Don’t hurt present by saying “What if..”

I know, I know.. This sound so lame. But seriously, saya sering sakit hati kalo nginget-nginget kebodohan di masa lalu yang bikin saya mikir “Kalo saya gini mungkin nggak bakal gitu ya kejadiannya.”

Dari dulu saya tau sih, kalo menyesal itu ngga ada gunanya. Tapi baru sadar sekarang kalo ngeluhin masa lalu itu berpotensi buat melukai waktu kita saat ini. Kalo anugerah bisa ngomong, mungkin semua anugerah yang Tuhan kasih ke kita hari itu bakalan sakit hati kalo tau kitanya masih mikirin anugerah masa lalu yang gagal atau nggak lagi kita punya sekarang ini.

Aduh, apasih Ki? Anugerah kan nggak bisa ngomong..

Uhm gini deh. Intinya dengan ngeliatin perilaku penyesalan kita tentang sesuatu di masa lalu, itu bakal mengganggu kebahagiaan kita disaat itu. Kurang lebih gitu dah.

Itu kayak ngarepin mantan nggak sih? Atau sayanya aja yang terlalu drama? Ah, untung mostly saya menyesalnya di dalem hati (eh, tulisan ini nggak termasuk lagi nyesel kan?). Saya kan nggak enak kalo anugerah hari ini nyampe denger saya lagi ngeluhin beberapa kebodohan saya di masa lalu (aduuh, apa lagi coba?).

Aduh, saya random banget hari ini. Maafin ya. Di saat orang-orang pada upload selfie lebaran gitu saya malah publish foto beginian coba.

Saya punya sih, selfie lebaran. Tapi saya kan nggak mau mainstream. Haha. Tetep, #ngeles

Mungkin lagi kurang humor kali. Makanya saya pikir upload foto begituan gonna be fun. Tapi ternyata freaking out juga pas liat ada temen lama yang nge-like. Nyesel dikit sih, tapi yaa udah kepalang basah juga, haha. 😀

Okay, buat memperbaiki citra gegara foto tadi, pamer foto mainstream dikit gapapa dah. :3

Pasukan ranger-pink mohon maaf lahir batin buat semua yang baca blog ini yaa (:

Pasukan ranger-pink mohon maaf lahir batin buat semua yang baca blog ini yaa (:

Lebaran kali ini anggota kita komplit nih. Dua tahun kemaren kan papah nggak lebaran di rumah terus, jadi kali ini happiness-nya bertambah dari lebaran tahun-tahun lalu. Walaupun saya lagi sakit dari kemaren-kemaren nih, hikss. Badan emang nggak bisa diboongin ya. Lagi banyak yang dipikirin, walaupun udah berusaha nggak mikirin tapi efeknya malah meriyang. ):

Anyway, one more thing that excite me more than anything di lebaran kali ini adalah ketemu banyak ponakan! Haha. Nggak tau juga sih, mungkin bawaan masih pengen ketemu sama Fiora kali ya. Saya biasanya emang nggak bisa nahan kangen lama-lama si,  jadi pelampiasannya kemaren tiap liat anak kecil saya uyel-uyel terus aja. Aduh kan, inget lagi. Rasanya tuh pengen culik salah satu trus saya bawa ke rumah gitu. Gemeeees. >,<

Okay, you start to being overrated here. I’m gonna stop then. Bye!

New happiness rule

Minggu lalu saya sadar tentang satu happiness-rule baru. Bahwa untuk menemukan kebahagiaan sederhana, saya perlu menyingkirkan kata ‘paling’.

Paling menderita, membuat saya berfikir bahwa tak ada orang yang mengerti penderitaan yang saya alami. Paling bahagia, membuat saya berpikir jika tidak dalam situasi paling bahagia tersebut maka kebahagiaan yang lain hanyalah mediocre happiness.

Anggapan ‘paling’ tersebut secara tidak sadar menjadi tolak ukur bahwa saya berada di urutan teratas dari sebuah keadaan. Sehingga melahirkan anggapan bahwa tak ada yang lebih dari keadaan ini. Padahal..

Di atas langit masih ada langit.

Kita tak pernah tau apakah ini ‘paling’ atau bukan. Seperti kata pepatah di atas bahwa di atas langit masih ada langit. Kita pun begitu. Tak tau nasib apa yang akan kita temui di masa depan, kita masihlah bisa merasakan kebahagiaan atau kesedihan yang lebih dari keadaan yang kita anggap ‘paling’ tadi. Lalui saja keadaan itu dengan baik lalu lanjutkanlah kehidupan. (:

 

Bonus!

Lagu terbaru dari salah satu penyanyi favorit saya. Minggu kemarin saya baru mendengarnya lewat sebuah kpop chart. Mendengar lagu ini rasanya tenang dan damai (walaupun artinya tidak begitu, hehe). Have a listen! (=

Fiora..

Aku tak tau seorang mahluk kecil kenapa bisa menggerakan sebuah hati.

Akupun tak begitu mengerti berlembar kata-kata kenapa malah kalah membuatku tersenyum dari pada seulas lengkungan dari bibir mungilmu.

Aku juga tak pernah tau kenapa suaramu yang terdengar lemah malah mampu menyejukan batin.

Bahkan aku pun baru sadar, menuliskanmu mengapa bisa membuatku sampai sedemikian romantis?

Maka dari itu kalau ada yang bilang mereka tak menyukaimu, jangan percaya omongan mereka. Mereka mungkin hanya menyangkal kemurnianmu.

Pun kelak di masa depan ketika ada orang bilang kehadiranmu bukanlah sesuatu, jangan pedulikan mereka. Mereka tak tau bagaimana kamu mengubah makna hidup seseorang hanya dengan kehadiran.

Kamu mungkin tak pernah mengatakannya. Tapi kehadiranmupun (paling tidak) mengajarkan aku satu hal:

Hasil dari sebuah ketulusan tak pernah salah.

Walaupun tentu, itu akan lebih baik jika dilakukan dengan cara yang baik pula. (:

FioraTerima kasih sudah jadi muse kali ini ya Fio. Sampai kita bertemu nanti, tetaplah lucu seperti itu yaa. Tante kangeeeen >,< *peluk virtual*

Tarawih bonus onta

Suatu hari ketika baru sampai musholla untuk menunaikan sholat tarawih adik saya berkata, “mbak, kita dapet sapi!”. Saya pun memasang raut muka bingung kemudian dia menjelaskan.

“Kata ibu, kalo kita sholat di shaf pertama kita bakal dapet onta. Kalo shaf kedua dapet sapi, shaf ketiga dapet kambing.” begitu katanya.

Tentu saya pun tau ibu hanya bercanda. Kalaupun benar ada dalilnya, saya pun tak begitu peduli. Toh saya bukannya mau membuat peternakan di akhirat nanti. Tapi sampai sekarang setiap kita pulang tarawih topik itu selalu jadi candaan kita yang seakan tak ada bosannya.

Lalu di suatu malam berbeda setibanya di musholla saya menemukan sebuah selebaran. Tentang kelebihan sholat tarawih dari malam pertama, sampai yang ketiga puluh. Selebarannya sederhana. Tapi pulang tarawih saya jadi berpikir tentang banyak hal.

Tuhan, selama ini saya ibadah pamrih nggak ya ?

Pamrih karena kelak dapat unta lalu berebut shaf pertama. Pamrih karena ingin mendapatkan balasan seperti di selebaran tadi, lalu pergi sholat tarawih. Saya takut jadi hamba yang pahalaistis (mengutip kata materialistis). Melakukan suatu amalan karena mendambakan balasan pahala dari Tuhan.

Kiki nggak gitu kan Tuhan? Aku takut.

Rapatkan shaf kan memang anjuran. Pun pergi tarawih kan memang karena disunnahkan. Lagipula harusnya pahala bukan sesuatu yang lalu bisa kita kalkulasi, bukan?

Lalu bagaimana dengan ustadz yang memberi tahu kalkulasi pahala di selebaran tadi?

Ustadz kan hanya memberi tahu. Toh mungkin bukan maksud mereka mengiming-imingi kita dengan selebaran pahala tadi (kamu saja yang terlalu sensitif, Ki). Dia mungkin hanya ingin mengajak lebih banyak orang ke jalan kebaikan. Biar musholla lebih ramai. Dia juga bukan yang tau persis perhitungan malaikan Raqib, bukan?

Lalu maksudnya kamu nggak mau pahala Ki? munafik!

Bukan seperti itu juga sih. Cuma rasanya kurang pas saja. Bukannya akan lebih indah jika kita beribadah karena rasa cinta & syukur? Beribadah bukan karena kewajiban, tapi karena kecintaan kita ke Tuhan. Memberi bukan karena menginginkan kembali, tapi karena rasa syukur Tuhan sudah memberikan yang lebih.

Lagipula siapa sih yang menghitung-hitung pahala?

Kamu saja yang over analyzed, Ki. Orang-orang juga mungkin bukan karena janji akan pahala berlipat ganda baru pergi ibadah. Kamu saja yang su’udzon. Okay, baiklah. Maaf sudah su’udzon.

Lalu sepulang tarawih melihat jama’ah yang sholat di teras musholla saya jadi penasaran.

“Terus yang paling belakang dapet apa yung?”

“Dapet kandang ayam mbak. Kosong, cuma ada e’eknya. Hahaha” My sister was so funny. She’s a lot like my mom. (:

Tentang kebencian

Lalu apa guna maaf, jika setelah maaf terucap, rasa bencinya masih tertinggal. Pun ketika maaf tak pernah terucap, rasanya benci bukan pilihan yang tepat.

Benci itu duri hati. Ketika kamu benci, kamu menyimpan dengan baik sepotong duri  berbahaya yang bisa saja berbalik melukaimu di masa depan. Maka dari itu buang saja durinya. Bukankah kamu tidak suka terluka?

Pun ketika ada banyak alasan menyakitkan yang membuatmu tak lagi menyukai seseorang, tidak bisakah kau mengubur saja duri itu? Bukankah kamu seorang pelupa ulung?

Lagipula mungkin kamu salah paham. Rasa itu mungkin saja bukanlah kebencian. Itu hanya kemarahan atas dirimu sendiri yang kamu lampiaskan pada orang lain. Bukankah ini tidak benar?

Dan lagi, rasa-rasanya membenci bukanlah gayamu. Oh, mungkin kecuali satu pengecualian. Manusia kadang tanpa sadar membenci dirinya sendiri lebih dari orang lain. Tapi tenang, most of the time itu bukan karena dirimu buruk kok. Kamu hanya tak sanggup membenci sasaranmu sehingga membelokkan peluru bencinya ke kepalamu sendiri. Tapi lebih dari apapun itu, bukankah tidak ada kebahagiaan sempurna yang didapat dari rasa benci? Maka dari itu maafkan saja..