Feeling blue..

you-decide

you decide

  • Jangan hutang budi terlalu banyak, Ki. Nanti malah bikin ketergantungan.
  • Ternyata nggak semua orang mau peduli sama kebahagiaan orang lain. Tapi jangan ditiru juga sih yang kayak gitu.
  • Inget Ki, kebahagiaanmu terlalu berharga untuk dirusak hanya gara-gara seseorang bertingkah sangat menyebalkan sehingga membuatmu ingin membencinya.
  • Sebenernya simple sih. Do not just believe on what’s true, but believe on what’s helpful for yourself. Kay?
  • Jika luka menjadi ambisi untuk mengalahkan, bukankah itu tidak baik?
  • Nggak harus membenci untuk melupakan, kan?
  • Dalam beberapa kasus, kebahagiaan ternyata tak berbanding lurus dengan mewujudkan impian.

Itu tadi beberapa self-talk yang sempat saya tulis akhir-akhir ini. Mostly adalah pengingat bagi saya ketika suatu hal berpotensi merusak kebahagiaan saya. Yang sayangnya kebanyakan malah berhasil merusaknya.

Mood yang tidak begitu baik juga membuat saya malas berbicara akhir-akhir ini. Tapi meskipun tak banyak bicara, pikiran saya malah ngoceh sepanjang hari bahkan membuat saya malas mendengarkan pikiran saya sendiri.

Terkadang kita memang perlu menanggalkan kebahagiaan dan memberikan sedikit ruang bagi kesedihan untuk kita rasakan. Life is balance that way.

Ya Tuhan, terima kasih. Hidup yang Engkau berikan begitu berwarna. Dan sementara ini, warnanya biru. ((:

Jangan rusak kebahagiaan orang lain dengan kata maaf kalian

Ada beberapa tipe orang yang menjengkelkan bagi saya dan salah satunya adalah orang yang sangat sering meminta maaf untuk kesalahan yang tidak mereka perbuat. Saya tidak mengerti alasan pastinya, tapi jika kalian yang seperti itu menganggap jika tindakan itu membuat kalian jadi orang baik (ya Tuhan, tolong sadarkan mereka!), saya sarankan kalian untuk berhenti melakukannya mulai sekarang. It doesn’t make you a good person if you say sorry (even million times) for the mistake that you’re not doing, I’m telling you.

Orang-orang seperti itu bahkan menyebalkan menurut saya.

Jika kalian tidak merasa melakukan kesalahan, tolong simpan saja kata maaf kalian. Permintaan maaf yang saya kadang tidak tahu alasannya adalah hal menjengkelkan yang membuat saya malah merasa jadi orang jahat. Bagaimana kita bisa memaafkan jika kesalahannya saja kita tak tahu? Atau lebih menjengkelkan lagi adalah ketika seseorang merasa telah melakukan kesalahan terhadap orang lain padahal hal itu malah sama sekali bukan masalah bagi orang lain tersebut.

Tolong berhenti meminta maaf jika kalian tidak benar-benar tahu kesalahan kalian. Bukannya terlihat baik, kalian malah membuat si penerima maaf merasa dirinya buruk karena membuat kalian merasa buruk sampai-sampai meminta maaf. Got what I mean?

Hari ini (oh, tepatnya kemarin) saya merasa buruk karena merasa bersalah telah membuat seseorang yang saya sayangi sampai meminta maaf. Padahal bagi saya orang tersebut tidak melakukan kesalahan sama sekali. Lebih buruknya lagi, hal tersebut membuat saya bersedih karena merasa sudah melukai orang yang saya sayangi (si peminta maaf). Yang lalu membuat saya berpikir, mungkinkah perkataan saya yang salah sehingga membuat dia merasa bersalah seperti itu? Which then ended up with me blaming myself.

Sensitivitas, biasanya menjadi akar dari perasaan bersalah yang kemudian mendorong seseorang untuk meminta maaf. Put your sensitivity out of here, please. Tidak menyenangkan sama sekali mendengar perkataan maaf (setidaknya bagi saya) dari kesalahan yang bahkan benar-benar kalian lakukan. Karena bukankah terkadang kalian yang bilang sendiri,

“Kamu nggak minta maaf juga udah aku maafin kok.”

Dan kejadian itu menyadarkan saya bahwa meminta maaf untuk kesalahan yang tidak seorang perbuat adalah salah satu tindakan menularkan perasaan negatif which then ruin my happiness project.

Beberapa orang mungkin akan berfikir, bukannya mudah untuk langsung memaafkannya saja? Dan memang benar. Mudah saja jika kita langsung memaafkan mereka. Lagipula itu bukan hal sulit. Tapi memaafkan kesalahan yang bahkan kita rasa orang tersebut tidak melakukannya? Bukankah hal itu malah membuat kalian merasa bersalah terhadap si peminta maaf? Ibarat seseorang meminta maaf karena mencuri, padahal dia sama sekali tidak mencuri. Bukankah tidak adil?

Jangan mengobral maaf kalian

Setidaknya jika kalian tidak merasa benar-benar melakukan kesalahan, jangan umbar kata maaf yang kalian punya. Saya bukannya mengatakan jika meminta maaf itu buruk. Meminta maaf bagi saya juga merupakan keharusan jika saya benar-benar melakukan kesalahan. Tapi setidaknya tempatkanlah kata maaf pada kesalahan yang tepat yang benar-benar kalian lakukan. Jangan merusak kebahagiaan orang lain dengan membuatnya merasa bersalah karena maaf yang kalian tempatkan sembarangan. (:


NB!
Saya juga meminta maaf jika ada beberapa pihak yang merasa terluka dengan tulisan ini. Tulisan ini pure merupakan opini pribadi dan tidak harus kalian ikuti jika merasa tulisan ini bertolak belakang dengan opini kalian.

Bahagia dengan menjadi evangelist diri sendiri

who-am-iI’m a strong believer, jika setiap orang haruslah menjadi evangelist atas dirinya sendiri. Maksudnya, dialah yang seharusnya paling tau tentang dirinya sendiri. Tapi proses mengenali diri sendiri tidaklah semudah membaca wikipedia untuk mengenal pengertian tentang suatu hal. Karena manusia ternyata lebih kompleks dari sistem yang bahkan sulit untuk dimengerti teorinya.

Setelah beberapa waktu ini saya berusaha lebih mindful akan kehidupan saya, saya akhirnya baru menyadari beberapa hal tentang diri saya sendiri. Perlahan, saya pun sadar bahwa manusia bukanlah mahluk mutlak. We are the sea of possibilities. Untuk mengurangi possibilities yang sering membuat kita gamang itulah kita memerlukan self-discovery. Karena meskipun manusia tidaklah mutlak, namun masing-masing dari kita pasti memiliki preferensi atau kecenderungan tersendiri.

Pernahkah kalian tak tahu harus bagaimana bersikap dengan orang lain karena tidak begitu mengenalnya? Sama juga kasusnya dengan diri kita sendiri. Kita akan kebingungan untuk membuat keputusan jika kita sendiri belum mengenal diri kita secara utuh.

Sebagai langkah awal, mungkin ada baiknya jika kita mengenal tipe intelejensi diri kita sendiri. Teori seorang psikolog bernama Howard Gardner di sebuah buku keluaran tahun 1983, Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences mungkin bisa menjadi sedikit referensi dalam menganalisa potensi diri kalian masing-masing. Dalam bukunya tersebut, Gardner membedakan intelejensi manusia menjadi 9 tipe yaitu naturalistic, musical, logical-mathematical, existential, interpersonal, bodily-kinesthetic, linguistic, intra-personal, dan spatial intelligence. Lebih lengkapnya lagi, kalian bisa membacanya disini.

Kemungkinannya adalah, ada beberapa orang yang akan menemukan dirinya cocok dengan beberapa tipe intelejensi seperti yang saya alami. Hal tersebut membuktikan bahwa manusia bukanlah mahluk mutlak yang bisa ditemukan jawaban pastinya seperti soal matematika. Self-discovery adalah perjalanan panjang yang tidak pernah usai jika kita memang sunguh-sungguh ingin mengerti diri kita sendiri.

Self discovery is a journey to solve a never-ending puzzle.

Self-discovery ibarat proses untuk menyusun sebuah gigantic puzzle yang memiliki banyak gambar dan tak akan pernah usai jika kita susun. Ketika kita berhasil menyusun beberapa keping puzzle dan sebuah gambar mulai terlihat dari situ, tetap saja ada bagian lain yang perlu kita susun. Itu sebabnya, tak perlu cemas jika belum menemukan gambar apapun dari puzzle yang kalian susun karena the game has no ending. Take your time dan tetaplah berbahagia selagi menyusun kepingan puzzle tersebut karena the joy is in the process.

Seorang evangelist atas dirinya sendiri paling tidak sudah berhasil menemukan beberapa gambar dari puzzle yang ia susun. Itulah yang saya sebut sebagai self-discovery. Menemukan gambar demi gambar dari puzzle dirinya sendiri.

Jika kita membahas self-discovery lebih lanjut maka perbincangan akan menjadi sangat panjang karena ini akan meliputi belief, passion, values, dan hal lain yang subjektif dan memerlukan deep analyze terhadap diri sendiri. Intinya, jika kita tidak ingin terus gamang dengan berbagai possibilities, maka self discovery bukan lagi sebuah sunnah melainkan fardlu yang harus dilakukan setiap orang.


 

Sudah menemukan berapa gambar dari puzzle yang kalian susun? ((:

Foto : http://weheartit.com/HiMyNameIsSara