Bahagia saja tidak cukup

Saya pikir kalian juga akan sepakat, jika memang sudah menjadi sifat dasar manusia bahwa ia tidak akan puas dengan sesuatu. Termasuk dengan kebahagiaannya sendiri.

Hari ini sebuah artikel menyadarkan saya bahwa kebahagiaan bisa jadi adalah hal yang paling egois yang manusia lakukan. Meskipun bukan kebahagiaan secara umum, melainkan the single-minded pursuit of happiness (meskipun saya juga tahu, kebahagiaan bukanlah sesuatu yang harus dikejar).

“Happy people get a lot of joy from receiving benefits from others while people leading meaningful lives get a lot of joy from giving to others” – Kathleen Vohs

Kathleen Vohs merupakan salah satu peneliti dari University of Minnesota. Melalui penelitiannya baru-baru ini, ia dan timnya menemukan bahwa mewujudkan sebuah kehidupan yang bahagia adalah berkaitan dengan “taker” sedangkan mewujudkan kehidupan yang bermakna lebih berkaitan dengan “giver“.

Saya kemudian jadi teringat sebuah artikel lain yang ditulis Steve Pavlina. Pada tulisan tersebut, dia menjabarkan level kesadaran manusia berdasarkan buku Power vs. Force oleh David R. Hawkins. Begini Hawkin menjabarkan pembagian level tersebut:

Shame – Hanya berbeda satu level dengan kematian. Orang-orang yang ingin bunuh diri biasanya ada di level ini.

Guilt – Level dimana seseorang merasa dia adalah seseorang yang memiliki banyak dosa dan tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Masih diatas shame, meskipun ia mungkin juga memikirkan tentang bunuh diri.

Apathy – Ini adalah level dimana seseorang merasa tidak memiliki harapan. Seseorang yang merasa tidak ada tertolong lagi.

Grief – Level yang lekat dengan kesedihan dan kehilangan. Seseorang mungkin akan jatuh pada level ini setelah kehilangan orang tercintanya.

Fear – Seseorang di level ini melihat dunia sebagai tempat yang berbahaya dan tidak aman. Ini adalah level para korban kekerasan.

Desire – Level dimana seseorang kecanduan akan uang, kekuasaan, ketenaran, dll. Ini adalah level para pecandu rokok, alkohol, maupun narkoba.

Anger – Level seseorang yang merasa frustasi karena keinginannya tidak tercapai. Level ini bisa membawa seseorang ke level yang lebih tinggi, namun juga bisa jadi membuat orang terjebak pada kebencian.

Pride – Level dimana seseorang mulai merasa bahagia, namun kebahagiaan itu masih tergantung faktor luar (uang, kemewahan, dll) sehingga ia masih rentan untuk jatuh ke level kesadaran yang lebih rendah.

Courage – Ini adalah level dimana seseorang mulai melihat kehidupan sebagai sesuatu yang menantang dan menarik. Seseorang di level ini akan melihat masa depan sebagai peningkatan dari masa lalu, daripada sesuatu yang continual.

Neutrality – Level dimana seseorang merasa rileks, fleksibel dan tidak tergantung pada suatu apa pun. Level dimana seseorang merasa aman dan bergaul dengan baik dengan banyak orang.

Willingness – Level dimana seseorang mulai berfikir untuk bekerja dengan lebih baik. Ia akan mulai memikirkan sesuatu yang tadinya tidak ia anggap penting di level sebelumnya.

Acceptance – Level dimana seseorang mulai menerima dan bertanggung jawab akan perannya di dunia. Jika sesuatu tidak berjalan baik di kehidupannya (karir, kesehatan, hubungan), ia akan bersedia untuk mengubah dirinya menjadi lebih baik. Level ini biasanya yang menyebabkan orang berfikir untuk berhenti bekerja untuk memulai berbisnis sendiri, atau yang mendorong seseorang untuk melakukan diet.

Reason – Ini adalah level Einstein dan Freud dimana seseorang akan mulai melihat sekelilingnya dan melakukan kontribusi yang berarti. Level dimana seseorang mulai menggunakan penalarannya untuk digunakan sepenuhnya.

Love – Level yang menghubungkan dirinya dengan semua mahluk. Motivasi seseorang pada level ini biasanya murni tanpa terdistraksi oleh ego. Level dimana seseorang mendedikasikan dirinya untuk kemanusiaan. Ini adalah level seseorang seperti Gandhi.

Joy – Keadaan dimana seseorang memiliki kebahagiaan yang tidak tergoyahkan. Berada didekat seseorang dengan level ini akan membuat kalian merasa luar biasa. Pada level ini seseorang tidak perlu lagi menyusun target dan rencana rinci, ia hanya akan bergantung pada intuisinya. Pengalaman mendekati kematian bisanya bisa membawa seseorang naik ke level ini.

Peace – Orang yang benar-benar cakap. Hawkin mengatakan bahwa level ini hanya bisa dicapai 1 dari 10 juta orang.

Enlightenment – Level kesadaran tertinggi dimana kemanusiaan berpadu dengan ketuhanan. Di agama saya, ini adalah level para nabi.

Berdasarkan level kesadaran tersebut, semakin tinggi level seseorang maka semakin tinggi pula kontribusinya terhadap dunia dan kemanusiaan. Kembali lagi ke topik kebahagiaan, ini membuktikan bahwa setelah mencapai level kebahagiaannya sendiri, maka seseorang akan cenderung untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi, yaitu makna dari kehidupan dan kebahagiaanya.

“Partly what we do as a human beings is to take care of others and contribute to others. This makes life meaningful but it does not necessarily make us happy” Baumeister (lead-researcher dalam penelitian Kathleen di atas)

Namun ada ironi disini. Menggunakan kemampuan kita untuk melayani sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri justru berpotensi untuk meningkatkan stress dan kegelisahan dibanding saat kita menjalani kehidupan bahagia seperti biasanya. Meskipun begitu, studi lain pada tahun 2011 menemukan bahwa seseorang yang memiliki makna di kehidupannya dalam bentuk dan tujuan yang jelas, memiliki kepuasan hidup lebih tinggi meskipun dia sedang dalam mood yang buruk dibandingkan mereka yang tidak memiliki tujuan yang jelas. Jadi menjalani kehidupan bermakna memang sedikit merusak kebahagiaan namun akan meningkatkan kepuasan hidup seseorang.

“Being human always points, and is directed, to something or someone, other than oneself — be it a meaning to fulfill or another human being to encounter. The more one forgets himself — by giving himself to a cause to serve or another person to love — the more human he is.” – Viktor Frankl (penulis Man’s Search for Meaning)

Jika kalian telah menemukan banyak kebahagiaan dari orang lain, dari senyum orang asing, dari birunya langit, dari warna-warni pelangi, dari rindangnya pepohonan, dari hijaunya sawah, sekarang apa yang telah kalian lakukan untuk mereka?

The pursuit of meaning, adalah sesuatu yang membuat manusia menjadi lebih manusiawi. Dengan menyingkirkan keegoisan dan dengan menyadari bahwa ada kehidupan yang lebih bermakna daripada sekedar mengejar kebahagiaan sederhana. (:

Teruntuk

Banyak yang bilang dingin itu menyakitkan. Tapi aku tak peduli. Guyuran hujan yang menciptakan dingin itu lebih aku pedulikan karena ialah yang menyebabkan sawah-sawah menghijau. Aku lebih lebih peduli hijau dari sakit apa pun.

Tapi di tengah hijau kali ini, aku malah teringat perpisahan kemarin. Dimana aku tak menyangka sebuah genggaman yang terlepas bisa menjadi sebegitu menyakitkan. Tadinya aku berfikir jika si introvert ini pasti akan melompat kegirangan ketika ditinggal sendiri dengan segala kegaduhan di pikirannya. Tapi begitu mengingat betapa hangatnya kamar dengan tawa, tak terasa aku malah meneteskan air mata.

Aku kalah oleh kenangan. Aku kalah oleh bayangmu yang mengalun-alun ketika tak sengaja kuhirup aromamu yang malah dengan sengaja kutinggalkan. Aku lalu menggerutu. Kenapa aku bisa sebergantung ini padamu?

Aku jadi teringat, ketika kau menyembunyikan isakan disaat kau pikir aku sedang tenggelam dalam kesibukanku. Tapi maaf, aku tak sebatu itu. Aku turun menepuk bahumu yang tak kusangka malah membuat isakanmu semakin menjadi. Kali ini, ingatlah untuk jadi lebih kuat di masa depan nanti. Mungkin akan ada tangan-tangan lain yang menepuk dan meredakan tangismu nantinya. Tapi bukankah menjadi kuat itu lebih baik daripada apa pun?

Kemudian lebih dari apa pun, sehatlah selalu dengan semua keceriaanmu. Lalu jika sempat, kembalilah kemari untuk berbagi kenangan. ((:

Kaligung mas, 19 Januari 2015

Berbahagia dengan menyeimbangkan

Egoisme dan altruisme ibarat dua sisi kata yang berseberangan seperti devil dan angel. Jika altruisme lebih condong ke arah Service To Others (STO) maka egoisme lebih ke Service To Self (STS). Jika salah satu dari keduanya berlebihan, tentu akan menyebabkan rasa bersalah tersendiri dan memiliki konsekuensi masing-masing. Mungkin jika lebih cenderung ke STO, maka kemungkinannya adalah kalian akan melupakan kepentingan diri sendiri seperti kesehatan atau personal live yang terabaikan. Sebaliknya jika lebih cenderung ke STS, maka kemungkinannya kalian akan menjadi seorang yang apatis, dan hanya melakukan hal-hal yang menguntungkan bagi dirinya sendiri (do things driven by self-interest). Banyak dari kita yang berpikir jika seseorang yang egois maka most likely, selamanya orang tersebut tidak akan mungkin berbuat altruis. Seakan egoisme dan altruisme adalah dua kotak yang berbeda dan kita hanya bisa masuk salah satunya. Namun benarkah seperti itu? Karena jika sejenak kita keluar dari otak primitif yang membuat kita berfikir kurang luas, maka kita akan menemukan bahwa keduanya malah bisa dipertemukan dalam satu titik temu. Bagaimana bisa? Mari saya jelaskan.

Apa yang terjadi jika seseorang lebih dominan terhadap STS?
Egois memang terdengar lebih buruk daripada altruis. Tapi bayangkan, apa yang terjadi jika dia telah berhasil memenuhi semua egonya? Bayangkan seseorang yang sangat ambisius ingin mendirikan sebuah perusahaan, lalu ia berhasil memenuhi cita-citanya tersebut. Kemungkinannya adalah setelah egonya terpenuhi dia akan bosan dan mulai melakukan sesuatu yang baru yang mungkin adalah membantu orang lain. Yang mana merupakan salah satu indikator yang lebih mengarah ke altruistik.

Sebelum memenuhi egonya, seorang yang egois akan merasa tidak aman dengan keadaannya. Maka setelah egonya terpenuhi, ia pun akan menjadi lebih secure dengan kehidupannya yang kemudian membuat ia mulai memikirkan tentang kontribusi.

Only a full glass can spill water out of it.

Seorang yang lebih cenderung ke egois ibarat perumpamaan di atas. Ia cenderung memikirkan untuk berbagi setelah egonya terpenuhi. Jadi menurut saya, keegoisan yang membawa seseorang ke kesuksesan pribadi pada akhirnya justru bisa berkembang ke STO. Yang mana merupakan salah satu praktik dari altruisme.

Lalu bagaimana dengan kecenderungan ke STO?
Jika dibahas sekilas, semua orang pasti akan mengatakan jika altruis lebih baik daripada egois. Tapi benarkah seperti itu? Benarkah jika seseorang yang menaruh kepentingan orang lain selalu diatas kepentingan pribadinya sendiri merupakan orang terbaik?

Let’s put aside our primitive mindset for awhile. Altruis, menurut saya (meskipun banyak yang berpendapat jika yang seperti ini bukan altruisme murni) juga pada akhirnya akan berakhir ke keegoisan. Bayangkan seorang altruis yang telah melakukan banyak hal untuk banyak orang. Dia mengorbankan kehidupannya demi orang lain. Tentu dengan semua hal yang ia lakukan, ia perlahan mendapatkan citra positif dan (yang pasti) pahala yang lebih banyak. Yang mana hal tersebut justru berimbas ke keuntungan pribadinya. Which is more selfish, more intro STS. Lalu jika egoisme bisa berujung ke altruisme dan begitu juga sebaliknya, bukankah itu berarti jika keduanya memiliki tujuan yang sama?

STO dan STS itu ibarat rotasi
Jika pada akhirnya STO dan STS bisa bertemu pada suatu titik, itu ibarat rotasi sebuah planet yang akhirnya kembali ke posisi semula dari arah manapun ia berputar. Bayangkan altruisme merupakan sebuah perjalanan rotasi yang ditempuh dengan putaran ke timur. Dan egoisme merupakan sebuah perjalanan rotasi yang ditempuh dengan putaran ke barat. Pada dasarnya, keduanya menempuh jarak yang sama dan akan bertemu pada posisi semula yang tentu, sama pula.

Jika saya ibaratkan rotasi tadi merupakan jalan menuju kebahagiaan, maka keduanya sama saja. Menempuh putaran ke arah timur atau barat, pada akhirnya akan bertemu pada titik temu yang sama. Kebahagiaan.

Karena terkadang, tindakan altruis justru bisa menjadi tindakan paling egois yang bisa seseorang lakukan. Jika kalian selalu mementingkan orang lain tanpa memikirkan kehidupan kalian sendiri bukankah itu salah satu bentuk egoisme terhadap diri kalian sendiri?

Begitu pula sebaliknya. Egoisme, pada titik tertentu justru seringkali mendorong orang untuk bertindakan altruis. Because the more you accomplish from your selfishness, the more you will feel secure, and the more you will likely to contribute more for society. Pernah mendengar beberapa kisah orang hebat yang berakhir meninggalkan kehidupan nyamannya untuk berkontribusi secara sosial? Sebenarnya saya bisa saja menyebutkan beberapa contoh, tapi cukuplah jika kalian sudah mengerti yang saya maksud disini.

Tapi pada akhirnya, keduanya haruslah seimbang
Sifat altruis dan egois tidaklah baik jika hanya dominan salah satu saja. Manusia sebagai mahluk individu sekaligus mahluk sosial juga akan membutuhkan kedua sifat tersebut. Lalu bagaimana untuk menyeimbangkan keduanya? Bagaimana membuat keduanya berjalan satu sama lain dalam harmoni?

Ijinkan saya memberi contoh dengan pengalaman pribadi saya sendiri. Bagi saya pribadi, menjadi seorang sukarelawan Mozilla merupakan salah satu bentuk altruisme karena saya berangkat dari kecintaan terhadap misi Mozilla (which is more into STO). Dari awal, saya memang memposisikan diri untuk berkontribusi. Tapi pada suatu titik, toh saya malah mendapat banyak pengalaman menarik dan pelajaran berharga setelah menjadi sukarelawan Mozilla which is, it lead me more into STS. Jadi pada akhirnya, niat STO saya malah bertemu dengan STS meskipun saya tidak merencanakannya.

Contoh lainnya adalah blog yang sedang kalian baca sekarang ini. Happiness Project of Kelimutu saya mulai pada awalnya hanyalah sebagai pengingat pribadi tentang beberapa hal yang saya pelajari. Sebuah learning record agar saya bisa tetap mengingat pelajaran-pelajaran tersebut di masa depan. Niat yang berorientasi ke diri sendiri which is, STS.

Namun perlahan saya merasa jika menulis menjadi ritual altruistik saya karena saya tidak lagi memikirkan diri saya sendiri ketika menulis. Saya ingin pembaca yang lain juga memetik pelajaran dari hal yang sudah saya pelajari. Begitu juga dengan tulisan ini. Perlahan, orientasi saya menulis pun menjadi bergeser dari untuk diri sendiri, menjadi untuk orang lain. Yang mana, pada akhirnya niat awal saya yang berangkat dari STS malah berubah menjadi STO.

Lalu bagaimana jika saya masih dominan pada salah satunya?
Tidak usah khawatir jika kalian masih dominan pada salah satunya. Saya pun merasa jika saya masih cenderung ke egois dibanding altruis (oh, ini terbukti dengan skor altruisme saya yang rendah!). Merasa bersalah? Sering!. Jika kalian lebih dominan ke STS maka kemungkinannya kalian akan merasa bersalah terhadap orang lain karena merasa kurang menolong mereka. Dan jika STO kalian lebih dominan, maka kemungkinannya kalian akan merasa bersalah ke diri sendiri setelah mengabaikan kehidupan pribadi karena terus berkutat dengan pekerjaan yang bersinggungan dengan kepentingan banyak orang.

Tapi janganlah terlalu merasa bersalah. Butuh waktu untuk menyeimbangkan egoisme dan altruisme dalam diri kita. Saya pun masih sama-sama mempelajarinya. Kalian pun tidak perlu benar-benar mengkategorikan diri kalian pada salah satunya. Yang perlu diingat adalah porsi keduanya yang tak perlu berlebihan. Tentu, saya tak perlu membahas takaran tersebut lebih lanjut karena setiap kita memiliki standarnya tersendiri. Maka dari itu, selamat belajar dan membentuk diri! (;

Berbahagia dengan sepatu orang lain

different-feets-foot-539-825x550Sometimes, you should try to get out of your own shoe.

Saya yakin kalian sudah pernah mendengar ungkapan  “put yourself in other people’s shoes“. Namun sudahkah kalian benar-benar mencobanya? Kodrat manusia sebagai mahluk sosial menuntut kita untuk dipahami dan sebaliknya juga, memahami. Dan bagi saya, berada di “sepatu” mereka adalah salah satu cara untuk memahami.

Namun menanggalkan egoisme atas diri sendiri dan mencoba merasakan peran orang lain bukanlah hal mudah yang bisa begitu saja dilakukan oleh semua orang. Akan sulit untuk berpikir jernih saat ada dua peran dalam pikiran kita. Kita perlu lebih dulu melepaskan sepatu kita masing-masing untuk merasakan rasanya berada di sepatu orang lain.

You’re going to need to wear a lot of shoes

Kita mungkin seorang anak di rumah, seorang karyawan di kantor, seorang teman bagi orang lain. Tapi pernahkah kalian benar-benar mencoba berada di “sepatu” orang tuamu, atasanmu atau mungkin, temanmu? Saat mencoba merasakan rasanya berada di sepatu orang tuamu, mungkin kalian akhirnya akan sadar mengapa ayahmu melarang kalian kuliah di luar kota. Atau saat mencoba merasakan berada di sepatu atasanmu, mungkin kalian akhirnya akan memahami mengapa atasanmu menolak idemu saat rapat pagi ini. Atau saat kalian mencoba merasakan rasanya berada di sepatu temanmu, maka kalian akan sadar bahwa tak seharusnya kalian mengatakan kata-kata yang ternyata melukainya.

Kemampuan untuk berganti sepatu seperti itu akan melatih sikap empati seseorang yang kemudian akan membuatnya lebih mudah memahami. Bayangkan jika semua orang berkompromi untuk memahami satu sama lain. Seorang pemimpin memahami rakyatnya, rakyat juga memahami pemimpinnya. Maka perdamaian juga akan lebih mudah terwujud.

When you put yourself in other people’s shoes, you will find yourself less complaining, less angry, and even more understanding.

Selain melatih sikap empati, berada di sepatu orang lain juga bermanfaat jika kalian ingin mengevaluasi diri sendiri. Untuk hal ini, perspektifnya berbeda lagi. Bayangkan hidup kalian adalah sebuah film dan kalian menontonnya dari kursi bioskop. Kalian harus berada di sepatu orang lain ketika ingin benar-benar adil dalam memberi penilaian terhadap film tersebut. Kalian harus benar-benar pergi meninggalkan peran kalian dalam film tersebut untuk bisa mengevaluasinya secara adil.

Saat kalian akhirnya berhasil menanggalkan sepatu kalian, maka kalian akhirnya akan bisa melihat diri kalian dari sudut pandang yang sama seperti orang lain. Resikonya adalah, mungkin kalian akan merasa diri kalian tidak sespesial yang kalian pikirkan. Tapi jangan khawatir. Dari pengalaman tersebut kalian akan membawa bekal bahan evaluasi yang bisa kalian perbaiki saat kalian kembali berada di sepatu kalian masing-masing.

So, are you ready to unlace your shoe and put yourself on other’s? (:

Berbahagia dengan panjangnya todo list yang kamu punya

calendar-checklist-list-3243-830x550Bagi seorang pelupa seperti saya, to-do list sangatlah krusial dalam menjalani rutinitas sehari-hari. Dulu, saya selalu mengandalkan to-do list sebelum melakukan suatu pekerjaan. Semua ide, daftar barang yang harus saya beli, daftar hal yang harus saya lakukan, semuanya berkumpul dalam satu aplikasi to-do list pada ponsel saya. Lalu apa yang terjadi? Melihat panjangnya daftar to-do list tadi, saya malah jadi sangat malas untuk membuka aplikasi tersebut.

Karena hal tersebut, saya putuskan untuk tidak lagi menggunakan aplikasi to-do list apapun. Dalam beberapa waktu, saya mencoba memfokuskan diri melakukan rutinitas yang sama setiap hari. Di awal waktu, hal tersebut terasa sangat mudah karena big picture masih tersimpan rapi di otak. Tapi lama kelamaan, bermacam gangguan datang dan mengganggu rutinitas serta fokus saya. Dan akhirnya, godaan untuk kembali menggunakan to-do list jadi terlihat lebih menggiurkan.

Walaupun saya masih lebih percaya pada kekuatan kebiasaan, tapi setelah berpisah dengan to-do list saya jadi sadar bahwa kita masih akan tetap membutuhkannya walau seberapapun kita memiliki rutinitas yang pasti. Jika kacaunya to-do list kalian menyebabkan stress seperti cerita saya di awal tadi, kalian tidak perlu langsung memutuskan hubungan dengan aplikasi to-do list kalian seperti cerita saya tadi kok. Berikut saya memberikan beberapa kiat untuk membuat kalian tetap bahagia meskipun daftar pekerjaan di to-do list app kalian sudah mengekor panjang.

  • Pisahkan ide dengan pekerjaan

Setelah ditelurusi, kekacauan yang terjadi di kasus saya sebelumnya adalah karena saya mencampur ide dengan pekerjaan yang harus benar-benar saya lakukan. Kebanyakan ide adalah hal mentah yang belum kita rencanakan dengan matang. Tempatkan ide-ide kalian di tempat lain dan jangan biarkan mereka tercampur dengan to-do list sebelum kalian memiliki rencana untuk merealisasikannya secara pasti.

  • Batasi pekerjaan kalian dalam satu hari

Jika kalian pernah mendengar tentang istilah MIT (Most Important Tasks), maka seharusnya kalian sudah mengerti maksud pembatasan pekerjaan ini. Konsep MIT adalah kita menentukan 1–3 tugas yang paling penting untuk dilakukan, lalu berkomitmen untuk menyelesaikannya sebelum melakukan hal lain. Menentukan MIT baik untuk menjaga fokus kita sehingga tidak ada pekerjaan penting yang tertinggal.

Do your MITs first thing in the morning, either at home or when you first get to work. If you put them off to later, you will get busy and run out of time to do them. Get them out of the way, and the rest of the day is gravy! — Leo Babauta

  • Selalu masukan goal kalian ke salah satu MIT

Contohnya, jika goal kalian adalah menjadi penyanyi, masukan waktu untuk berlatih vokal pada MIT harian kalian. Lakukan hal tersebut sebelum melakukan tugas yang lain. Hal tersebut penting, karena berdasarkan pengalaman saya, saat ingin mengerjakan hal lain saya malah kembali melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan goal saya sehingga hal tersebut malah menghambat tugas lain.

  • Berkomitmenlah!

Ini yang paling penting. Saat menulis tugas baru pada to-do list kalian, usahakan untuk berkomitmen menyelesaikannya sesuai tenggat waktu yang kalian tentukan sendiri. Dulu saya sering asal saja mengisi kolom deadline sehingga menyebabkan banyak tugas yang masuk ke daftar overdue.

  • Maksimalkan aplikasi to-do list yang kalian gunakan

Ini tidak kalah penting. Setiap aplikasi to-do list memiliki fitur yang berbeda-beda. Pastikan kalian tahu pasti apa saja fitur dari aplikasi yang kalian gunakan sehingga penggunaan aplikasi tersebut bisa maksimal nantinya. Hal ini juga berlaku jika kalian masih menggunakan cara manual seperti menulis to-do list pada jurnal. Jangan ragu untuk mencoba hal baru saat menulis to-do list pada jurnal yang kalian miliki.

  • Visualisasikan to-do list kalian

95079bfceef24336f102600f17cf23b5Ada banyak cara untuk membuat visualisasi dari to-do list yang kalian miliki. Salah satunya, kalian bisa mencoba konsep The Daily Stack. Konsep tersebut menggunakan 3 macam balok balok kayu. Setiap balok merepresentasikan aktifitas yang berbeda: istirahat, bekerja, dan waktu santai. Ukuran balok merepresentasikan alokasi waktu yang berbeda : 15 menit, 30 menit, dan 60 menit. Cocokkan balok yang kalian tambahkan dengan timer pada komputer kalian. Lalu eliminasi balok satu per satu setelah selesai melakukan aktifitas yang direpresentasikannya sampai susunan balok tadi habis.

Atau, kalian bisa menggunakan permen atau coklat untuk menggantikan peran balok kayu tadi. Gunakan rasa yang berbeda untuk tiap tugas yang berbeda. Setelah kalian menyelesaikan tugasnya, berikan reward ke diri sendiri dengan memakan permen/coklat tersebut. Yum!

1bff692d43b28cbd05c98bf9f74bb604


Konsep dan foto The Daily Stack saya dapat dari blog zapier. Foto terakhir diambil oleh Belle Beth Cooper.