Berbahagia dengan mindful eating

mealMakanan adalah salah satu sumber kebahagiaan terbesar dan saya yakin banyak dari kalian yang mengiyakannya. Namun sadarkah kalian berapa dari kita yang benar-benar menghargai makanan yang kita nikmati sehari-hari?

Sejak mengenal konsep mindfulness, saya jadi sering merasa bersalah setiap kali makan sambil mengerjakan hal lain seperti memeriksa ponsel. Seakan-akan saya berselingkuh dari makanan yang saya makan dengan layar ponsel saya. Mungkin terlalu berlebihan jika dianalogikan seperti itu. Tapi saya tidak bisa menemukan perumpamaan lain yang lebih tepat dari itu.

Makanan, bukan hanya pemuas nafsu makan kita. Bayangkan jika pak Bondan makan sambil membalas pesan di ponselnya. Apakah ia bisa mendeskripsikan kelezatan makanan yang dia coba dengan begitu detil? Seperti halnya jika kalian membaca tulisan ini sambil sesekali memeriksa lini-masa di twitter, bisakah kalian menangkap pesan dari tulisan ini sepenuhnya?

Untuk mendapatkan kenikmatan maksimal dari makanan kita, kita perlu menerapkan mindful eating. Makan dengan penuh kesadaran mengapa kita makan makanan tersebut dan rasa apa yang timbul ketika kita memakan/mengunyah makanan tersebut. Mindful eating juga akan mempermudah kita untuk mensyukuri makanan yang kita nikmati.

Mungkin beberapa orang akan protes. “Jadinya kan nggak efisien waktu..”

Mungkin memang merepotkan untuk melakukan itu semua. Saya juga tidak menyarankan kalian untuk mempraktikan mindful eating setiap saat (sama seperti saya yang juga masih mempelajarinya). Namun cobalah sesekali untuk tidak melakukan kegiatan lain ketika kita makan. Karena ketika kita benar-benar sadar akan kenikmatan makanan yang kita makan, maka tidak akan ada lagi (atau setidaknya berkuranglah) makanan yang kita buang dengan sia-sia. Selain itu, tidak akan ada lagi rasa bersalah setelah makan berlebihan karena kita benar-benar sadar seberapa banyak makanan yang kita makan.

Selain itu, makanan juga sebenarnya mengajarkan kita banyak hal. Termasuk salah satunya adalah pelajaran untuk berbagi kebahagiaan. Berbagi makanan yang kita makan adalah salah satu bentuk berbagi kebahagiaan. Coba ingat-ingat, berapa banyak senyum yang kalian hasilkan setelah berbagi makanan?

Karena jika kalian setuju makanan adalah salah satu sumber kebahagiaan terbesar manusia, mengapa kita tidak menghargainya dengan lebih?

4 thoughts on “Berbahagia dengan mindful eating

  1. “merasakan” makanan bukannya pake lidah mbak?
    kalo makan sambil penuh kesadaran seperti yg disarankan ntar jadinya sampe di itung berapa glukosa yg dimakan dikali protein dan kalori jadinya lemak eh malah gak jadi makan :p *ini ngeyel*

    • emang bener sih, buat ngerasain makanan kan memang pake lidah. tapi buat tau rasa makanan yang lidah lagi rasain kan kita butuh otak. Kalo otak kita sibuk sama kegiatan lain, kita nggak bakal dapetin the most of our food. right?
      Dan nggak perlu sampe diitung nutrisinya juga sih ya. ribet banget! aku yo males nek sampe gitu. haha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s