Bahagia saja tidak cukup

Saya pikir kalian juga akan sepakat, jika memang sudah menjadi sifat dasar manusia bahwa ia tidak akan puas dengan sesuatu. Termasuk dengan kebahagiaannya sendiri.

Hari ini sebuah artikel menyadarkan saya bahwa kebahagiaan bisa jadi adalah hal yang paling egois yang manusia lakukan. Meskipun bukan kebahagiaan secara umum, melainkan the single-minded pursuit of happiness (meskipun saya juga tahu, kebahagiaan bukanlah sesuatu yang harus dikejar).

“Happy people get a lot of joy from receiving benefits from others while people leading meaningful lives get a lot of joy from giving to others” – Kathleen Vohs

Kathleen Vohs merupakan salah satu peneliti dari University of Minnesota. Melalui penelitiannya baru-baru ini, ia dan timnya menemukan bahwa mewujudkan sebuah kehidupan yang bahagia adalah berkaitan dengan “taker” sedangkan mewujudkan kehidupan yang bermakna lebih berkaitan dengan “giver“.

Saya kemudian jadi teringat sebuah artikel lain yang ditulis Steve Pavlina. Pada tulisan tersebut, dia menjabarkan level kesadaran manusia berdasarkan buku Power vs. Force oleh David R. Hawkins. Begini Hawkin menjabarkan pembagian level tersebut:

Shame – Hanya berbeda satu level dengan kematian. Orang-orang yang ingin bunuh diri biasanya ada di level ini.

Guilt – Level dimana seseorang merasa dia adalah seseorang yang memiliki banyak dosa dan tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Masih diatas shame, meskipun ia mungkin juga memikirkan tentang bunuh diri.

Apathy – Ini adalah level dimana seseorang merasa tidak memiliki harapan. Seseorang yang merasa tidak ada tertolong lagi.

Grief – Level yang lekat dengan kesedihan dan kehilangan. Seseorang mungkin akan jatuh pada level ini setelah kehilangan orang tercintanya.

Fear – Seseorang di level ini melihat dunia sebagai tempat yang berbahaya dan tidak aman. Ini adalah level para korban kekerasan.

Desire – Level dimana seseorang kecanduan akan uang, kekuasaan, ketenaran, dll. Ini adalah level para pecandu rokok, alkohol, maupun narkoba.

Anger – Level seseorang yang merasa frustasi karena keinginannya tidak tercapai. Level ini bisa membawa seseorang ke level yang lebih tinggi, namun juga bisa jadi membuat orang terjebak pada kebencian.

Pride – Level dimana seseorang mulai merasa bahagia, namun kebahagiaan itu masih tergantung faktor luar (uang, kemewahan, dll) sehingga ia masih rentan untuk jatuh ke level kesadaran yang lebih rendah.

Courage – Ini adalah level dimana seseorang mulai melihat kehidupan sebagai sesuatu yang menantang dan menarik. Seseorang di level ini akan melihat masa depan sebagai peningkatan dari masa lalu, daripada sesuatu yang continual.

Neutrality – Level dimana seseorang merasa rileks, fleksibel dan tidak tergantung pada suatu apa pun. Level dimana seseorang merasa aman dan bergaul dengan baik dengan banyak orang.

Willingness – Level dimana seseorang mulai berfikir untuk bekerja dengan lebih baik. Ia akan mulai memikirkan sesuatu yang tadinya tidak ia anggap penting di level sebelumnya.

Acceptance – Level dimana seseorang mulai menerima dan bertanggung jawab akan perannya di dunia. Jika sesuatu tidak berjalan baik di kehidupannya (karir, kesehatan, hubungan), ia akan bersedia untuk mengubah dirinya menjadi lebih baik. Level ini biasanya yang menyebabkan orang berfikir untuk berhenti bekerja untuk memulai berbisnis sendiri, atau yang mendorong seseorang untuk melakukan diet.

Reason – Ini adalah level Einstein dan Freud dimana seseorang akan mulai melihat sekelilingnya dan melakukan kontribusi yang berarti. Level dimana seseorang mulai menggunakan penalarannya untuk digunakan sepenuhnya.

Love – Level yang menghubungkan dirinya dengan semua mahluk. Motivasi seseorang pada level ini biasanya murni tanpa terdistraksi oleh ego. Level dimana seseorang mendedikasikan dirinya untuk kemanusiaan. Ini adalah level seseorang seperti Gandhi.

Joy – Keadaan dimana seseorang memiliki kebahagiaan yang tidak tergoyahkan. Berada didekat seseorang dengan level ini akan membuat kalian merasa luar biasa. Pada level ini seseorang tidak perlu lagi menyusun target dan rencana rinci, ia hanya akan bergantung pada intuisinya. Pengalaman mendekati kematian bisanya bisa membawa seseorang naik ke level ini.

Peace – Orang yang benar-benar cakap. Hawkin mengatakan bahwa level ini hanya bisa dicapai 1 dari 10 juta orang.

Enlightenment – Level kesadaran tertinggi dimana kemanusiaan berpadu dengan ketuhanan. Di agama saya, ini adalah level para nabi.

Berdasarkan level kesadaran tersebut, semakin tinggi level seseorang maka semakin tinggi pula kontribusinya terhadap dunia dan kemanusiaan. Kembali lagi ke topik kebahagiaan, ini membuktikan bahwa setelah mencapai level kebahagiaannya sendiri, maka seseorang akan cenderung untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi, yaitu makna dari kehidupan dan kebahagiaanya.

“Partly what we do as a human beings is to take care of others and contribute to others. This makes life meaningful but it does not necessarily make us happy” Baumeister (lead-researcher dalam penelitian Kathleen di atas)

Namun ada ironi disini. Menggunakan kemampuan kita untuk melayani sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri justru berpotensi untuk meningkatkan stress dan kegelisahan dibanding saat kita menjalani kehidupan bahagia seperti biasanya. Meskipun begitu, studi lain pada tahun 2011 menemukan bahwa seseorang yang memiliki makna di kehidupannya dalam bentuk dan tujuan yang jelas, memiliki kepuasan hidup lebih tinggi meskipun dia sedang dalam mood yang buruk dibandingkan mereka yang tidak memiliki tujuan yang jelas. Jadi menjalani kehidupan bermakna memang sedikit merusak kebahagiaan namun akan meningkatkan kepuasan hidup seseorang.

“Being human always points, and is directed, to something or someone, other than oneself — be it a meaning to fulfill or another human being to encounter. The more one forgets himself — by giving himself to a cause to serve or another person to love — the more human he is.” – Viktor Frankl (penulis Man’s Search for Meaning)

Jika kalian telah menemukan banyak kebahagiaan dari orang lain, dari senyum orang asing, dari birunya langit, dari warna-warni pelangi, dari rindangnya pepohonan, dari hijaunya sawah, sekarang apa yang telah kalian lakukan untuk mereka?

The pursuit of meaning, adalah sesuatu yang membuat manusia menjadi lebih manusiawi. Dengan menyingkirkan keegoisan dan dengan menyadari bahwa ada kehidupan yang lebih bermakna daripada sekedar mengejar kebahagiaan sederhana. (:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s