Berbahagia dengan menyeimbangkan

Egoisme dan altruisme ibarat dua sisi kata yang berseberangan seperti devil dan angel. Jika altruisme lebih condong ke arah Service To Others (STO) maka egoisme lebih ke Service To Self (STS). Jika salah satu dari keduanya berlebihan, tentu akan menyebabkan rasa bersalah tersendiri dan memiliki konsekuensi masing-masing. Mungkin jika lebih cenderung ke STO, maka kemungkinannya adalah kalian akan melupakan kepentingan diri sendiri seperti kesehatan atau personal live yang terabaikan. Sebaliknya jika lebih cenderung ke STS, maka kemungkinannya kalian akan menjadi seorang yang apatis, dan hanya melakukan hal-hal yang menguntungkan bagi dirinya sendiri (do things driven by self-interest). Banyak dari kita yang berpikir jika seseorang yang egois maka most likely, selamanya orang tersebut tidak akan mungkin berbuat altruis. Seakan egoisme dan altruisme adalah dua kotak yang berbeda dan kita hanya bisa masuk salah satunya. Namun benarkah seperti itu? Karena jika sejenak kita keluar dari otak primitif yang membuat kita berfikir kurang luas, maka kita akan menemukan bahwa keduanya malah bisa dipertemukan dalam satu titik temu. Bagaimana bisa? Mari saya jelaskan.

Apa yang terjadi jika seseorang lebih dominan terhadap STS?
Egois memang terdengar lebih buruk daripada altruis. Tapi bayangkan, apa yang terjadi jika dia telah berhasil memenuhi semua egonya? Bayangkan seseorang yang sangat ambisius ingin mendirikan sebuah perusahaan, lalu ia berhasil memenuhi cita-citanya tersebut. Kemungkinannya adalah setelah egonya terpenuhi dia akan bosan dan mulai melakukan sesuatu yang baru yang mungkin adalah membantu orang lain. Yang mana merupakan salah satu indikator yang lebih mengarah ke altruistik.

Sebelum memenuhi egonya, seorang yang egois akan merasa tidak aman dengan keadaannya. Maka setelah egonya terpenuhi, ia pun akan menjadi lebih secure dengan kehidupannya yang kemudian membuat ia mulai memikirkan tentang kontribusi.

Only a full glass can spill water out of it.

Seorang yang lebih cenderung ke egois ibarat perumpamaan di atas. Ia cenderung memikirkan untuk berbagi setelah egonya terpenuhi. Jadi menurut saya, keegoisan yang membawa seseorang ke kesuksesan pribadi pada akhirnya justru bisa berkembang ke STO. Yang mana merupakan salah satu praktik dari altruisme.

Lalu bagaimana dengan kecenderungan ke STO?
Jika dibahas sekilas, semua orang pasti akan mengatakan jika altruis lebih baik daripada egois. Tapi benarkah seperti itu? Benarkah jika seseorang yang menaruh kepentingan orang lain selalu diatas kepentingan pribadinya sendiri merupakan orang terbaik?

Let’s put aside our primitive mindset for awhile. Altruis, menurut saya (meskipun banyak yang berpendapat jika yang seperti ini bukan altruisme murni) juga pada akhirnya akan berakhir ke keegoisan. Bayangkan seorang altruis yang telah melakukan banyak hal untuk banyak orang. Dia mengorbankan kehidupannya demi orang lain. Tentu dengan semua hal yang ia lakukan, ia perlahan mendapatkan citra positif dan (yang pasti) pahala yang lebih banyak. Yang mana hal tersebut justru berimbas ke keuntungan pribadinya. Which is more selfish, more intro STS. Lalu jika egoisme bisa berujung ke altruisme dan begitu juga sebaliknya, bukankah itu berarti jika keduanya memiliki tujuan yang sama?

STO dan STS itu ibarat rotasi
Jika pada akhirnya STO dan STS bisa bertemu pada suatu titik, itu ibarat rotasi sebuah planet yang akhirnya kembali ke posisi semula dari arah manapun ia berputar. Bayangkan altruisme merupakan sebuah perjalanan rotasi yang ditempuh dengan putaran ke timur. Dan egoisme merupakan sebuah perjalanan rotasi yang ditempuh dengan putaran ke barat. Pada dasarnya, keduanya menempuh jarak yang sama dan akan bertemu pada posisi semula yang tentu, sama pula.

Jika saya ibaratkan rotasi tadi merupakan jalan menuju kebahagiaan, maka keduanya sama saja. Menempuh putaran ke arah timur atau barat, pada akhirnya akan bertemu pada titik temu yang sama. Kebahagiaan.

Karena terkadang, tindakan altruis justru bisa menjadi tindakan paling egois yang bisa seseorang lakukan. Jika kalian selalu mementingkan orang lain tanpa memikirkan kehidupan kalian sendiri bukankah itu salah satu bentuk egoisme terhadap diri kalian sendiri?

Begitu pula sebaliknya. Egoisme, pada titik tertentu justru seringkali mendorong orang untuk bertindakan altruis. Because the more you accomplish from your selfishness, the more you will feel secure, and the more you will likely to contribute more for society. Pernah mendengar beberapa kisah orang hebat yang berakhir meninggalkan kehidupan nyamannya untuk berkontribusi secara sosial? Sebenarnya saya bisa saja menyebutkan beberapa contoh, tapi cukuplah jika kalian sudah mengerti yang saya maksud disini.

Tapi pada akhirnya, keduanya haruslah seimbang
Sifat altruis dan egois tidaklah baik jika hanya dominan salah satu saja. Manusia sebagai mahluk individu sekaligus mahluk sosial juga akan membutuhkan kedua sifat tersebut. Lalu bagaimana untuk menyeimbangkan keduanya? Bagaimana membuat keduanya berjalan satu sama lain dalam harmoni?

Ijinkan saya memberi contoh dengan pengalaman pribadi saya sendiri. Bagi saya pribadi, menjadi seorang sukarelawan Mozilla merupakan salah satu bentuk altruisme karena saya berangkat dari kecintaan terhadap misi Mozilla (which is more into STO). Dari awal, saya memang memposisikan diri untuk berkontribusi. Tapi pada suatu titik, toh saya malah mendapat banyak pengalaman menarik dan pelajaran berharga setelah menjadi sukarelawan Mozilla which is, it lead me more into STS. Jadi pada akhirnya, niat STO saya malah bertemu dengan STS meskipun saya tidak merencanakannya.

Contoh lainnya adalah blog yang sedang kalian baca sekarang ini. Happiness Project of Kelimutu saya mulai pada awalnya hanyalah sebagai pengingat pribadi tentang beberapa hal yang saya pelajari. Sebuah learning record agar saya bisa tetap mengingat pelajaran-pelajaran tersebut di masa depan. Niat yang berorientasi ke diri sendiri which is, STS.

Namun perlahan saya merasa jika menulis menjadi ritual altruistik saya karena saya tidak lagi memikirkan diri saya sendiri ketika menulis. Saya ingin pembaca yang lain juga memetik pelajaran dari hal yang sudah saya pelajari. Begitu juga dengan tulisan ini. Perlahan, orientasi saya menulis pun menjadi bergeser dari untuk diri sendiri, menjadi untuk orang lain. Yang mana, pada akhirnya niat awal saya yang berangkat dari STS malah berubah menjadi STO.

Lalu bagaimana jika saya masih dominan pada salah satunya?
Tidak usah khawatir jika kalian masih dominan pada salah satunya. Saya pun merasa jika saya masih cenderung ke egois dibanding altruis (oh, ini terbukti dengan skor altruisme saya yang rendah!). Merasa bersalah? Sering!. Jika kalian lebih dominan ke STS maka kemungkinannya kalian akan merasa bersalah terhadap orang lain karena merasa kurang menolong mereka. Dan jika STO kalian lebih dominan, maka kemungkinannya kalian akan merasa bersalah ke diri sendiri setelah mengabaikan kehidupan pribadi karena terus berkutat dengan pekerjaan yang bersinggungan dengan kepentingan banyak orang.

Tapi janganlah terlalu merasa bersalah. Butuh waktu untuk menyeimbangkan egoisme dan altruisme dalam diri kita. Saya pun masih sama-sama mempelajarinya. Kalian pun tidak perlu benar-benar mengkategorikan diri kalian pada salah satunya. Yang perlu diingat adalah porsi keduanya yang tak perlu berlebihan. Tentu, saya tak perlu membahas takaran tersebut lebih lanjut karena setiap kita memiliki standarnya tersendiri. Maka dari itu, selamat belajar dan membentuk diri! (;

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s