Bahagia dengan menjaga kesehatan mental

Tampaknya kita perlu merevisi istilah 4 sehat 5 sempurna menjadi 5 sehat 6 sempurna dengan menambahkan appresiasi dalam standar gizi pokok manusia tersebut.

Abraham Maslow, seorang psikolog ternama Amerika pernah mengatakan bahwa sampai kebutuhan dasar seorang manusia terpenuhi, manusia tidak akan bisa terlibat lebih dalam ke pertanyaan tentang makna dan spiritualitas.

Seperti yang kita tau, kebutuhan kita terdiri dari 2 yaitu kebutuhan fisik dan kebutuhan emosional. Untuk memenuhi kebutuhan fisik kita memilih makanan yang menurut kita paling sehat. Kita juga menghirup udara agar jantung kita tetap bekerja dan bahkan melakukan olah raga untuk membentuk tubuh. Tapi pertanyaannya sekarang, bagaimana kita menjaga kesehatan mental kita selama ini?

For our body, we need food. Now what we need for our mentality?

Seorang terapis yang menggunakan pendekatan kreatif dalam membangun self-awareness bernama Laura Trince pernah mengatakan dalam sebuah video TED tentang pentingnya pujian, rasa kagum, dan terimakasih. Lebih jauh lagi, ia bahkan mengatakan jika sah-sah saja untuk meminta ungkapan apresiasi tersebut dari orang-orang di sekeliling kita karena kita memang memerlukannya. Dan kitalah yang bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Namun benarkah hanya apresiasi yang kita butuhkan?

Sebuah situs yang dikelola oleh beberapa ahli psikiatris di UK menyebut kebutuhan-kebutuhan tersebut sebagai “human givens”. Dan secara tak sadar, kita semua berusaha memenuhi kebutuhan tersebut dengan cara kita masing-masing dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

Lebih jauh situs tersebut menerangkan bahwa kebutuhan emosional manusia terdiri dari 9 hal yaitu rasa aman, perhatian, otonomi dan kontrol, keintiman secara emosional, perasaan bahwa seseorang adalah bagian dari masyarakat yang lebih luas, privasi, status sosial, kompetensi dan pencapaian, serta makna dan tujuan.

Saat kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, maka kita akan rentan terhadap berbagai macam penyakit mental seperti stress, kegelisahan, amarah, depresi, dll. Seberapa berhasil kita memenuhi kebutuhan emosional tersebut dan cara kita menangani situasi jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi adalah hal-hal yang mempengaruhi tingkat stress kita.

The deepest principle in human nature is the craving to be appreciated. — William James

William James, seorang filsuf dan psikiater ternama dari Amerika pernah berkata bahwa prinsip terdalam dari sifat manusia adalah dambaan untuk diapresiasi. Namun lebih jauh dari apresiasi, yang dibutuhkan oleh manusia pada dasarnya adalah perasaan bahwa ia penting untuk berada di dunia ini.  The desire for a feeling of importance. Maka dari itu, apresiasi merupakan salah satu hal yang dibutuhkan manusia untuk mendapatkan perasaan bahwa keberadaannya di dunia ini adalah penting.

Baru-baru ini saya membaca sebuah kisah dari sebuah buku. Penulis buku tersebut bertanya pada seorang psikiater tentang penyebab seseorang menjadi gila. Sang psikiater menjawab bahwa tidak ada seorang pun tau penyebabnya secara pasti. Tapi ia melihat banyak pasiennya yang menemukan perasaan bahwa keberadaannya di dunia ini berarti melalui penyakit mental yang dialaminya. Yang mana hal tersebutlah yang justru tidak mereka dapatkan di kehidupan nyata. Kemudian sang psikiater bercerita:

“Saya memiliki seorang pasien yang menganggap pernikahannya adalah sebuah tragedi. Dia menginginkan cinta, kepuasan seksual, anak, dan status sosial, tapi kenyataan memupuskan semua harapannya. Suaminya tidak mencintainya. Dia bahkan menolak untuk makan bersama dan memaksa sang istri untuk mengantar makanannya ke kamarnya. Mereka tidak memiliki anak, dan tidak memiliki kedudukan sosial. Lalu suatu hari sang istri menjadi gila. Ia berimajinasi bahwa ia telah bercerai dari suaminya. Dia lalu beranggapan bahwa dia telah menikah dengan seorang aristokrat, dan bersikeras untuk dipanggil Lady Smith. Dia juga menganggap dirinya memiliki seorang anak baru, setiap malam.”

Semua hal yang wanita tersebut inginkan adalah sesuatu yang membuatnya merasa penting ada di dunia ini. Dan ketika kenyataan tidak memenuhi hal tersebut, ia pun menjadi gila.

Lalu bagaimana untuk menimbulkan perasaan bahwa keberadaan kita dibutuhkan di dunia ini? Di bawah ini beberapa hal yang biasa saya lakukan untuk mendapatkan perasaan tersebut:

• Mengembangkan passion
Bagi saya passion ibarat sebuah wake up call yang setiap hari membuat saya bersemangat untuk bangun. Dengan menekuni hal yang kita sukai, maka most likely kita akan lebih bersemangat menjalani kehidupan.

• Memperhatikan orang-orang tersayang
Dengan percaya bahwa keberadaan kita di dunia ini berpengaruh bagi orang-orang terdekat, kita akan lebih bersungguh-sungguh dalam menjalani kehidupan.

• Menjelajah
Traveling adalah salah satu waktu terfavorit saya. Setiap melihat beragam keindahan alam ketika traveling, saya senantiasa bergumam pada diri sendiri “Inget ki, ketika nanti kamu mengalami keadaan seburuk apapun, alam akan selalu punya hal indah untuk disyukuri.” Don’t live with regret, live with excitement!

Let’s face the fact. Kita semua pernah mengalami sakit secara mental. Tapi yang membuat miris adalah bagaimana luka mental tidak pernah bisa terlihat secara kasat mata sehingga saat luka tersebut semakin parah orang lain tidak akan pernah bisa menolongnya. Maka diri kita sendiri lah yang bertanggung jawab untuk menyembuhkan itu semua.

Karena untuk menikmati kebahagian yang seutuhnya, kita perlu menjadi sehat secara fisik juga mental. (:

2 thoughts on “Bahagia dengan menjaga kesehatan mental

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s