yang saya ceritakan di awal tadi sebagai workload paralysis. Yaitu saat kita mengalihkan perhatian ke hal-hal lain sebagai pelarian sehingga kita bisa menghindar dari hal yang seharusnya dilakukan. Dan sering kali, kita terlalu asik berada di pelarian tersebut sehingga tidak tahu bagaimana cara kembali ke rutinitas semestinya.

Workload-paralysis-no-faceBeruntung, Belle memberikan beberapa tips berikut ini agar bisa keluar dari siklus workload paralysis tadi:

  • Pilih satu monster dan lawan sampai dia kalah

Bayangkan dalam sebuah video game, kita dikeroyok beberapa monster dan harus mengalahkan semuanya jika ingin memenangkan game tersebut. Kemungkinannya adalah, kita ingin segera mengalahkan semua monster-monster tersebut, bukan? Tapi sayangnya, kita hanya bisa mengalahkan mereka satu per satu karena kita adalah seorang single fighter dalam game itu.

Begitu pula dalam dunia nyata. Dihadapkan dengan berbagai macam pekerjaan bukan berarti kita harus mengerjakan semuanya dalam satu waktu. Cukup pilih satu jenis pekerjaan dan kerjakan sampai selesai. Dengan begitu, kita akan lebih mudah mengarahkan fokus dan totalitas pun tetap terjaga.

Because extraordinary success is sequential, not simultaneous. – Gary Keller

  • Kelompokan monster-monster tersebut

Dalam bermain game, kita perlu membuat strategi. Monster mana yang harus kita kalahkan lebih dulu dan mana yang bisa kita kalahkan dengan mudah belakangan. Dengan mengelompokkan monster-monster tersebut, maka kita bisa dengan mudah mengenali kelemahan-kelemahan mereka.

Begitu juga dengan pekerjaan. Kita perlu membuat prioritas pekerjaan mana yang lebih penting dan harus kita selesaikan lebih dulu serta pekerjaan mana yang bisa kita selesaikan belakangan.

  • Lawan pasukannya terlebih dahulu

Sebelum melawan monster di akhir level, biasanya kita perlu melawan pasukan-pasukan yang melindungi si monster terlebih dahulu. Hal ini berlaku juga dalam melakukan suatu pekerjaan. Dengan memulai dari menyelesaikan pekerjaan ringan terlebih dahulu, kita akan memiliki lebih banyak percaya diri untuk menyelesaikan pekerjaan yang lebih besar. Ingatlah bahwa langkah kecil masih lebih baik daripada tidak bergerak sama sekali.

Saya biasanya mengatakan pada diri sendiri agar tidak fokus ke garis finish, tapi fokus dalam membuat progress. Garis finish biasanya terlihat jauh sehingga menambah ketakutan kita. Namun jika kita fokus membuat pergerakan, maka tak peduli seberapa jauh perjalanan kita ke garis finish yang penting adalah kita selalu bergerak mendekatinya.

  • Jaga selalu energimu

Perlu diingat bahwa kita perlu mengalahkan sejumlah monster dalam permainan ini. Maka energi kita haruslah kita jaga agar bisa tetap bertahan sampai permainan selesai. Jangan sampai kita kalah di tengah permainan karena kehabisan energi.

Begitupun dalam kehidupan sehari-hari. Kita perlu memprioritaskan kesehatan tak peduli sebanyak apapun pekerjaan yang harus kita lakukan. Jadi, selalu biasakan untuk makan makanan yang sehat, tidur yang cukup serta olah raga agar kita selalu berada dalam kondisi prima.

Saya tahu saya bukanlah satu-satunya orang yang bertarung melawan banyak monster disini. Kalian juga mungkin pernah mengalami keadaan seperti yang saya ceritakan. Menunda pekerjaan karena rasa ragu dan takut. Hal tersebut sangatlah manusiawi. Namun jika dirasa sudah terlalu lama menunda, maka kita perlu bertindak untuk mengalahkan monster-monster yang harus kita hadapi.

Kuncinya, jangan pernah menganggap remeh suatu pekerjaan. Pekerjaan yang kita anggap remeh biasanya malah tersisih dan berakhir dengan tidak tersentuh sama sekali. Yang terpenting adalah melangkah sekecil apapun daripada hanya menunda hingga waktu yang “kita pikir” tepat. Seperti yang dikatakan Sean Smith dalam sebuah artikel di medium baru-baru ini.

Get moving, get started. There is never a right moment. You go when you’re ready.

Happy wrestling with your monsters! (:

The happy part of loneliness

8282489023_95bb196caa_bBeberapa waktu yang lalu saya merasa aneh dengan diri saya sendiri karena merasakan kesepian ketika sendirian. Ini tidak seperti biasanya karena sebelumnya saya percaya bahwa saya adalah seorang introvert. Jadi kesendirian bukanlah hal yang biasanya saya permasalahkan. Hal tersebut lalu menyadarkan saya, sejak kapan saya membutuhkan teman?

The need to be with other people. When did I start to have this kind of feeling, really?

Tidak memerlukan waktu lama sampai saya menyadari bahwa saya bukanlah seseorang yang dominan introvert. Ada kalanya saya sangat menikmati waktu dengan diri saya sendiri, tapi ada juga saat saya merasa harus bertemu dengan keramaian agar merasa kembali ‘hidup’. It reveal a new fact of myself that I’m actually is an ambivert. Well, just so you know, ambivert¬† adalah tipe kepribadian yang memiliki keseimbangan psikologi antara introvert dan extrovert.

Jadi, untuk memahami sisi ambivert yang baru saya sadari, akhir-akhir ini saya mulai mendalami fenomena kesepian. What is loneliness, actually?

Orang awam akan mendefinisikan kesepian sebagai keadaan saat ia sendirian atau terasing. Namun dari sisi psikologi, kesepian ternyata hanyalah keadaan pikiran dimana seseorang merasa tersisih, tidak dikasihi. Jadi, sangat memungkinkan jika kita merasa kesepian padahal sedang bersama teman-teman. Yang mana lalu menyadarkan saya bahwa kesepian yang saya rasakan di awal cerita ternyata bukanlah kesepian sebenarnya. Tapi mari teruskan pembahasan kita tentang kesepian.

Kesepian yang sesungguhnya bisa menyebabkan seseorang merasa kosong, sendiri dan tidak diinginkan. Ketika merasa kesepian, seseorang biasanya melakukan hal untuk terhubung dengan orang lain untuk menghilangkan perasaan sepinya. Meskipun hal itu sebenarnya bisa menjadi percuma jika ia tidak mengubah keadaan pikirannya.

Berita buruknya adalah, kesepian bisa menjadi salah satu gejala gangguan psikologis seperti depresi. Bahkan, di Jepang ada satu fenomena yang disebut kodokushi atau mati karena kesepian. Tingginya jumlah penduduk lansia di Jepang menyebabkan banyak lansia yang tidak lagi memiliki keluarga, meninggal karena kesepian tanpa disadari orang lain.

Interaksi sosial memang mempengaruhi perasaan kesepian yang dialami seseorang. Namun sebuah penelitian menunjukan bahwa yang menentukan dalam interaksi sebenarnya bukanlah kuantitas melainkan kualitasnya. Jadi, memiliki sebatas 3 orang teman terdekat sebenarnya sudah cukup untuk menangkal kesepian.

Lalu bagaimana seharusnya seseorang mengatasi kesepian yang dialaminya? Berikut ini beberapa hal yang saya rangkum dari yang sudah saya pelajari akhir-akhir ini:

  • Menyadari bahwa kesepian adalah sebuah perasaan, bukan kenyataan

Kenyataan adalah sesuatu yang sudah tidak bisa kita ubah lagi karena sudah terjadi. Sedangkan perasaan adalah keadaan pikiran kita saat menghadapi suatu kenyataan. Kita sebenarnya bisa memanipulasi perasaan meskipun kenyataannya sama. Jadi, saat kita merasa kesepian, sadarilah bahwa bukan kenyataan yang membuat kita merasa sepi, melainkan pikiran kita sendiri yang menyebabkannya.

  • Menyadari bahwa kesepian adalah pertanda jika kita harus melakukan sesuatu

This is the happy part of loneliness that I’m talking about. Kesepian sebenarnya bisa menjadi satu alarm bagi diri kita untuk melakukan sesuatu yang baru. Saat merasa sepi dan bosan biasanya saya suka melakukan hal spontan yang tiba-tiba saya pikirkan. Jadi, lain kali ketika kalian merasa kesepian, tersisih, dan tidak diinginkan, katakanlah “screw them! Let’s do something fun even when it’s alone.” (ini tips yang agak introvert-ish sih ya :3)

  • Ciptakanlah pikiran positif

Penelitian menyebut jika orang dengan perasaan hampa lebih mungkin mengembangkan pikiran negatif daripada positif. Jadi, saat merasakan kesepian, cobalah kenali pikiran negatif yang ditimbulkan dari perasaan sepi yang kita alami. Lalu perlahan-lahan, gantilah pikiran negatif tersebut menjadi pemikiran positif.

So, that’s it! Happy dealing with loneliness, dear reader. (:

Bahagia dengan momen kalibrasi

Saat hal-hal mulai kacau dan suasana jadi serba terburu-buru saya sering berkata pada diri sendiri,

“Bernapas dulu Ki..”

Beberapa teman yang mendengarnya kadang protes. “Lho, dari tadi emang nggak bernapas?.” Tentu saja bernapas juga. Tapi bernapas kali ini berbeda.

Bernapas dalam keadaan ini saya sebut dengan momen kalibrasi. Momen dimana saya mengembalikan sejenak pikiran saya ke kondisi normal (kondisi tidak terbebani masalah). Bernapas dalam momen kalibrasi harus dilakukan secara terfokus dengan merasakan udara yang masuk perlahan ke saluran pernafasan kita maupun saat kita bergantian mengeluarkannya.

Karena ketika keadaan mulai kacau, manusia kadang sulit untuk berpikir dengan jernih. Sejenak berpisah dengan keadaan tersebut bisa membantu kita menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Momen kalibrasi biasanya membantu saya untuk menjaga pikiran agar tidak terlalu mengikuti emosi. Walaupun tidak secara langsung menyelesaikan masalah, setidaknya itu akan membantu pikiran kita lebih tenang untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi.