Yakin diberantas?

Image credit goes to weheartit.com

Just a little thought before I go to sleep. Kadang saya kepikiran, mungkin ngga sih kita bisa berantas kemiskinan? Sometimes when I think about it, I feel like it’s almost impossible. There will always be contrary for everything. Jika ada putih, maka ada pula hitam. Jika ada yang kaya, pasti ada juga yang miskin. Itu sudah hukum alam.

Kalo menurut saya sih, kemiskinan itu bukannya untuk diberantas. Yaa, dikurangi iya. Cuma, lebih tepatnya adalah untuk diringankan. Maksudnya adalah membuat keadaan mereka lebih baik, membuat mereka lebih merasa bahagia, melayani hak-hak mereka dengan baik, meskipun mereka dalam keadaan miskin. Get my point?

Kadang saya miris lho, liat eksploitasi kemiskinan di tayangan-tayangan televisi sekarang ini. 

Bagian apa yang menarik dari melihat penderitaan orang lain?

image credit goes to weheartit

Kalian mau bilang kalo itu bisa mengingatkan kita semua untuk lebih bersyukur? Oke, bagian “agar kita semua lebih bersyukur” mungkin memang benar. Tapi coba kalian pikir lagi. Bersyukur atas keadaan kita yang lebih baik dari orang lain, bukannya itu salah satu bentuk ejekan secara tidak langsung? Analoginya gini:

Ada seorang teman yang tersandung lalu kalian melihatnya dan bergumam “untung saya nggak jatuh seperti dia”. 

Sama saja seperti melihat tayangan televisi tadi. Kalian secara tidak langsung berfikir “Syukurlah, untung saya nggak miskin seperti mereka”. Jadi, sekarang masih mau bersyukur setelah melihat tayangan-tayangan itu? Think again!

Lagi pula, semakin sering kita diberi tayangan semacam itu, kita justru akan semakin “terbiasa” dengan keadaan tersebut. Lalu secara tak langsung, hal tersebut akan berpengaruh ke penumpulan rasa empati kita. Lama-lama kita akan menganggap hal tersebut sebagai hal yang lumrah. Lalu ujungnya? Kita tak lagi peduli karena mengganggap hal itu sudah biasa.

Kembali ke topik pemberantasan kemiskinan tadi. Yakinkah kalian untuk bisa memberantas kemiskinan? Jika semua orang kaya, siapa yang akan kalian beri sedekah & zakat nantinya? Jika semua orang kaya, siapa yang akan membuat kalian sedih lagi ketika nonton televisi (baiklah, lelucon ini nggak lucu sama sekali. maafkan). Jika semua orang jadi kaya, dunia nggak akan asik lagi karena saya jamin kita semua bakal jadi angkuh dengan kekayaan kita. Jadi, masih yakin untuk memberantas kemiskinan?

Sebentar, kalian nggak lagi salah presepsi kan? Maksud saya disini bukan ingin membiarkan mereka tetap miskin lho ya. Maksud saya adalah bahwa yang mereka butuhkan sebenarnya adalah kemudahan untuk menjalani hidup. Mereka tak akan keberatan tinggal di rumah petak jika mereka masih bisa makan apa saja yang ingin mereka makan. Mereka tak akan keberatan menjalani apapun profesi mereka sekarang ini asalkan anak-anak mereka bisa terus sekolah tanpa kekurangan biaya. Mereka tak akan keberatan menjalani semua kehidupan mereka sebagai orang miskin karena mereka tetap bahagia dengan keadaannya. (:

Jadi, mulai sekarang setiap ada caleg berjanji akan mengentaskan kemiskinan, tell them to shut their bullshit up. Hehe (:

Oh well, my mind is so random tonight. Selamat malam Nuzulul Qur’an btw. 😀

Behind the scene

get it

Kadang rasa tidak percaya diri berawal dari presepsi negatif yang kita ciptakan sendiri atas kelebihan orang lain. Semakin kita takjub akan kelebihan orang lain dan membandingkannya dengan diri kita sendiri, justru akan semakin membunuh rasa percaya diri kita. Itu karena, perbandingan yang tidak fair antara kehidupan kita (yang kita tahu pasti seluk beluknya) dengan kehidupan tampak depan orang lain (yang kehidupan aslinya belum tentu sama seperti yang kita saksikan).

Disadari atau tidak, orang lain hanya menunjukan sikap dan perilaku yang ingin ia tunjukan di depan orang lain. Ibarat film, kita hanya menonton versi yang sudah diedit oleh sineasnya. Padahal di belakang layar, proses pembuatan film itu tidak kita tahu sama sekali. Sama seperti kehidupan orang lain. Kita tidak tahu dibelakang perilaku setiap orang, ada banyak proses yang telah mereka lalui sehingga membentuk mereka yang seperti sekarang.

Akan jadi sangat tidak adil jika kehidupan orang lain (yang tidak kita tahu behind-the-scene-nya) kita bandingkan dengan kehidupan diri kita sendiri yang sangat kita tahu pahit getirnya.

Kenapa saya membahas tentang ini? Simply karena saya pernah mengalaminya. Dan simply because saya suka mempelajari psikologi. I love it, because it’s within our own self. Tanpa objek lain pun kita masih bisa mempelajari psikologi dengan diri kita sendiri sebagai objeknya.

Well, kuncinya adalah dengan mengenali diri sendiri. More importantly, kenali kelebihan yang kalian punya dan dalami itu! Kadang kita terlalu fokus terhadap kelemahan sehingga tak menyadari kelebihan yang kita miliki. Contoh kecil : kalian merasa bodoh karena tak pandai pada mata pelajaran matematika, padahal kalian pintar berkesenian. Ignore the math! Setiap orang punya kelebihannya masing-masing. We don’t have to master everything. So when you’ve found your proficiency, pesan saya sih, stick with it! Kalau bisa, perdalam! ((:

PS!

Bulan ini saya seneng banget masih bisa ketemu ramadhan. Dan semoga aja, ramadhan ini lebih baik dari kemarin ya (amin!). Maka dari itu, biar afdhol saya minta maaf dulu selagi udah mulai menjalani ibadah puasa juga. Happy fasting all! 😀

Budaya Musti Ada yang Nemenin

Anyway, sebenernya mau ngepost acara kampus yang saya ikutin 3 hari kemarin (yang terasa sekali seperti live-in). Tapi berhubung badan masih pegel dan foto-fotonya cuma dikit, kayaknya ditunda dulu kali yaa. For now, enjoy ini dulu aja. 😀

So, sebenernya ni artikel udah di post di salah satu web komunitas blogger di Indonesia, namanya Warung Blogger. Saya sengaja kirimin kesana awalnya sih coba-coba aja eh ternyata beneran kepilih dan di post di websitenya. Karena saya pikir ini artikelnya pretty-cool dan gue banget (iya lah, saya sendiri yang bikin :D), jadi lah saya re-post disini. Enjoy yaa~

Berapa banyak event yang kalian lewatkan karena nggak ada temen yang bisa nemenin?

Seberapa sering kalian membatalkan sebuah liburan hanya karena partner liburan kalian nggak jadi berangkat?

Berapa banyak kesempatan apply suatu lomba / beasiswa terlewatkan hanya karena temen kalian nggak ada yang ikutan juga?

Budaya musti-ada-yang-nemenin ini kayaknya masih kentel banget disini. Misalnya aja nih ya, dulu pas jaman-jaman SMA biasanya temen-temen saya males ke toilet di jam pelajaran kalo nggak ada yang mau nemenin. Yah, kalo mau pipis mah pipis aja kali. Toh si temen kalian itu nggak ngapa-ngapain selain nemenin kan? Kalo saya pribadi sih dulu jarang banget menjamah toilet kecuali acara ganti-baju-mau-oleah-raga. Nggak sreg juga sebenernya sama toilet umum. Okay, ini kok malah bahas toilet ya? *salah fokus*

Back to the topic, budaya-musti-ada-yang-nemenin ini menurut saya merugikan banget sih ya. Banyak anak yang jadi kurang gentle dan manja gara-gara budaya ini. Akhirnya, banyak kesempatan yang mereka lewatkan hanya karena nggak ada yang nemenin.

Padahal menurut saya, nggak ada yang nemenin malah suatu kesempatan buat mengekspresikan diri tanpa harus ter-interference oleh pribadi lain. Dan yang pasti kita bisa bebas mengeksplore suatu tempat tanpa harus menghadapi ke-rempongan orang lain. Dengan memberanikan diri bepergian sendiri juga membuka kesempatan untuk mengenal orang-orang baru.

Mestinya abis ini kalian pada nanya dong, “trus saya musti gimana dong?”. Well, kalo saran saya sih, coba deh try to enjoy your self!Cobalah untuk belajar menikmati diri kalian sendiri terlebih dulu. Karena basically, setiap orang pasti punya keunikan masing-masing. Dan semakin banyak pengalaman kalian mengeksplor diri kalian sendiri, semakin pede-lah kalian sama diri sendiri. Karena kebanyakan orang nggak berani pergi sendiri karena mereka merasa insecure tanpa keberadaan orang lain disamping mereka. Dan semakin kita percaya diri, semakin kita berani buat melakukan sesuatu tanpa harus ada yang menemani.

Dengan menikmati diri sendiri juga, bakal semakin ngertilah kalian tentang kelebihan yang mungkin belum kalian sadari. Semakin kalian ngerti juga tentang sifat-sifat buruk kalian selama ini dan kalo bisa sih belajar buat mengubahnya dong ya. Originally posted in Warung Blogger