Berbahagia selagi menghadapi masalah

6974592477_37e208795c_bMinggu kemarin saya telah membahas tentang pentingnya memenuhi kebutuhan emosional dan memberikan contoh bagaimana saya biasa memenuhi kebutuhan tersebut. Namun, pembicaraan tentang kondisi emosional tidaklah lengkap tanpa membahas hal yang mempengaruhinya yaitu tingkat stres. Yang mana seperti saya sebutkan di artikel minggu kemarin bahwa  hal-hal yang mempengaruhi tingkat stres kita salah satunya adalah cara kita menangani situasi saat tidak berhasil memenuhi kebutuhan mental tersebut.

Agar lebih sederhana, situasi dimana kita tidak berhasil memenuhi kebutuhan mental selanjutnya akan kita sebut sebagai masalah. Masalah kadang menyebabkan stres saat espektasi kita akan sesuatu yang kita kira akan menimbulkan kebahagiaan malah tidak terwujud. Maka dari itu, masalah kadang membawa kita ke pemikiran bahwa hidup kita tidaklah berguna. Dan keadaan tersebutlah yang seringkali membuat kita membenci diri kita sendiri. Which is, it’s not good for our mental health.

Masalah yang menumpuk biasanya menimbulkan kecemasan berlebihan serta sangat berpotensi meningkatkan tingkat stress kita. Saat mengalami keadaan tersebut saya biasanya melakukan beberapa hal berikut ini untuk mengatasinya :

  • Membuat daftar masalah
    Saat merasakan kecemasan berlebihan, saya biasanya menulis daftar hal-hal apa saja yang membuat saya merasa cemas belakangan ini. Jadilah jujur dalam menuliskannya karena daftar inilah yang akan kita jadikan acuan untuk proses selanjutnya.
  • Mengidentifikasi dugaan penyebab
    Setelah menuliskan masalah-masalah yang saya hadapi, saya meninjau satu per satu untuk memperkirakan penyebabnya. Penyebab tersebut biasanya saya bagi 2. Yang berasal dari dalam diri saya, serta yang berasal dari luar.
  • Merencanakan beberapa solusi/cara penyelesaian
    Rencana solusi ini juga biasanya saya bagi 2. Jika penyebabnya berasal dari dalam, maka saya akan menuliskan hal-hal apa saja yang perlu saya perbaiki dan lakukan untuk mengatasi masalah tersebut. Namun ketika penyebabnya adalah faktor eksternal, biasanya saya menganalisanya lebih dulu. Adakah hal yang bisa saya lakukan untuk mempengaruhi faktor eksternal tersebut sehingga bisa meringankan masalah saya? Jika dirasa sulit mempengaruhi faktor luar tersebut maka saya biasanya mengatasinya dengan self-acceptance. Dengan memberi pengertian ke diri sendiri, bahwa hal tersebut diluar dari kemampuan saya untuk diperbaiki. Menerima bahwa masalah ini hanyalah salah satu kerikil yang menghiasi kehidupan saya. Dengan begitu, perlahan kita akan berhenti menyalahkan diri sendiri untuk sesuatu yang diluar kemampuan kita.

Manusia adakalanya membuat keputusan untuk menyelesaikan masalahnya tanpa kesadaran emosional penuh sehingga kontrol dirinya juga tidak dikuasai secara maksimal. Menulis, akan membantu kita mengatasi masalah dengan kesadaran penuh.

Kesalahan lain yang juga banyak orang lakukan ketika menghadapi masalah adalah melebih-lebihkannya. Seakan dialah yang memiliki masalah terpelik yang pernah ada. Dirinya sendiri saja sudah berpikir bahwa masalah tersebut adalah hal yang sangat sulit untuk dihadapi, sehingga malah menyalahkan takdir yang membawanya ke masalah tersebut. There you go, you let your self to be miserable.

Secara paradoks, ketika seseorang yang merasa kurang percaya diri dan merasa tidak nyaman berbicara di depan umum mulai menerima keadaannya tersebut, saat itulah ia mulai merasa nyaman saat berada dalam situasi yang ditakutkannya tersebut. Penyangkalan bukanlah hal yang membantu penyelesaian masalah. Menerima keadaan justru seringkali membuat kita lebih mudah menghadapi suatu masalah.

Kemudian, hal lain yang membuat kita merasa lebih buruk ketika menghadapi masalah adalah karena kita membandingkan diri kita dengan orang lain. Padahal, yang seharusnya kita lakukan adalah menyamakan diri kita dengan manusia lainnya. Orang lain mungkin juga sama seperti kalian, pernah diselingkuhi. Orang lain mungkin juga sama seperti kalian, memiliki masalah keluarga yang membuat mereka cemas. Temanmu mungkin juga sama, pernah merasa sangat kecewa karena gagal memenangkan suatu kejuaraan. Saat kita memiliki masalah itu berarti kita normal, sama seperti manusia lainnya.

Karena pada dasarnya, keinginan semua manusia itu sama. Kita semua ingin memiliki kehidupan yang lebih baik dengan menyelesaikan beberapa masalah yang kita miliki. Tapi janganlah berpikir jika menyelesaikan masalah adalah sebuah tujuan yang mempertemukan kita dengan kebahagiaan. Karena masalah tidaklah akan pernah memiliki titik akhir. Masalah lain akan selalu datang ketika kita baru saja berhasil menyelesaikan yang lainnya. Untuk itu, yang kita perlukan adalah sikap yang tepat dalam menghadapinya.

Dengan begitu, kita bisa tetap tersenyum bahagia selagi menghadapi masalah. (:

Bahagia dengan menjaga kesehatan mental

Tampaknya kita perlu merevisi istilah 4 sehat 5 sempurna menjadi 5 sehat 6 sempurna dengan menambahkan appresiasi dalam standar gizi pokok manusia tersebut.

Abraham Maslow, seorang psikolog ternama Amerika pernah mengatakan bahwa sampai kebutuhan dasar seorang manusia terpenuhi, manusia tidak akan bisa terlibat lebih dalam ke pertanyaan tentang makna dan spiritualitas.

Seperti yang kita tau, kebutuhan kita terdiri dari 2 yaitu kebutuhan fisik dan kebutuhan emosional. Untuk memenuhi kebutuhan fisik kita memilih makanan yang menurut kita paling sehat. Kita juga menghirup udara agar jantung kita tetap bekerja dan bahkan melakukan olah raga untuk membentuk tubuh. Tapi pertanyaannya sekarang, bagaimana kita menjaga kesehatan mental kita selama ini? Baca lebih lanjut

Berbahagia dengan mindful eating

mealMakanan adalah salah satu sumber kebahagiaan terbesar dan saya yakin banyak dari kalian yang mengiyakannya. Namun sadarkah kalian berapa dari kita yang benar-benar menghargai makanan yang kita nikmati sehari-hari?

Sejak mengenal konsep mindfulness, saya jadi sering merasa bersalah setiap kali makan sambil mengerjakan hal lain seperti memeriksa ponsel. Seakan-akan saya berselingkuh dari makanan yang saya makan dengan layar ponsel saya. Mungkin terlalu berlebihan jika dianalogikan seperti itu. Tapi saya tidak bisa menemukan perumpamaan lain yang lebih tepat dari itu. Baca lebih lanjut

#Wikufest4 dalam 200 kata

Saya nggak berpikir panjang ketika ditawari mbak @rara79 buat ikutan ngisi acara wikufest tahun ini. Meskipun sempat harus reschedule tiket kereta karena jadwal seminar KP yang mendadak tapi wikufest memang worth untuk itu semua.

Saya kebagian mengisi 2 kelas waktu itu. Ngenalin tentang Support Mozilla. The crowd was, amazing! Mereka bahkan nggak segan-segan ke depan kelas buat nyoba nerjemahin artikel bantuan Firefox.

IMG_0192DSC02687B8vYvMPCYAEENWY.jpg:largeSalut lah sama alumni SMK Telkom Malang yang ngadain ini semua. Saya jadi gatel pengen bikin acara ginian juga di SMK Telkom Purwokerto.

Dan seperti saya jatuh cinta sama kota Bandung, kali ini saya juga nggak bisa menolak pesona kota Malang untuk dijadikan salah satu kota favorit. And you know, when I say favorite city, it means the weather! ^^

After Party

And here comes the meatball party. Kelar wikufest kita (tim Mozilla) langsung berburu bakso dong. photo_2015-02-04_06-54-35

Dan tanpa banyak persiapan (saya doang sih yang nggak banyak persiapan sebenernya :D), malemnya setelah wikufest, kita berlima (saya, mbak rara, mbak Dria, mas Arief + istri – mbak Pika) main-main ke Bromo dong.

IMG_1210

ketemu pemandangan mirip wallpaper Windows xp dong 😄

DSC02793DSC02838photo_2015-02-02_14-11-33Well, I totally have a blast. Thank you #Wikufest4 & Malang.. ((:

Image credit : me, @rara79, @nurikidy, @oinkdenguik

Berbahagia dengan keyakinan

Minggu lalu saya menemukan salah satu teman kos saya sedang mengerjakan tugas sambil menangis. Yang mana setelah saya tanya penyebabnya dia berkata bahwa dia sangat lelah mengerjakan tugasnya tapi tugas tersebut tak kunjung selesai juga. But such a jerk, setelah membantunya saya malah membandingkan dengan diri saya yang (seingat saya) tak pernah sekalipun menangis karena tugas sekolah atau kuliah. Lalu menyuruhnya untuk jangan menghabiskan air matanya untuk hal seperti itu lagi.

Tapi kejadian itu rupanya membekas di otak saya untuk beberapa hari. Saya jadi malah bingung mengapa sesuatu yang orang lain anggap “big deal” malah kadang saya anggap remeh. Namun sebaliknya, ketika orang lain menganggap remeh sesuatu, saya malah menganggapnya berarti. Is it a matter of measurement?

Apakah itu hanya perbedaan standar saja? Standar dimana orang lain menganggap skala dari 0-10 itu termasuk remeh, namun ada juga orang lain yang menganggap skala 0-25 lah yang remeh baginya. Namun saya tak puas dengan jawaban itu. Karena jika begitu, itu berarti skala saya teracak-acak dong?

Lalu saya teringat pada cerita teman lain yang mengatakan salah satu ketakutan terbesarnya adalah jika ia tidak bisa lebih sukses dari orang tuanya. Dia berfikir jika orang tuanya yang notabene lulusan setingkat SMA saja bisa memberikan pendidikan yang layak bagi dia, namun bagaimana jika akhirnya ia tidak bisa lebih sukses dari orang tuanya kelak? Hal itu pun sempat menyentak pikiran saya. Saya yang notabene memiliki keadaan yang mirip, kenapa tak pernah terpikir tentang hal itu sekalipun?

Akhirnya saya tiba pada satu kesimpulan. Belief. Keyakinan.

You’re the master of your fate, the captain of your soul.

Semua orang dengan atau tanpa kesadaran, sebenarnya memilih apa yang ia yakini/percayai. Dan hal yang kita yakini itulah, yang akan mempengaruhi keputusan/kesan kita terhadap suatu hal. Dan keyakinan itu pulalah yang memperngaruhi penilaian benar/salah terhadap suatu hal.

Lalu memang kenapa? Bukankah kita bebas memilih apa yang kita yakini?

Tentu, boleh saja kita mempercayai apa saja yang ingin kita percaya. Kita boleh saja punya kepercayaan bahwa hidup untuk makan atau makan untuk hidup. Sah-sah saja memiliki suatu keyakinan/kepercayaan. Namun yang banyak orang tidak sadar adalah, tidak semua keyakinan itu baik untuk dirinya. Terkadang ada beberapa keyakinan yang malah menyakiti diri kita.

Dunia psikologi menyebutnya confirmation bias. Confirmation bias adalah kecenderungan manusia untuk menyadari fenomena yang mendukung hal-hal yang dia percayai sebelumnya. Contohnya, jika seseorang percaya kalau Jakarta adalah kota yang kejam, maka ia akan lebih cenderung menyadari hal-hal buruk yang dia alami di Jakarta dan mengabaikan hal-hal lainnya yang baik. Dan dia bukannya secara sadar memiliki pemikiran itu. Preferensi untuk menyadari hal-hal buruk itu adalah hasil dari kepercayaannya bahwa Jakarta adalah kota yang kejam.

Seseorang yang percaya jika penampilannya buruk, hanya akan menyadari orang-orang yang memandang negatif terhadap penampilannya, tanpa menyadari orang-orang yang memiliki kesan positif terhadap penampilannya. Seseorang yang percaya jika dirinya bodoh, hanya akan menyadari saat-saat dia membuat kesalahan dan mengabaikan saat-saat dia berhasil. Saya jadi teringat kata-kata Mark Manson dalam salah satu bukunya.

“It doesn’t matter whether a belief is true or not; what matters is whether it’s helpful.”

Yang terpenting adalah, percayalah pada hal-hal yang membawa pengaruh positif dalam hidup kita. Jika kepercayaan kalau diri kita ini jelek dan bodoh malah menyakiti diri kita sendiri, maka hindarilah kepercayaan itu. Kepercayaan seperti itu tidak membantu kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Karena saat ada pilihan untuk percaya pada kebahagiaan kenapa kita harus memilih percaya pada hal-hal yang merusak kebahagiaan kita? (: