Buat apa?

Dulu saya berfikir, belajar adalah bentuk tanggung jawab seorang anak kepada orang tua yang telah membiayai pendidikannya. Prosesnya begini,

Belajar – dapet nilai bagus – orang tua seneng – kelar!

Tapi lama kelamaan saya sadar saya salah. Menyenangkan orang tua memang tugas kita sebagai anak, tapi tujuan utama belajar ternyata bukan itu saja.

Belajar adalah proses memperkaya pikiran. Dengan belajar, kita bisa tau banyak hal. Dengan mengetahui banyak hal, kita tak mudah dibodohi orang. Belajar itu menguntungkan dan mengasyikan (jika hal yang kita pelajari adalah bidang yang kita senangi). Jadi sebenarnya tujuan saya belajar adalah untuk memperkaya otak. Ibarat seseorang bekerja untuk mengumpulkan uang, saya belajar adalah untuk mengumpulkan ilmu.

school

Hari ini saya menonton televisi tentang kecurangan sebuah sekolah yang membeli kunci jawaban Ujian Nasional untuk anak didiknya. Mungkin bagi sebagian orang, itu topik basi karena sudah lumrah terjadi di masyarakat. Kecurangan kok dianggap sesuatu yang lumrah ya? Buat saya, sekolah seperti itu, sungguh memalukan.

Dua kali saya menjalani Ujian Nasional, saya belum pernah sama sekali menggunakan kunci jawaban apapun. Saya percaya kemampuan saya sendiri, and it proved. Saya selalu lulus dengan skor yang bagus.

Mungkin ada yang protes “ah, kamu mah emang udah pinter dari sononya”. Ketahuilah hey kalian semua, “Kita nggak bisa makan buah kalo kita nggak menanamnya”. Maksutnya, pintar itu tidak diperoleh secara gratis. Saya belajar ketika teman-teman saya mungkin sedang main gundu. Saya belajar ketika teman-teman saya mungkin sedang nongkrong. Saya belajar, saat teman-teman lain mungkin asyik nonton TV. Tidak ada pintar pintas yang ‘dari sononya’.

Belajar demi pencitraan. Itu yang kebanyakan terjadi di negara ini. Demi menjaga citra sekolah, demi NEM yang bagus biar bisa diterima di sekolah favorit, demi gengsi, demi image personal.

“saya nggak perlu pintar kok, yang penting lulus dan nilai saya bagus”. Haduh, mindset memang susah diubah ya..

Saya coba buat daftar beberapa hal yang ‘lumrah’ ala anak sekolahan yang menurut saya tidak keren sama sekali :
1. Corat-coret seragam setelah dinyatakan lulus

C’mon guys! Perilaku ini sama sekali nggak elegan. Apa manfaatnya mencorat-coret seragam? Apakah keren? Kalian malah terlihat seperti preman yang compang-camping. Tembok yang digambari mural liar bahkan lebih enak dipandang dari pada seragam kalian itu.. ckck

2. Mencontek lewat kunci jawaban

Biasanya, kalo saya tidak berhasil menemukan jawaban sebuah soal, opsi pertama yang saya pakai adalah feeling. Biasanya, saya pilih jawaban yang menurut feeling saya “mungkin” benar. Kalo bentuk soalnya essay, saya lari ke opsi kedua yaitu “mencontek teman”. Ini bagi saya lebih bermartabat dari pada mencontek lewat kunci jawaban. Jika teman dirasa kurang appropriate untuk dimintai contekan, saya pindah ke opsi terakhir : Ngarang-ngarang jawaban sesuai pendapat kita.

Nggak munafik sih, dulu kalo pelajaran hafal-hafalan saya juga sering bawa contekan rangkuman. Tapi sebenernya buat jaga-jaga aja kalo hafalan saya ilang dari otak. At least, pas bikin rangkumannya itu kan kita baca dan nulis materinya. Ohya, ini nggak berlaku buat contekan fotocopy dari catetan temen lho ya.

3. Ngerokok di area sekolah

Sampai sekarang saya masih bingung dimana letak “manfaat” ngerokok. Saya pernah mencicipi rokok, dan menurut saya itu nggak enak sama sekali. Saya heran kenapa ngerokok dianggap keren dan orang-orang yang belum pernah ngrokok dianggap cupu. Merokok tu nggak keren sama sekali! Apalagi yang ngelakuin anak SMP, yang notabene, uang saku aja dia masih pas-pasan. Apalagi ngerokoknya sambil nongkrong di pengkolan dan godain cewek-cewek yang lewat. Sama sekali nggak elegan!

Mungkin ibu saya ada benarnya juga. Sebelum memutuskan kuliah, ibu saya selalu nanya “Kamu masih mau belajar? Kalo kuliah nanti cuma buat nongkrong dan cari pacar, mending langsung nikah aja sekalian. Ibu lebih baik modalin kamu nikah daripada buat kuliah tapi percuma”.

Sekarang saya nanya, kalian sekolah buat apa?

Credit : pict took from weheartit

 

 

Priority activity

Semester ini, saya dihadapkan dengan seorang dosen yang terkenal sangat ketat terhadap nilai. Awalnya saya pikir ini adalah tantangan. Saya tanya ke seorang teman yang pernah diajar oleh dosen tersebut, dia bilang kuncinya mendapat nilai bagus di kuliah beliau adalah dengan mengerjakan setiap tugas yang diberikan. Saya berpikir “Okay, quite simple”. Saya juga tak ada masalah dengan cara pengajaran dosen tersebut.

Tapi ternyata, tugas yang beliau berikan lumayan banyak juga. 2 tugas besar sebelum UTS dan 2 tugas utama setelah UTS. Belum lagi tugas-tugas harian lainnya. Khusus untuk tugas utama sebelum UTS, awalnya saya pikir saya bisa menyelesaikan semuanya. Sampai akhirnya menjelang seminggu sebelum deadline, tugas saya belum selesai dan saya mulai stress. Mungkin ini memang salah saya karena tak menyicil mengerjakannya dari dulu.

Sampai akhirnya laporan tugas yang pertama pun sudah selesai. Saya menemui beliau dan melakukan konsultasi sebelum laporannya saya cetak. Ternyata laporannya pun menurut beliau masih salah! Lembur saya berhari-hari untuk mengerjakan laporan tersebut pun percuma sudah karena petunjuk pengerjaan laporan beliau yang kurang jelas. Belum lagi tugas kedua yang sama sekali belum saya sentuh.

Deadlinenya tinggal 3 hari. Mungkin jika saya mengerjakannya mati-matian masih bisa terselesaikan. Tapi kemudian, saya menyadari sesuatu.

Akan sangat melelahkan jika tugas ini saya paksakan. Akan menjadi tidak jujur jika saya mengerjakan ini hanya karena nilai. Akan sangat percuma, jika setelah semua ini saya kerjakan, nilai saya juga tetap jelek (karena saya sangat yakin tidak akan bisa membuat tugas besar setelah UTS). Saya pun berpikir sejenak sebelum melanjutkan tugas ini.

Saya melihat To do list dan Upcoming project list saya. Ada lumayan banyak hal yang harus saya selesaikan selain mengerjakan tugas tersebut. Saya merenung, lalu menemukan jawaban yang lumayan besar konsekuensinya.

“Saya tak menikmati pembelajaran dari pengerjaan tugas tersebut. Tanpa sadar saya mengerjakannya hanya demi nilai”

Setelah menyadari hal tersebut, saya berpikir untuk tidak melanjutkan pengerjaan tugas tersebut. Laporan tugas pertama yang sudah selesaipun tidak saya kumpulkan (Mengingat jumlah halamannya mencapai ratusan jika dicetak). Bukannya pelit, namun sejak beberapa waktu lalu saya berkomitmen untuk menggunakan kertas dan plastik lebih bijaksana. Percuma dong, ratusan kertas dihabiskan untuk mencetak laporan tapi nilai saya tetap buruk. Yang penting kan saya sudah mendapat ilmu dari pengerjaan tugas tersebut. (:

Saya tau konsekuensi atas ini semua. Kemungkinan besar saya hanya akan mendapatkan nilai D bahkan E walaupun saya mengerjakan soal-soal UTS dan UAS mati-matian nantinya. Tapi saya tetap memilih untuk menyerah di awal.

Menyerah karena :

1. Ini terlalu melelahkan

2. Mata kuliah ini bukan sesuatu yang saya suka pelajari

3. Berbagai project dan kegiatan lain yang lebih saya sukai

Mungkin saya egois karena hanya saya hanya ingin melakukan dan mempelajari sesuatu yang saya sukai. Tapi itu memang sifat dasar saya. Saya selalu mengibaratkan mata kuliah seperti menu makanan. Banyak menu yang disajikan, beberapa diataranya saya pesan, lalu saya makan satu persatu.

Menu yang saya sukai sudah pasti akan saya makan sampai habis. Menu yang sudah saya pesan, namun setelah saya cicipi saya tak menyukainya, akan saya tinggalkan. Dalam hal ini, mata kuliah tersebut adalah makanan yang saya cicipi. Saya memesannya, namun saya tidak menikmatinya.

Maaf, kalo saya ngajarin untuk menyerah di awal. Tapi saya memang tak suka menyiksa diri dengan melakukan hal-hal yang tak saya sukai dan membuat saya stress. Dan setiap orang punya prioritas sendiri-sendiri.. (:

tumblr_ljfo5hJH5z1qacpy3o1_500

Sorry sir, I’m giving up your assignments. But I promise I’ll do my best on examination (;

Happiness

“Apa yang kalian cari di dunia ini? Give me a clue”

Tadi pagi saya mendapatkan broadcast message aneh seperti di atas dari teman saya. Tak perlu sedetik sampai saya mendapatkan jawabannya.

“Kebahagiaan”

Sayangnya saya kehabisan pulsa tadi pagi, jadi saya nggak sempet balas pesannya. Tapi aneh sekali sih kalo saya bilang. Masa pertanyaan seperti itu saja teman saya tidak tau jawabannya. Memang sih, tujuan orang hidup di dunia mungkin berbeda-beda. Tapi masa setidaknya petunjuk untuk dirinya sendiri saja dia tidak tau? Kan kasian.. Trus selama ini dia hidup buat apa dong? ):

Saya sendiri memilih jawaban tersebut bukan ngga ada alasannya ya. Kebahagiaan itu luas dan selalu jadi never-ending-story setiap kali saya bahas ini. Kalo seandainya tujuan hidup seseorang itu hanya ingin sukses, lalu setelah sukses, dia ngapain lagi dong? Foya-foya dengan kesuksesannya itu? Lalu lebih miris lagi, seandainya dia nggak berhasil jadi orang sukses gimana dong? Percumakah hidupnya selama ini? Tentu tidak, bukan?

Lakukanlah hal yang membuat kalian bahagia (bukan yang merugikan orang lain loh ya). Misalnya, jika menyanyi membuat kalian bahagia, maka menyanyilah. Jika memasak membuat kalian bahagia, masaklah dan biarkan orang lain mencicipi masakan kalian (biar bahagianya bisa di-share. Kalian senang, orang lain juga bahagia karena kenyang). Jika sudah pusing mengerjakan tugas kuliah dan tidak mengerjakan tugas tersebut membuat kalian bahagia, maka lakukanlah (haha, yang terakhir sebenernya curhat :b).

Being alive means that we need to help other people.

Quote di atas mungkin bisa jadi quote tambahan tentang kehidupan. Saya mengutipnya dari film “One litre of tears” yang kemarin saya ceritakan. And I totally believe it. Saya selalu percaya Double Happiness itu.. (:

Antara a litre tears dan passion

Beberapa hari ini saya nonton (idk whether itu film atau serial Jepang) One litre of tears. Buat yang nggak tau itu film apa, googling aja ya, kelamaan kalau saya jelasin disini. Well, sebenernya pas nonton film itu, saya agak dejavu karena ceritanya sangat mirip sama serial Indonesia yang dibintangi Chelsea Olivia sama pacarnya yang tayang dulu itu loh. Nggak tau deh, yang mana yang jiplak. But that’s not what I’m gonna talking about.

Setiap nonton serial tersebut, saya berpikir tentang banyak hal. Tentang keluarga Ikeuchi Aya yang selalu kompak (what I’m envy the most dari film ini), tentang Asou Haruto yang akhirnya pengen jadi dokter gara-gara suka sama Aya yang notabene penyakitan. Tentang adeknya Aya yang look like a rebel but actually sangat sayang sama keluarganya. Tentang sakit dan kematian. Tentang what if I’m on Aya’s position? Will everyone in my family will support me like Ikeuchi’s family do? Will my mom will melt a little bit? Sort of questions.

Well, saya pengen bahas satu-satu dari pikiran-pikiran yang saya sebutin diatas, but maybe later. Yang pengen saya bahas sekarang adalah tentang Asou Kun yang akhirnya bercita-cita pengen jadi dokter (padahal dulunya nggak mau) gara-gara pengen nyembuhin Aya. Enggak, saya bukan mau bahas cinta-cintaannya (save it for later dulu ya), tapi tentang cita-cita.

Dari dulu saya berpikir kalau seseorang harus punya suatu alasan tersendiri atas cita-cita yang dipilihnya (nggak kaya cinta ya. For me, cinta kayaknya terlalu kompleks buat dijelaskan alasannya). Yaa, minimal seseorang punya cita-cita tersebut karena menyukai pekerjaannya. Lebih bagus lagi, seseorang memilih suatu cita-cita, karena disitulah passion mereka. Get the point?

Kadang miris juga si liat temen-temen yang milih masuk jurusan tertentu karena lagi nge-trend. Bahkan malah berpikir, selama ini mereka ngapain aja si, sampe cita-cita aja nggak punya. Pernah seorang temen minta nasehat ke saya, enaknya dia masuk apa ya abis SMK. Yang saya tanya pertama adalah, “Kamu sukanya ngapain?”. Dia jawab “main”. Saya ketawa lalu bilang lagi “Maksudnya yang agak akademis dikit gitu”. Dia jawab “Apa yaa, bingung. Orang tua si nyuruhnya bla bla blaaaa”. Enough said, dia sendiri aja bingung arah hidupnya sendiri. Apa lagi saya.

Ada lagi seorang teman lain. Dia terkenal nakal dan genit. Tapi saya tau dia pinter banget nulis dan selera fashionnya juga lumayan. One day dia juga minta nasehat sama seperti temen sebelumnya. Saya bilang “Kamu itu pinter nulis, ambil aja bahasa.” Tapi dia bilang “Nulis aku suka sih. Tapi kalo musti masuk bahasa kayaknya berat deh buat aku.” Dan pas saya baru masuk kuliah, denger-denger dia ngikut sodaranya ambil jurusan fashion di esmod. Bahkan dia sempet minta saran ke saya buat bikin blog. Saya baru kepikiran, “Oh iya, pas nih. Dia kan pinter nulis, anak esmod pula sekarang. Keren nih kalo dia bisa bikin blog tentang fashion” saya sudah mulai optimis. Tapi beberapa waktu kemudian, saya denger kalo dia quit dari esmod dan milih kerja jadi SPG rokok. Such a pitty sih kalo saya bilang.

Saya sendiri sebenernya juga nggak lebih baik sih dari mereka. Cita-cita saya buat jadi arsitek gagal karena saya pilih masuk SMK. But well, not a bad option karena passion saya dalam art itu luas. Di jurusan saya sekarang ini juga saya nggak terlalu menyesal. Makanya saya iri banget sebenernya kalo liat temen yang udah tau passionnya dari dulu, dan bahkan udah nyusun langkah strategis buat mewujudkannya. Bersyukurlah hey kalian ini, nggak semua orang punya awareness tentang passion kaya kalian!

What I mean with passion itu beda ya sama hobby. Hobi itu sesuatu yang suka dikerjakan pas senggang. Sedangkan passion buat saya itu sesuatu yang nggak pernah kita bosen ngelakuinnya. Misal nih ya, ada orang suka fotografi karena lagi ngetrend dan karena kebawa temen-temennya. Dia jadi minta beli kamera, lensa, ini itu sama orang tua mereka. Padahal yang dia kerjain ya, itu-itu aja. Nggak, mengeksplor fotografi banget banget si kalo saya bilang. Tapi dia ngakunya disitulah passionnya. Itu mah “hobby musiman” kalo saya bilang. (Sorry, ini no-offense loh ya)

I mean, buat saya cita-cita itu sakral ya. Cita-cita itu sesuatu yang bakal jadi pekerjaan kita nantinya (amin). Dan pekerjaan itulah nanti yang bakal kita lakukan seumur hidup. Saya sih nggak mau banget ya, seumur hidup ngerjain sesuatu yang nggak saya suka.

Banyak orang bilang kalo saya bisa ngomong begini karena belum mengalami sendiri. “Nanti juga kalo kamu ngerasain di posisi kepepet, akhirnya nyemplung juga.” Scary juga sih ngebayangin kalo saya jadi seperti mereka yang akhirnya asal milih pekerjaan for the sake of living. “Dari pada nganggur” mereka bilang. Tapi mumpung masih belum sampai batas itu, saya pikir masih ada waktu untuk mempersiapkannya.

Buat saya sendiri, sebenernya banyak banget pekerjaan yang saya sukai. Desain, blogging, crafting, translating (btw, ini saya ceritain lagi ya lain kali), bahkan saya juga sempet kepikiran jadi penyanyi (hahahaa). Makanya, sekarang udah nggak frustasi banget-banget si karena cita-cita awal saya gagal.

Khusus buat blogging sendiri, saya udah jatuh cinta sama pekerjaan ini dari SMP. Bahkan sempet kepikiran buat jadiin blogger sebagai main job saya. Kalo di LN aja bisa, kenapa di Indo nggak? Iya kan?

Dan saya selalu berpikir buat start my job as soon as possible. Makanya akhir-akhir ini saya sibuk belajar buat mengkomersilkan blog . Sibuk ngutak-atik google adsense, google affiliates network, bahkan sibuk belajar tentang PPC dan SEO juga.

Liat aja garten paradise sekarang udah punya beberapa iklan. Well, sebenernya saya sudah join google adsense dan affiliate network sejak beberapa waktu lalu. Pernah juga pasang beberapa banner, tapi karena nggak menghasilkan saya hapus lagi widget-widgetnya.

Bahkan beberapa kali (eh, kayanya baru 2 kali deng) bikin review post tentang suatu produk dan dibayar pake dollar. Nggak usah ditanya, itu rasanya bangga banget man, walaupun dollarnya cuma ngejogrok di paypal karena belum verify akun.

Setelah belajar dari beberapa tulisan, saya simpulkan kalau saya kurang konsisten dalam dunia blogging ini. Cuma gara-gara belum menghasilkan, langsung nyerah. Kalo yang review post sih, sebenernya nggak diterusin lagi gara-gara paypal macet yah. Jadi, agak dongkol si sebenernya.

Maka dari itu, bismillah ya. Mulai dari sekarang insya allah, bakal saya tambah kuantitas postingannya. Syukur-syukur iklannya di-klik sama para visitor. Hihihik. Posting panjang-panjang ternyata ujung-ujungnya promosi blog. *Peace!

Pokoknya buat apapun yang kalian lakuin di luar sana, kalo kalian enjoy ngelakuinnya, go for it! Tunjukin kalo kalian bisa survive dengan pekerjaan itu. Seberapapun orang tua ngelarang, kalo liat kalian udah sukses sama apa yang kalian lakuin sekarang, pasti mereka dukung. Dengan catatan, kalian buktiin dulu loh ya! Pokoknya saya nggak ngajarin ngeyel. Okay? (:

 

PS! Kayanya ini blog suram banget ya nggak ada gambar blas. Better to put some next time kali ya? :3