Mungkinkah kamu juga sakit jiwa?

disorderKita sering merasa iba ketika melihat seorang pasien yang terkena penyakit fisik parah seperti kanker, kelumpuhan, dan sebagainya. Bahkan banyak film bergenre drama yang membahas tentang kisah & kehidupan pasien tersebut yang akhirnya laris di pasaran. Namun when it comes to mental disorder, kebanyakan orang jadi acuh, merasa aneh dengan pasien tersebut yang berujung pada perilaku penghindaran, tak simpatik, dan cenderung mengucilkan.

Padahal, they face the same problem. Mereka yang punya penyakit fisik maupun mereka yang punya gangguan jiwa sama-sama tidak menginginkan penyakit tersebut. Rasanya jadi tidak adil jika kita hanya simpatik pada orang yang berpenyakit fisik, namun merasa acuh pada mereka yang memiliki gangguan jiwa.

Dr. Suryani, SKp., MHSc, seorang dosen Fakultas Ilmu Keperawatan Unpad mengatakan bahwa stigma gangguan jiwa di Indonesia masih sangat kuat. Dengan stigma tersebut, orang yang mengalami gangguan jiwa seakan terkucilkan. Padahal, sebetulnya justru dukunganlah yang paling mereka butuhkan untuk melalui proses penyembuhannya.

Orang-orang sering mengucilkan dan memandang rendah orang berpenyakit mental seakan mereka tidak akan pernah mengalami penyakit tersebut. Padahal, selain gangguan jiwa berat, banyak orang juga mengalami gangguan jiwa ringan.

Perilaku sesederhana sering mencuci tangan bahkan bisa saja menjadi salah satu tanda gangguan jiwa. Ablutomania adalah istilah bagi orang yang sangat ketakutan dengan kotor. Penderita Ablutomania bisa sangat sering mencuci tangan, atau mandi karena dia tak pernah tahan dengan kotor.

Sedangkan climomania, adalah istilah bagi orang yang memiliki keinginan untuk berada di kasur secara berlebihan. Climomania berasal dari bahasa Yunani yang artinya obsesi tidur.

Atau ambil saja contoh istilah yang yang lumayan umum, narsissistic. Narsissistic sebenarnya adalah istilah bagi seseorang yang mengalami kelainan dimana ia selalu membutuhkan perhatian dan pujian.

Di era teknologi seperti sekarang ini, ada pula istilah Nomophobia, yaitu istilah bagi orang yang sangat takut terpisah dari gadget kesayangannya.

Jadi sebenarnya bukan hanya pasien di Rumah Sakit Jiwa saja yang mengidap gangguan jiwa. Teman yang sering menghabiskan waktu bersama atau random people yang biasa kita temui di tempat-tempat umum juga bisa saja mengidap gangguan jiwa meskipun ringan. Jadi, memandang rendah orang yang memiliki gangguan jiwa bukanlah sikap bijaksana yang kita lakukan. Mereka mungkin memang gila. Tapi lebih dari apapun, sama halnya seperti pasien lainnya, mereka hanya sakit.

Karena luka emosional yang mendalam selalu memiliki cara untuk membuat orang jatuh sakit dan buruk. Dan itulah bagian yang paling menakutkan. – Noh Hee Kyung

 

NB!
Tulisan ini terinspirasi dari drama It’s okay it’s love.

Foto : http://poetics.muzy.com/

Referensi :
http://www.unpad.ac.id/profil/dr-suryani-skp-mhsc-setiap-tahun-penderita-gangguan-jiwa-di-indonesia-terus-meningkat/
http://doktersehat.com/macam-macam-gangguan-jiwa-psikologi-yang-aneh/#ixzz3CQXeVeTA
http://www.huffingtonpost.com/mark-rubinstein/internet-addiction_b_3725881.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s