Freedom of speech?

Setelah membaca tulisan terbaru di blog bangwin.net tentang kebebasan berpendapat di dunia maya, saya jadi tergelitik juga untuk menyumbangkan pikiran. Akhir-akhir ini muncul beberapa nama yang disorot karena tuduhan pencemaran nama baik di dunia maya, yang bahkan terjadi juga di lingkungan saya sendiri.

Dunia internet sebenarnya memperluas kesempatan kita untuk berpendapat. Namun ketika bahasannya sudah mulai mengerucut ke suatu objek tertentu, akan menjadi sangat riskan karena kemudian akan melibatkan “image” objek tersebut.

Dan sayangnya, kebiasaan menggunakan teknologi kemudian membuat beberapa orang lupa akan dunia nyata. Padahal sebelum mengungkapkan suatu permasalahan di dunia maya, dia bisa saja mengusahakan penyelesaiannya lewat langkah-langkah kongkrit dalam dunia nyata.

Saya setuju dengan pendapat bang win dalam blognya bahwa peristiwa-peristiwa ini bisa saja membuat orang-orang jadi takut untuk mengemukakan pendapat yang ujung-ujungnya akan melahirkan tudingan “pencemaran nama baik”.

Maka dari itu sebaiknya kita juga senantiasa memikirkan setiap tulisan yang akan kita sebarkan. Pikirkan matang-matang apa tujuan dari tulisan kita dan apakah fakta-fakta yang kita paparkan nantinya memang benar adanya. Jangan sembarang publish.

PS!

Tulisan ini sebenarnya juga reminder buat diri saya sendiri.

Pengalaman mengurus visa USA jenis B1/B2

Selain belajar dari keberhasilan orang lain, belajar dari kegagalan orang lain juga bisa dijadikan pembelajaran yang efektif menurut saya. Kita bisa menghindari hal-hal yang nantinya bisa menyebabkan kita gagal.

Dari pengalaman googling cerita blogger-blogger lain tentang apply visa USA, kebanyakan dari mereka adalah yang sukses mendapatkan visa. Mungkin mereka yang ditolak merasa kecewa, lalu malas membagikan kegagalan mereka.

Tapi, kali ini saya berbaik hati untuk membagikan cerita kegagalan saya apply visa USA kemarin.

Awalnya saya harus apply visa USA karena diundang summit yang diadakan di California oleh Mozilla dimana saya menjadi salah satu kontributor disitu. So, kemarin saya harus apply visa jenis B1/B2.

Setelah bertanya sana-sini ke mentor Mozilla yang sudah pernah apply visa, mereka bilang kuncinya adalah percaya diri dan membawa dokumen-dokumen yang lengkap. Saya nggak akan jelasin dokumen-dokumennya disini, karena di situs US embassy sudah sangat lengkap.

Datanglah saya wawancara di US Embassy di Jakarta. Petugasnya sama sekali nggak horror atau jutek seperti yang saya baca dari blog-blog lain kok. Mereka semua ramah-ramah termasuk petugas keamanan juga semuanya ramah.

Setelah mengantri beberapa kali, tibalah waktu wawancara dimana waktu itu saya kebagian loket 5 dan si konsuler adalah seorang bule perempuan muda yang juga ramah. Sayang microphone-nya agak trouble waktu itu jadi saya sering meminta si bule mengulang pertanyaannya.

Kebanyakan dari orang-orang yang diwawancara sebelum saya menggunakan bahasa inggris. Dan katanya sih biar lebih meyakinkan si bule, memang lebih baik kita menggunakan bahasa inggris walaupun si konsuler sebenernya bisa berbahasa Indonesia.

Pertanyaan mereka standar, seperti apa tujuan kalian ke AS, siapa yang akan membiayai perjalanan kalian, lalu jika disponsori mereka akan bertanya hubungan kalian dengan si sponsor. Saya menjawab semua pertanyaan konsuler dengan percaya diri. Bahasa inggris saya juga alhamdulillah cukup lancar. Saya juga memberikan 2 dokumen, satu dari sponsor dan yang satu lagi dari kampus saya. Namun ternyata saya mendapat kertas kuning yang berarti pihak embassy masih harus memeriksa dokumen saya lebih lanjut. Biasanya, jika mendapat kertas kuning prosesnya akan memakan waktu yang lebih lama.

Untuk meyakinkan pihak embassy, saya buru-buru mengirimkan email ke sponsor saya agar mengirimkan fax/email ke US embassy Jakarta. Tepat setelah sponsor selesai mengirim email siangnya, saya malah mendapat telepon dari embassy bahwa passpor saya sudah dikembalikan.

What? Cepet banget? Mesti ditolak nih kalo gini..

Dan bener aja, setelah saya cek status visa saya via online, ternyata benar “refused“. Sedih memang, tapi ya sudahlah. Saya ikhlasin aja, mungkin kesempatan ini memang belum saatnya.

Jadi, tipsnya adalah : Percaya dirilah pas wawancara, dan bawa semua dokumen yang bisa membuktikan perjalanan kalian ke US nanti terjamin. Kemarin yang saya berikan hanya dua dokumen (undangan dari sponsor dan surat keterangan mahasiswa dari kampus saya). Dokumen lain seperti itinerary dan rekening koran (ini sebenarnya nggak terlalu dibutuhkan jika perjalanan Anda disponsori) tidak sempat saya berikan.

Dan kualitas passpor juga sepertinya berpengaruh. Dari kebanyakan orang yang diwawancarai sebelum saya, mereka kebanyakan sudah pernah mendapat visa Amerika. Teman seperjuangan saya yang juga ditolak visanya, alasannya adalah karena belum pernah punya keterangan jalan ke luar negeri. Tapi wallahua’lam juga sih. Mungkin memang belum rejeki kita.

Dan walaupun nggak ikut summit, toh saya tetep seorang Mozillians. (: