World War Z & Local App Developer

image credit goes to bloody-disgusting.com

Well done Paramount! Saya nggak akan mereview film ini. Karena to be honest, saya nggak jago mereview film. Mungkin cuma akan share sedikit opini saya tentang WWZ (podo wae Ki. Haha :D).

Beberapa kali saya membaca review film ini sebelum menonton filmnya. Blog langganan saya tentang urusan perfilm-an biasanya A Chinephile’s Diary dan Junebug. Saya selalu membaca review film dari beberapa perspektif karena pendapat orang kan biasanya berbeda-beda. Dari 2 blog langganan saya tersebut, semuanya memberikan rating yang cukup bagus. So, ekspektasi saya waktu itu “Okay, this must be amazing!”.

But here comes my opinion:

Ide awalnya sebenarnya simple yaitu seorang agen PBB Gerry Lane (Brad Pitt) yang ditugaskan menyelidiki virus awal penyebab manusia berubah menjadi zombie. Tapi mereka mengeksekusi ceritanya dengan sangat apik, menegangkan, tapi tetap enjoyable. Dan yang paling saya sukai dari film ini adalah less-disgust-nya. Film ini tak menyuguhkan hal-hal menjijikan yang biasa disuguhkan di film zombie (ya walaupun ini daya tarik awal film zombie sih ya) seperti darah dan organ tubuh yang berserakan di jalan, dll yang Anda tau sendiri. Walaupun minus hal tersebut, 115 menit tetap terasa menegangkan dan full action.

Namun menurut saya, chemistry antara antara aktor utama (Brad Pitt) dan istrinya (Mireille Enoz) somehow kurang dapet ya. Dan nggak tau kenapa saya sih ngerasa peran Mireile Enoz di film ini kurang penting dan lebih sebagai pelengkap cerita aja.

Dan ada beberapa hal yang menurut saya agak janggal. Yaitu saat Brad pitt melakukan beberapa kali adegan menelepon istrinya saat berada di pesawat. Dan selamat dari crash plane yang begitu dahsyat dengan luka yang (ah, better not to tell kali ya. jadi spoiler ntar malah :D). It’s just unrealistic.

Tapi overall, film ini cukup smart dan thrilling. Satu-satunya film bergenre zombie yang bisa ditonton sama semua umur. Dan recommended banget buat yang baru kelar UAS atau adek-adek sekolah yang baru aja liburan.

Anyway, saya juga punya rekomendasi aplikasi buat kalian yang suka nonton film. Dan kerennya, kedua aplikasi ini buatan Indonesia! Ah, senangnya liat ide kita terwujud (saya once pernah terpikir ingin membuat aplikasi semacam ini).

Yang pertama, Movreak (kalian bisa download aplikasinya disini). Nggak tau kebetulan macam apa ini. Tapi waktu saya kepikiran pengen bikin aplikasi semacam ini, nama yang saya pikir pertama kali adalah Movreak. Dan surprisingly, sudah ada yang membuat aplikasi ini dengan nama yang sama seperti yang saya pikirkan. Movreak ini setau saya buatan orang Bandung ya (cmiiw). Kalo diliat di credit aplikasinya sih, Movreak ini buatan Dycode. Minusnya si Movreak ini, sekarang dia ada ads-nya (padahal dulu nggak ada). Walaupun adsnya mostly cuma event-event gitu si. Tapi tetep aja.. 😦 (saran: mending dibikin menu sendiri deh. Menu event atau apa gitu. Lagian eventnya masih ada hubungannya dikit sama Movreak kaan :D)

Yang kedua, MovPlex (kalian bisa download aplikasi ini disini atau versi HDnya disini). Ini selingkuhan saya akhir-akhir ini karena Movreak di android masih banyak bug-nya. Mungkin karena masih beta version kali ya (eh, masih beta nggak sih? cmiiw :3). Kalo si MovPlex ini, dia bikinan Warcod (By the way, kok semuanya ada unsur code-nya ya? -,-). So far sih, saya enjoy pake MovPlex. Cuman yaa itu, di kedua app ini belum ada fitur untuk beli tiketnya langsung (atau minial pilihan seat yang masih available kali ya).

Tapi cukup bangga sih, udah ada developer lokal yang kepikiran bikin aplikasi semacam ini. Di luar ada nggak sih? kayaknya masih patokan sama imdb deh ya. Yaa, minimal Indonesia udah one step ahead dengan mencoba bikin aplikasi semacam ini sendiri lah yaa. Hidup developer lokal! 😀

The Happiness Project

“I would like to become tolerant without overlooking anything. Persecute no one even when all people persecute me; become better without noticing it; become sadder, but enjoy living; become more serene, be happy in others; belong to no one, grow in everyone; love the best, comfort the worst; not even hate myself anymore.” – Elias Canetti

Setiap hari saya mendapatkan quote yang kurang lebih seperti di atas langsung di inbox email saya karena saya menjadi subscriber dari happiness-project.com. Entah sejak kapan saya mendaftar jadi subscriber mereka. Tapi yang pasti sejak itu saya merasa setiap hari ada yang mengingatkan untuk stay happy and be grateful for the life you have. Want to start your own happiness project? Find out more about it here. (:

Sepertinya saya mulai tertarik..

Dari awal masuk TI, I have no idea kecenderungan saya kemana. Bahkan saya sempat merasa saya salah jurusan (well, sepertinya setiap mahasiswa merasakan ini :b). Jadi programmer dan harus berkutat dengan script? No way! Saya sama sekali nggak menikmatinya. Sistem informasi yang katanya lebih female-friendly juga nggak menarik buat saya. Mungkin cuma web-design yang sedikit menarik minat saya kali ya (itupun karena ada embel-embel design, haha :D).

Tapi akhir-akhir ini sepertinya saya mulai tertarik pada bidang kesosial-mediaan (maksudnya bidang yang berhubungan dengan sosial media :p). Saya baru sadar dari awal saya mengenal dunia IT, internet dan sosial media-lah yang membuat saya selalu semangat mempelajarinya. Mempelajari disini maksudnya lebih ke mempelajari fenomena sosial medianya yaa (dont get me wrong).

Ohya, sebelum baca artikel ini lebih lanjut ada baiknya kita samain presepsi dulu kali ya. Kalo selama ini yang kalian ngerti tentang sosial media hanyalah facebook, mungkin kalian bisa baca dulu pengertian sosial media dari wikipedia berikut ini :

“Social media refers to the means of interactions among people in which they create, share, and exchange information and ideas in virtual communities and networks.”

Jadi sosial media adalah interaksi antar manusia (membuat, berbagi dan bertukar informasi) yang terjalin  dalam komunitas dan jaringan virtual (internet). Jadi sosial media disini bukan cuma facebook, tapi semua jaringan komunikasi sosial seperti blog, twitter, google+, instagram, foursquare, dll. Okay, sekarang dianggap udah ngerti semua yaa. (:

Ketertarikan ini baru saya sadari setelah membuat majalah digital untuk organisasi di fakultas saya beberapa waktu lalu. Kebetulan saya memilih topik tentang sosial media (idk how this idea came up). Dan semenjak membuat majalah itulah saya sadar bahwa selama ini saya selalu passionate setiap membicarakan tentang fenomena sosial media.

Sedikit flash back perjalanan mengenal dunia sosial media. Saya mengenal internet di awal masa SMP (syukur saya waktu itu memilih SMP di tengah kota yang memungkinkan saya mendapatkan fasilitas lebih baik daripada di tempat asal). Untuk mengakses internet pun dulu masih lewat warnet. Dan sejak membaca sebuah artikel di majalah tentang tata cara membuat blog, saya langsung excited untuk mempraktekannya sendiri.

Platform pertama yang saya gunakan waktu itu adalah blog indosiar (saya lupa detail namanya). Terus merambah ke dunia friendster. Rasanya waktu itu seneng banget ya, udah bisa bikin friendster lebih dulu dibanding temen-temen (hahaha :D).

Terus lanjut di SMK, udah mulailah itu booming Facebook. Saya akui Facebook memang sosial media ter-user friendly dibanding yang lain. Konsepnya yang “umum” membuat orang awam pun mudah untuk mempelajarinya. Padahal dulu saya sempat berfikir “Yaelah, facebook gitu doang. Enak juga friendster kita bisa kreasi dengan macem-macem tamplate.” (Huahaha :D)

Lalu mulai tahun 2009 saya baru ngeh sama twitter (iyaa, agak ketinggalan jaman memang) disaat teman-teman saya masih asik sama facebook. Dilanjut sampe sekarang, LinkedIn, Instagram, Foursquare, dan masih banyak lagi sosial media yang masih saya pelajari.

Berita baiknya adalah, penduduk Indonesia seneng ngobrol! Dan sosial media menyediakan tempat untuk itu. That’s why sosial media gampang booming di Indonesia.  Dan semakin saya mempelajari fenomena ini, semakin saya paham bahwa banyak banget peluang dan manfaat yang bisa kita dapet dari sosial media (asal kita menggunakannya secara bijak).

Beberapa hari ini saya bahkan rajin membaca blog Abang Edwin SA (@bangwinissimo). Buat yang belum kenal, beliau ini adalah seorang konsultan internet khususnya di bidang sosial media. Sebuah profesi yang boleh dibilang sangat langka di Indonesia. Tentunya, dia bisa jadi konsultan seperti itu melalui proses yang panjang. Buat yang pengen belajar dari beliau, mungkin bisa baca-baca blognya di bangwin.net atau membaca kolom beliau di Daily Social.

Sedikit referensi, infographic dari mediabistro dibawah ini mungkin bisa sedikit memberi gambaran tentang sejarah sosial media.

See? Sejarah sosial media bahkan udah dimulai di tahun 1978! Jauh sebelum saya lahir (hahaa :D). Jadi untuk menjadi social-media expert, rasanya masih banyak sekali hal yang harus saya pelajari. ((:

Future Leader Summit 2013 – #FLSummit2013 Day 2

Post tentang hari pertama sudah pernah saya buat di Garten Paradise. Sengaja yang kedua ini saya bikin disini karena pengen cerita lebih detail. So, let’s just start the story.

Hari pertama FLSummit cukup menyenangkan. Bertemu dan berkumpul dengan pemuda inspiratif dari seluruh Indonesia membuat saya excited untuk berbuat lebih seperti mereka. Seorang di room saya (room Human Right) bahkan ada yang berasal dari Ambon. Ada juga yang dari Sumatra. Ada juga 2 orang siswa SMA yang sangat passionate selama event ini berlangsung. Salah satunya cewek namanya (kalo saya nggak lupa) Sita, dan satunya lagi Iman. Seriously, I adore both of them. Walaupun masih sangat muda, mereka sangat-sangat excited selama event ini berlangsung.

DAY 2

Okay, so let’s straight to the second day. Kita berangkat dari wisma BLKBN ke Grand Candi pukul 8 pagi setelah sebelumnya sarapan di bus (lagi). Untungnya kali ini makan sebelum busnya jalan. Ohya, saya belum sempet cerita pas hari pertama gara2 makan di bus, baju saya ketumpahan kuah tahu gimbal sampai-sampai saya harus ganti baju. Hzz, saya memang ceroboh kalo disuruh makan di bus -,-.

Sebelum bus-nya berangkat. Teteup dong yah, narsis dikit. Huahaha 😀
Foto : dok Irene Sarah

Agenda hari kedua ini adalah Room Summit, Grand Summit dan juga Youth Fair. Room summit sendiri ada 2 sesi. Room pilihan saya (Human Right) kebagian 2 pembicara yang sangat inspiratif yaitu Mas Usman Hamid (dari change.org) dan Kak Rian dari Youth For Humanity.

1

Foto di depan grand candi hotel (Foto dok : Samsul Ode)

Sampai disana, di depan Amartapura Ballroom grand candi sudah berjejer berbagai stand dari komunitas2 inspiratif di Semarang diantaranya IIWC (Indonesia International Work Camp), @AkberSMG (Akademi Berbagi Semarang), @SalamLensa (Lentera Nusantara), @YOTSemarang (Young On Top), @CACSemarang (Coin A Chance), @UNFPAYouthID (UNFPA Youth Indonesia), @CEOSemarang (Care Environtmental Organization), @FFISemarang (Forum For Indonesia Semarang), dan masih banyak lagi yang mana saya lupa nama-namanya. Haha.

Pukul 08.40 pagi kita bersiap untuk ke room summit masing-masing. Karena ramainya persiapan youth fair, akses ke room summit jadi agak tersendat. Rame banget waktu itu, sampai-sampai crowd phobia saya kumat lagi (waktu itu saya kepisah sama temen-temen). Karena crowd phobia itu saya sesak nafas  berat dan akhirnya nggak tahan untuk ngantri ke room summit. Dari pada nyiksa diri, saya memilih balik lagi ke lobi hotel lantai 1.

DSC04120

Spotted a unique sculpture in the hotel lobby

DSC04119

Sengaja saya menunggu di lobi sampai pukul 09.00 karena saya pikir jam segitu mungkin akses ke room summit sudah tidak ramai lagi. Tapi konsekuensinya, saya jadi agak terlambat mengikuti room summit session 1.

ROOM SUMMIT SESSION 1

Pembicara room summit session 1 ini keren abis! Namanya Mas Usman hamid (dari change.org). Pada tau change.org kan? Dulu, waktu pertama kali saya join change.org dan dapet email update petisi terbaru, setiap ada nama Usman di email itu saya kirain adalah Iman Usman. Pas ikut FLS kemarin itu saya baru sadar kalo Usman di change.org bukanlah Iman Usman seperti yang saya kira. Hahaa.

Foto : dok Samsul Ode

Foto : dok Samsul Ode

Mas Usman Hamid ini juga aktif di Kontras. Sepak terjangnya di ranah HAM bisa dibilang udah banyak banget lah. Dan banyak banget isu HAM yang kita bahas pas session 1 ini kaya masalah LGBT, political freedom, dan apalagi yaa (saya agak-agak lupa).

Yang paling saya suka dari room summit session 1 ini adalah materi presentasi Mas Iman usman tentang bagaimana peran media sosial (atau sosial media?) dalam perubahan sosial. Sebagai anak IT (hallah), saya sebenernya concern banget tentang masalah ini. Saking tertariknya, saya sampe minta dikirimin materi presentasinya (makasih buat Ogi yang udah ngirimin materi2nya. Saya suka banget papernya! :D)

Mas Usman Hamid sedang mempresentasikan tentang Peran Media Sosial dalam Perubahan Sosial

Mas Usman Hamid sedang mempresentasikan tentang Peran Media Sosial dalam Perubahan Sosial

Ini nih, Sita yang saya ceritain di awal itu :D

Ini nih, Sita yang saya ceritain di awal itu 😀
Foto : dok Samsul Ode

Kalo yang ini namanya Billy (yang saya ceritain di post pertama). Dia nih dosen termuda di UNES gitu katanya. Ih, keren banget ya! :D

Kalo yang ini namanya Billy (yang saya ceritain di post pertama). Dia nih dosen termuda di UNES gitu katanya. Ih, keren banget ya! 😀

Ohya, yang menarik lagi itu pas di awal room summit dia minta kita satu persatu ngungkapin impian dan ketakutan kita. Waktu itu saya kebagian impian yaudah saya jawab aja impian saya simple sih yaitu bahagia (padahal bahagia yang saya maksud disni banyak banget faktornya. Kesannya kemaruk aja kalo saya ungkapin semuanya. Huahahaha :D)

Terus ada satu ketakutan yang saya paling suka waktu itu : Mati bukan menjadi siapa-siapa. Saya lupa siapa yang bilang itu, tapi seinget saya sih kayaknya Lintang ya. Sebenernya yang lain keren-keren juga sih. Ada yang takut bikin ibunya nangis (huahaha, nih anak super sweet banget sik), terus ada juga yang takut nggak bisa kasih kontribusi buat perubahan bangsa, yaa sebangsa itu lah yaa.

983816_10200692375823707_80063596_n

Foto : dok Samsul Ode

Kelar room summit session 1 ini, kita ada jeda sebentar buat coffee break. Berhubung saya udah nggak ngopi lagi, saya cuma icip-icip makanannya dikit dan minum air putih dong ya (teteup, air putih biar sehat :D). Abis itu, pas deket-deket mau mulai room summit session 2 saya nyelonong bentar ke youth fair mumpung sepi.

DSC04139

Speak up corner yang ada di boothnya UNFPA

DSC04137 DSC04138

DSC04140

Lumayan banyak booth juga sik. Saya waktu itu cuma sempet ke boothnya UNFPA, IIWC, Lensa (semacam komunitas literasi di Semarang gitu), trus beberapa booth lagi yang saya agak lupa. 

Pas di Lensa itu saya cerita tentang komunitas literasi di kota saya (Tegal) yang namanya Tiga Surau. Udah pernah saya bahas sedikit dulu di post ini. Sebenernya pengen banget kolaborasiin Lensa sama Tiga Surau yang di Tegal itu. Yaa Insya Allah ntar deh ya kalo ada kesempatan. (:

DSC04141 DSC04143 DSC04145

ROOM SUMMIT SESSION 2

Di room summit session 2 ini saya (lagi-lagi) telat lagi. Gara-gara keasyikan di youth fair sih hahaa. Nah, pembicara kedua kita kali ini namanya Ryan Fajar sama Diba dari Komunitas Youth For Humanity (UNITY). Di sesi ini dikenalin sama UNITY itu sendiri, trus ada juga sesi diskusinya. Jadi kita dibagi jadi beberapa kelompok per region gitu. Ada yang dari Jawa Tengah (mestinya dong ya. Haha), Jawa Barat, Jawa Timur, DKI Jakarta, sama terakhir dari luar jawa.

936822_10200692413104639_60641201_n

Foto : doc Samsul Ode

DSC04150

room summit session 2ss

Foto : dok Samsul Ode

931153_10200692414264668_1088229201_n

Foto : dok Samsul Ode

Seru deh pas sesi diskusi ini. Kita disuruh cari masalah di daerah masing-masing. Saya  masuk tim Jawa Tengah (mestinya dong ya) dan came up with the problem of child labor! Di Jawa Tengah kan masih banyak banget tuh arus urbanisasi. Anak-anak yang baru lulus SMP aja udah berani aja ke Jakarta ngadu nasib padahal belum umurnya mereka buat kerja.

Dicussion board kelompok saya (Jawa Tengah)

Dicussion board kelompok saya (Jawa Tengah)

Di daerah asal saya (Tegal) juga banyak banget kasus-kasus kayak gini. Penyebabnya sih mostly karena kurang pendidikan, budaya, sama faktor ekonomi. Dan menurut saya sih solusi terbaiknya yaa, dengan kasih keterampilan gitu ke mereka supaya mereka bisa berkarya di kampung halaman mereka sendiri.

984101_10200692430905084_2062785875_n

Tim dari Jawa Barat
Foto : dok Samsul Ode

984317_10200692431305094_1715518368_n

Tim saya dong (dari Jawa Tengah)
Foto : dok Samsul Ode

261761_10200692439425297_1990810794_n

Foto : dok Samsul Ode

Dari tim lain nggak kalah menarik juga sih. Kayak misalnya yang dari luar jawa ini nih. Mereka bahas tentang stereotype gitu. Jadi, di luar jawa gitu kan biasanya kebanyakan dari beragam suku ya. Nah, sebab itulah yang bikin kesenjangan sosial terjadi di daerah luar Jawa sehingga ujung-ujungnya konflik.

Tim dari luar jawa  Foto : dok Samsul Ode

Tim dari luar jawa
Foto : dok Samsul Ode

973244_10200500253083769_2137846924_n

Foto : dok Irene Sarah

DSC04164

973807_10200500248243648_253808225_n

Foto : dok Irene Sarah

Foto : dok Irene Sarah

Foto : dok Irene Sarah

Kelar room summit session 2 ini kita udah mulai kelaperan aja dong ya pastinya. Kita excited banget pas panitia bagiin kupon lunch. Langsung capsus lah kita ke tempat makan yang mana udah penuh aja dong. -,-

Sayangnya suasana lunch yang penuh sesak + rame naudzubillah itu lupa saya abadikan (mungkin bawaan perut laper jadi males kali ya. Huahaha, ngeles banget). Yaa, pokoknya kita lunch dengan hepi-hepi deh waktu itu. Makanannya juga yaa, lumayan enak lah. TOP banget deh panitianya 😀

Kelar lunch ini, kita langsung balik lagi ke amartapura ballroom buat persiapan grand summit. Yang mana di grand summit ini pembicaranya adalah Mbak Ainun Chomsum (founder Akademi Berbagi).

Pukul 14.20 grand summit pun dimulai. Kita dikasih nonton video-video gitu dulu, terus dilanjut sambutan sang project leader M. Ibnu Sina (yang mana kita udah bosen aja dong ya, semalem juga udah dengerin. Hahaa). Dan mulailah grand summitnya yang dimoderatori oleh Mbak Dini Hajarrahmah (FYI aja, dia ini salah satu yang dulu menginisiasi terbentuknya event Future leader summit pertama di tahun 2011 – ini juga kalo nggak salah sik. haha).

Suka banget sama topik yang diangkat sama mbak Ainun di grand summit kali ini. Gimana nggak suka, topiknya aja tentang Kekuatan Sosial Media (which is udah saya kasih tau di awal kalo saya tertarik banget tentang masalah ini).

Yaudah deh, sepanjang grand summit saya seneng banget mantengin materinya. Dan disinilah saya baru tau, kalo mbak Ainun itu awalnya adalah seorang blogger (yippiey!) sebelum terkenal dengan Akademi Berbaginya kaya sekarang ini.

Ohya, ada nih kunci sukses dari mbak Ainun Chomsum yang sempet saya catet buat dishare di blog ini (saya kurang baik apa coba? Huahaha :D)

Kunci sukses itu ada 2 yaitu punya networking luas, dan menguasai informasi

Kalo dicermati sih, make sense lah ya. Aduh, gara-gara grand summit ini jadi jatuh hati deh sama sosok mbak Ainun Chomsum yang sangat inspiratif itu. 😀

Long story short, sekitar jam 5 sore grand summit kelar dan kita-kita bersiap buat pada pulang dong ya. Bahkan ada yang udah pulang duluan sebelum grand summit karena mereka musti catch their flight which is sayang banget mereka nggak sempet dengerin seminarnya mbak Ainun Chomsum yang sangat inspiratif ini (*teteup).

Foto : dok Samsul Ode

Foto : dok Samsul Ode

Mas Samsul Ode with the girls :D Foto : dok Samsul Ode

Mas Samsul Ode with the girls 😀
Foto : dok Samsul Ode

Yang ini namanya Elda :D Foto : dok Samsul Ode

Yang ini namanya Elda 😀
Foto : dok Samsul Ode

Foto : doko Samsul Ode

Foto : doko Samsul Ode

Foto : dok Samsul Ode

Foto : dok Samsul Ode

Kelar FLS ini, ternyata si Iren (temen saya dari Bandung yang saya ceritain di post pertama) nggak dapet kendaraan buat balik ke Bandung. Segala macem kendaraan dari kereta, bus, sampe shuttle semuanya full-booked. Salah dia juga si pesennya mendadak (huahaha :D). Mana kelar FLS aja udah mau maghrib gitu kaan. Jadi lah si Iren extend sehari di kosan saya.

Padahal sebelum mutusin extend di Semarang kita sempet muter-muter gitu kan nyari bus ato shuttle yang kira-kira masih ada harapan. Tapi ternyata teteup ngga ada yang nyisa satupun. Huahaha :D.

Jadi lah kita kaya si bolang gitu di depan museum Ronggowarsito nyariin taksi. Akhirnya dapetlah itu taksi dan pas banget radio di taksi itu lagi muterin lagu 22-nya Taylor Swift. Akhirnya kita ala-ala karaoke gitu di taksi dan dilanjut lagu kesukaan saya When I was your man-nya Bruno Mars. Aaah, si supir taksi pinter banget deh milih channel radio :D.

Besoknya kita seharian tepar dong di kosan. Baru sorenya sekitar jam 4-an kita makan di Bee’s Paragon. Terus si Iren udah rempong aja dong pengen shopping-shopping. Walaupun cuma dapet 1 sepatu doang sih. Yaa, lumayan lah buat kenang-kenangan ya Ren :D.

Pulang dari Paragon kita langsung buru-buru ke stasiun Tawang karena jadwal kereta Iren udah mepet aja. Huhuuu, akhirnya kita berpisah sekitar jam 8an gitu deh. Dan saya bela-belain bolos kuliah PBO malem itu demi nganterin mojang Bandung satu ini pulang kampung. Hikss, bye Ireen!

Day 3

Camwhore terakhir bareng Iren di Paragon. Hahaaa, teteup 😀

Bonus terakhir dari post yang super panjang ini 😀