Teruntuk

Banyak yang bilang dingin itu menyakitkan. Tapi aku tak peduli. Guyuran hujan yang menciptakan dingin itu lebih aku pedulikan karena ialah yang menyebabkan sawah-sawah menghijau. Aku lebih lebih peduli hijau dari sakit apa pun.

Tapi di tengah hijau kali ini, aku malah teringat perpisahan kemarin. Dimana aku tak menyangka sebuah genggaman yang terlepas bisa menjadi sebegitu menyakitkan. Tadinya aku berfikir jika si introvert ini pasti akan melompat kegirangan ketika ditinggal sendiri dengan segala kegaduhan di pikirannya. Tapi begitu mengingat betapa hangatnya kamar dengan tawa, tak terasa aku malah meneteskan air mata.

Aku kalah oleh kenangan. Aku kalah oleh bayangmu yang mengalun-alun ketika tak sengaja kuhirup aromamu yang malah dengan sengaja kutinggalkan. Aku lalu menggerutu. Kenapa aku bisa sebergantung ini padamu?

Aku jadi teringat, ketika kau menyembunyikan isakan disaat kau pikir aku sedang tenggelam dalam kesibukanku. Tapi maaf, aku tak sebatu itu. Aku turun menepuk bahumu yang tak kusangka malah membuat isakanmu semakin menjadi. Kali ini, ingatlah untuk jadi lebih kuat di masa depan nanti. Mungkin akan ada tangan-tangan lain yang menepuk dan meredakan tangismu nantinya. Tapi bukankah menjadi kuat itu lebih baik daripada apa pun?

Kemudian lebih dari apa pun, sehatlah selalu dengan semua keceriaanmu. Lalu jika sempat, kembalilah kemari untuk berbagi kenangan. ((:

Kaligung mas, 19 Januari 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s